Berita Hindu Indonesia

Berita Hindu Indonesia

Media Informasi Terkini Masyarakat Hindu Indonesia

Deskripsi-Gambar

Iklan Leo Shop

Pasang iklan disini

TWITTER

Powered by Blogger.
Parashurama Awatara: Sang Brahmana Pejuang Penegak Dharma

On 8:30 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Dalam ajaran Hindu, Dewa Wisnu menjelma ke dunia dalam berbagai awatara untuk menjaga keseimbangan alam semesta. Salah satu awatara yang unik adalah Parashurama Awatara (sering juga disebut Parasurama), yaitu sosok brahmana sekaligus ksatria yang membawa kapak (parashu).

Ilustrasi

Latar Belakang Parashurama Awatara

Parashurama lahir sebagai putra dari resi Jamadagni dan istrinya Renuka. dikenal sebagai brahmana yang memiliki kemampuan tempur luar biasa.

Pada masa itu, banyak raja dari golongan ksatria (kshatriya) menjadi lalim dan menyalahgunakan kekuasaan. Salah satu raja yang terkenal kejam adalah Kartavirya Arjuna.

Ketika Kartavirya Arjuna membunuh ayah Parashurama, kemarahan besar muncul. Dari sinilah misi Parashurama dimulai.

Misi Penegakan Dharma

Parashurama bersumpah untuk menghancurkan para ksatria yang telah menyimpang dari dharma. Dalam beberapa kisah disebutkan bahwa ia menaklukkan golongan ksatria hingga 21 kali.

Namun, tujuan utamanya bukan balas dendam semata, melainkan:

  • Mengembalikan keseimbangan sosial
  • Menegakkan dharma
  • Menghentikan kesewenang-wenangan penguasa

Sifat dan Keunikan Parashurama

Parashurama memiliki karakter yang berbeda dari awatara lainnya:

  1. Brahmana yang bertindak sebagai ksatria
  2. Simbol keadilan keras (tegas terhadap adharma)
  3. Guru para ksatria besar, termasuk dalam kisah epos seperti Mahabharata

juga dikenal sebagai salah satu awatara yang masih hidup (Chiranjivi) dalam kepercayaan tertentu.

Makna Filosofis Parashurama Awatara

Kisah ini mengandung ajaran penting:

  • Keseimbangan kekuasaan: Tidak boleh ada golongan yang menyalahgunakan kekuatan
  • Dharma di atas segalanya: Bahkan seorang brahmana bisa bertindak tegas demi kebenaran
  • Pengendalian amarah: Kekuatan harus digunakan dengan tujuan benar, bukan ego

Kesimpulan

Parashurama Awatara mengajarkan bahwa kekuatan harus digunakan untuk menegakkan kebenaran, bukan untuk menindas. menjadi simbol bahwa dharma harus dijaga, bahkan jika itu menuntut ketegasan dan pengorbanan besar.


Sumber 

Mahabharata Menyebut Parashurama sebagai guru dan tokoh penting dalam kisah ksatria.

Ramayana Mengisahkan pertemuan Parashurama dengan Rama (awatara Wisnu berikutnya).

Vishnu Purana Menjelaskan latar belakang dan misi Parashurama.

Bhagavata Purana Menguraikan kisah awatara Wisnu termasuk Parashurama secara filosofis.


Narasimha Awatara: Kemunculan Sang Pelindung Dharma

On 2:30 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia -  Dalam ajaran Hindu, Dewa Wisnu dikenal sebagai pemelihara alam semesta yang turun ke dunia melalui berbagai awatara. Salah satu penjelmaan yang paling dramatis adalah Narasimha Awatara, wujud setengah manusia dan setengah singa.

ilustrasi

Latar Belakang Narasimha Awatara

Kisah ini berawal dari raja raksasa yang sangat kuat bernama Hiranyakashipu. memperoleh anugerah dari Dewa Brahma sehingga hampir tidak bisa dibunuh:

  1. Tidak bisa dibunuh manusia atau binatang
  2. Tidak siang atau malam
  3. Tidak di dalam atau di luar rumah
  4. Tidak dengan senjata

Karena kesaktiannya, menjadi sombong dan melarang semua orang menyembah Wisnu.

Namun, putranya sendiri yaitu Prahlada tetap setia memuja Wisnu. Hal ini membuat Hiranyakashipu sangat marah dan berulang kali mencoba membunuh anaknya, tetapi selalu gagal karena perlindungan ilahi.

Kemunculan Narasimha

Suatu hari, Hiranyakashipu menantang Prahlada: “Di mana Wisnu itu?”

Prahlada menjawab: “Beliau ada di mana-mana.”

Dengan marah, Hiranyakashipu memukul pilar istana. Dari dalam pilar tersebut, muncullah Narasimhawujud unik yang tidak sepenuhnya manusia maupun hewan.

Pembunuhan Hiranyakashipu

Narasimha membunuh Hiranyakashipu dengan cara yang tidak melanggar anugerah Brahma:

  • Dilakukan saat senja (bukan siang atau malam)
  • Di ambang pintu (bukan di dalam atau di luar)
  • Menggunakan cakar (bukan senjata)
  • Dalam wujud setengah manusia setengah singa

Peristiwa ini menjadi simbol bahwa kebenaran (dharma) akan selalu menang atas kejahatan (adharma).

Makna Filosofis Narasimha Awatara

Kisah Narasimha memiliki pesan mendalam:

  1. Perlindungan terhadap bhakta: Tuhan selalu melindungi umat yang tulus seperti Prahlada
  2. Keadilan ilahi: Kejahatan, sekuat apa pun, pasti akan runtuh
  3. Kehadiran Tuhan di mana saja: Wisnu tidak terbatas oleh ruang dan waktu

Kesimpulan

Narasimha Awatara adalah simbol kekuatan Tuhan yang melampaui logika manusia. Kisah ini mengajarkan bahwa iman yang teguh, seperti yang dimiliki Prahlada, akan selalu mendapatkan perlindungan ilahi.


Sumber 

Bhagavata Purana Canto 7, fokus pada kisah Prahlada dan Narasimha.

Vishnu Purana Menjelaskan awatara Wisnu termasuk Narasimha secara sistematis.

Srimad Bhagavatam Versi populer dari Bhagavata Purana dengan penjabaran detail kisah ini.

The Ten Avatars of Vishnu – oleh Swami Tapasyananda


Varaha Awatara: Kisah Penyelamatan Bumi oleh Dewa Wisnu

On 10:00 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Dalam ajaran Hindu, dikenal konsep Dasawatar, yaitu sepuluh penjelmaan dari Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam semesta. Salah satu awatara yang sangat penting adalah Varaha Awatara, penjelmaan Wisnu dalam wujud babi hutan raksasa.

ilustrasi

Latar Belakang Munculnya Varaha Awatara

Pada zaman dahulu, terjadi kekacauan kosmis ketika raksasa bernama Hiranyaksha menculik dan menenggelamkan Bumi (Bhudevi) ke dalam lautan kosmik. Akibatnya, keseimbangan alam semesta terganggu dan kehidupan terancam punah.

Para dewa kemudian memohon pertolongan kepada Dewa Wisnu untuk menyelamatkan bumi.

Perwujudan Varaha

Menanggapi permohonan tersebut, Wisnu menjelma menjadi Varaha, seekor babi hutan raksasa yang sangat kuat. Dengan kekuatan luar biasa, Varaha menyelam ke dasar samudra kosmik untuk mencari dan mengangkat Bumi.

Pertarungan dengan Hiranyaksha

Di dasar samudra, Varaha bertemu dengan Hiranyaksha dan terjadi pertempuran dahsyat. Setelah pertarungan panjang, akhirnya Varaha berhasil mengalahkan raksasa tersebut.

Dengan taringnya, Varaha mengangkat Bumi keluar dari lautan dan mengembalikannya ke posisi semula di alam semesta.

Makna Filosofis Varaha Awatara

  1. Kisah Varaha tidak hanya sekadar cerita mitologi, tetapi mengandung makna mendalam:
  2. Simbol penyelamatan: Wisnu sebagai pelindung yang selalu menjaga keseimbangan dunia.
  3. Kemenangan dharma atas adharma: Kebaikan selalu mengalahkan kejahatan.
  4. Hubungan manusia dengan alam: Bumi harus dijaga dan dihormati sebagai sumber kehidupan.

Kesimpulan

Varaha Awatara menunjukkan bahwa dalam setiap krisis besar, kekuatan dharma akan selalu hadir untuk memulihkan keseimbangan. Kisah ini relevan hingga saat ini, terutama dalam mengingatkan manusia untuk menjaga bumi dan hidup selaras dengan alam.


Sumber Buku 

Bhagavata Purana Canto 3, menjelaskan secara rinci kisah Varaha dan penciptaan alam semesta.

Vishnu Purana Memuat kisah awatara Wisnu termasuk Varaha dalam konteks kosmologi Hindu.

Srimad Bhagavatam Salah satu teks utama yang menguraikan kisah Varaha secara naratif dan filosofis.

The Ten Avatars of Vishnu – oleh Swami Tapasyananda Buku modern yang menjelaskan Dasawatar termasuk Varaha dengan pendekatan teologis.


Kurma Awatara: Sang Kura-Kura Penyangga Alam Semesta

On 3:30 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Kurma Awatara muncul pada masa Satyayuga (Zaman Kebenaran). Jika Matsya Awatara adalah penyelamat dalam wujud ikan, Kurma adalah perwujudan kura-kura raksasa yang menjadi fondasi stabilitas saat dunia kehilangan kekuatannya.

Latar Belakang: Samudra Manthana

Kisah ini bermula ketika para Dewa (Deva) kehilangan kekuatan dan keabadian mereka akibat kutukan Resi Durvasa. Untuk mendapatkan kembali kekuatan tersebut, mereka harus mendapatkan Amrita (nektar keabadian) yang tersembunyi di dasar Samudra Ksirarnava (Samudra Susu).

Karena tugas ini terlalu berat, para Dewa bekerja sama dengan para raksasa (Asura) untuk mengaduk samudra tersebut.

Peran Penting Sri Vishnu sebagai Kurma

Untuk mengaduk samudra, mereka menggunakan:

  • Gunung Mandara sebagai tongkat pengaduk.

  • Ular Vasuki sebagai tali penarik.

Namun, saat pengadukan dimulai, Gunung Mandara yang sangat berat mulai tenggelam ke dalam dasar samudra yang berlumpur. Tanpa landasan yang kokoh, upaya tersebut akan gagal. Pada titik inilah Sri Vishnu menjelma menjadi Kurma (kura-kura raksasa) dan masuk ke dasar samudra untuk menyangga Gunung Mandara di atas tempurungnya yang sangat kuat.

"Dengan punggungnya yang luas dan keras, Kurma Awatara menahan beban Gunung Mandara, membiarkan para Dewa dan Asura terus mengaduk samudra tanpa hambatan."

Hasil dari Pengadukan Samudra

Berkat stabilitas yang diberikan oleh Kurma, berbagai harta karun muncul dari samudra, antara lain:

  1. Dewi Lakshmi: Dewi keberuntungan dan kemakmuran.
  2. Dhanvantari: Dewa pengobatan yang membawa kendi berisi Amrita.
  3. Airavata: Gajah putih suci.
  4. Halahala: Racun mematikan yang kemudian diminum oleh Dewa Shiva demi menyelamatkan dunia.

Makna Simbolis Kurma Awatara

  • Stabilitas Spiritual: Mengajarkan bahwa dalam pencarian spiritual (pengadukan pikiran/samudra), seseorang membutuhkan landasan yang kokoh dan kesabaran seperti kura-kura.
  • Pengendalian Diri: Kura-kura yang menarik anggota tubuhnya ke dalam tempurung melambangkan seorang yogi yang menarik indranya dari objek duniawi.
  • Keseimbangan: Menunjukkan bahwa kemajuan (Amrita) hanya bisa dicapai melalui keseimbangan antara kekuatan yang berlawanan (Dewa dan Asura) dengan Tuhan sebagai pusat penyangganya.

Sumber 

Kisah Kurma Awatara diabadikan dalam teks-teks berikut:

Srimad Bhagavatam (Bhagavata Purana): Skanda 8, Bab 5-11.

Vishnu Purana: Bagian 1, Bab 9.

Ramayana (Balakanda): Disebutkan saat menceritakan silsilah dan keagungan para Dewa.

Kurma Purana: Salah satu dari 18 Purana utama yang mengandung ajaran filosofis dari perspektif Kurma Awatara.


Youtube



Matsya Awatara: Penyelamat Kehidupan dan Penjaga Dharma

On 12:29 PM with No comments

Berita Hindu IndonesiaDalam kosmologi Hindu, waktu dipandang sebagai siklus yang berulang. Ketika sebuah siklus dunia (Kalpa) mendekati akhirnya dan kehancuran besar (Pralaya) mengancam seluruh makhluk hidup, Dewa Vishnu turun ke dunia untuk menjaga keberlangsungan alam semesta. Manifestasi pertama dari sepuluh awatara utama (Dashawatara) ini adalah Matsya Awatara, sang ikan raksasa.

Asal-Usul dan Tujuan Turunnya Matsya

Matsya Awatara muncul pada masa transisi antara Satyayuga dan Tretayuga. Tujuan utamanya adalah untuk:

  1. Menyelamatkan Raja Satyavrata (Raja Manu) yang bijaksana agar dapat memimpin umat manusia di siklus berikutnya.
  2. Menjaga benih-benih kehidupan (tumbuh-tumbuhan dan hewan) dari bencana banjir bandang.
  3. Merebut kembali Kitab Suci Weda yang dicuri oleh raksasa bernama Hayagriva saat Dewa Brahma tertidur.

Kisah Pertemuan Raja Manu dan Sang Ikan

Kisah bermula ketika Raja Manu sedang melakukan ritual persembahan air di sungai. Seekor ikan kecil melompat ke tangannya dan memohon perlindungan dari ikan-ikan besar yang ingin memangsanya.

Raja Manu yang welas asih menaruh ikan itu di sebuah kendi. Namun, ikan tersebut tumbuh dengan kecepatan luar biasa. Dari kendi, ia dipindahkan ke kolam, lalu ke sungai, dan akhirnya ke samudra luas. Menyadari bahwa ini bukanlah ikan biasa, Raja Manu bersujud dan memohon sang ikan menunjukkan jati dirinya. Vishnu pun menampakkan diri dan memperingatkan Manu bahwa dalam tujuh hari, banjir besar akan menenggelamkan bumi.

Penyelamatan Selama Pralaya (Banjir Besar)

Sesuai instruksi Vishnu, Manu membangun sebuah kapal besar. Ia membawa serta tujuh resi agung (Saptarsi), benih dari segala jenis tanaman, dan pasangan dari setiap spesies hewan.

Saat banjir melanda, Matsya muncul dengan wujud ikan raksasa bertanduk. Raja Manu mengikat kapal tersebut ke tanduk sang ikan menggunakan ular suci Vasuki sebagai tali. Matsya kemudian menarik kapal tersebut melewati badai dan air bah menuju tempat yang aman di puncak Gunung Himavan. Selama perjalanan, Matsya memberikan wejangan spiritual yang kemudian dikenal sebagai Matsya Purana.

Makna Simbolis Matsya Awatara

  • Adaptasi dan Evolusi: Secara ilmiah, kehidupan dimulai dari air. Matsya sebagai awatara pertama melambangkan tahap awal evolusi kehidupan.
  • Perlindungan Dharma: Menggambarkan bahwa Tuhan selalu hadir untuk melindungi mereka yang taat pada kebenaran (Dharma) di tengah kekacauan.
  • Kelestarian Pengetahuan: Pengembalian kitab Weda melambangkan pentingnya menjaga ilmu pengetahuan suci agar tidak punah ditelan kebodohan (raksasa Hayagriva).

Sumber 

Narasi mengenai Matsya Awatara dapat ditemukan dalam berbagai kitab suci Hindu, antara lain:

Srimad Bhagavatam (Bhagavata Purana): Terutama pada Skanda 8, Bab 24 yang merinci dialog antara Vishnu dan Raja Satyavrata.

Matsya Purana: Salah satu dari 18 Mahapurana yang secara khusus membahas ajaran dan sejarah terkait awatara ini.

Mahabharata (Vana Parva): Resi Markandeya menceritakan kisah ini kepada Pandawa sebagai pengingat akan keagungan Vishnu.

Satapatha Brahmana: Salah satu teks suci kuno yang pertama kali mencatat legenda banjir besar dan ikan penyelamat.


Youtube



 Hari Melasti dan Pegiyesan Segara: Ritual Penyucian Laut dalam Tradisi Hindu Bali

On 10:49 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Upacara Melasti: Penyucian Diri Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, umat Hindu di Bali melaksanakan salah satu rangkaian upacara penting yaitu Upacara Melasti. Ritual ini biasanya dilaksanakan beberapa hari sebelum Nyepi dengan tujuan menyucikan diri, alam semesta, serta benda-benda sakral milik pura.

Dalam pelaksanaannya, umat Hindu membawa pratima, arca suci, serta berbagai simbol keagamaan dari pura menuju sumber air suci seperti pantai, danau, atau mata air. Air laut dipandang sebagai simbol Tirta Amerta atau air kehidupan yang mampu membersihkan segala kotoran lahir dan batin.

Ritual ini tidak hanya dimaknai sebagai penyucian secara fisik, tetapi juga sebagai pembersihan unsur sekala dan niskala (dunia nyata dan spiritual). Dengan demikian, umat Hindu memohon agar kehidupan menjadi harmonis serta perayaan Nyepi dapat berlangsung dengan damai dan suci.

Prosesi Melasti biasanya diiringi dengan gamelan, payung suci, serta barisan umat yang mengenakan pakaian adat Bali. Pemandangan ini menjadi salah satu tradisi spiritual yang paling sakral sekaligus indah dalam budaya Bali.


Pegiyesan Segara: Tradisi Menjaga Kesucian Laut

Selain Melasti, beberapa daerah di Bali juga mengenal tradisi yang berkaitan dengan laut, salah satunya Pegiyesan Segara. Dalam tradisi masyarakat pesisir, laut atau segara dianggap sebagai sumber kehidupan sekaligus ruang suci yang harus dijaga kesuciannya.

Pegiyesan Segara biasanya berkaitan dengan ritual penghormatan kepada penguasa laut serta ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap hasil laut. Tradisi ini memiliki tujuan menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam, terutama wilayah pesisir.

Dalam berbagai tradisi masyarakat Bali, laut dipandang sebagai tempat penyucian dan pusat kekuatan alam. Oleh karena itu, berbagai ritual seperti Melasti, Nyepi Segara, atau tradisi laut lainnya dilakukan untuk menjaga kelestarian alam sekaligus memohon keselamatan bagi masyarakat pesisir.

Makna Filosofis Tradisi Laut di Bali

Ritual Melasti maupun Pegiyesan Segara mencerminkan filosofi penting dalam kehidupan masyarakat Bali, yaitu menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Nilai ini dikenal dalam konsep Tri Hita Karana, yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.

Melalui tradisi tersebut, masyarakat Bali tidak hanya melestarikan budaya leluhur, tetapi juga menanamkan kesadaran spiritual bahwa alam harus dihormati dan dijaga sebagai bagian dari kehidupan.

Sumber:
ANTARA News – Mengenal Upacara Melasti menjelang Nyepi.
ANTARA Foto – Dokumentasi ritual Melasti di Bali.
Discover Bali Indonesia – Penjelasan tentang Melasti sebagai ritual penyucian.
Ceraken Bali Prov – Tradisi ritual laut dan Nyepi Segara.

Tumpek Wayang: Hari Menghadapi Bayangan Diri dan Karma Halus dalam Tradisi Bali

On 10:06 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Di tengah kekayaan tradisi spiritual masyarakat Bali, terdapat satu hari suci yang sarat makna refleksi batin, yaitu Tumpek Wayang. Hari raya ini diperingati setiap Saniscara Kliwon Wuku Wayang dalam kalender Bali dan memiliki makna mendalam terkait kelahiran, karma, serta perjalanan spiritual manusia.

Bagi masyarakat Bali, Tumpek Wayang bukan sekadar hari suci biasa. Hari ini dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk melakukan penyucian diri, khususnya bagi mereka yang lahir pada wuku Wayang. Menurut tradisi, kelahiran pada wuku ini diyakini memiliki kaitan dengan energi spiritual tertentu yang perlu diselaraskan melalui upacara khusus.


Tradisi Sapuh Leger: Penyucian Kelahiran Wuku Wayang

Salah satu ritual penting yang dilakukan pada hari ini adalah Sapuh Leger. Upacara ini biasanya ditujukan kepada anak-anak atau orang yang lahir pada Wuku Wayang. Dalam kepercayaan masyarakat Bali, ritual ini bertujuan membersihkan pengaruh negatif yang dipercaya dapat mengikuti kelahiran tersebut.

Upacara Sapuh Leger sering kali melibatkan pertunjukan wayang kulit yang sarat simbol spiritual. Pertunjukan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana ritual untuk menetralkan energi negatif.

Tokoh yang sering dikaitkan dalam kisah ritual ini adalah Bhatara Kala, sosok mitologis yang dipercaya memiliki keterkaitan dengan kelahiran pada Wuku Wayang. Dalam cerita pewayangan, Bhatara Kala digambarkan sebagai kekuatan alam yang harus diselaraskan melalui ritual agar manusia dapat hidup selaras dengan hukum karma.

Wayang sebagai Simbol Bayangan Diri

Pada hari Tumpek Wayang, seni Wayang Kulit juga mendapat penghormatan khusus. Wayang tidak hanya dipandang sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai simbol filosofi kehidupan.

Bayangan wayang yang dipantulkan di layar melambangkan sisi dalam diri manusia bagian yang sering tersembunyi, seperti ego, keinginan, dan karma masa lalu. Melalui simbol tersebut, Tumpek Wayang mengajak manusia untuk berani melihat dan memahami “bayangan dirinya sendiri”.

Refleksi ini sejalan dengan ajaran dalam Hindu Dharma yang menekankan keseimbangan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Momentum Introspeksi Spiritual

Lebih dari sekadar ritual tradisional, Tumpek Wayang menjadi momentum bagi umat Hindu di Bali untuk melakukan introspeksi diri. Hari ini mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki bayangan batin yang harus dipahami, bukan dihindari.

Melalui doa, persembahan, dan ritual penyucian, masyarakat Bali berupaya menata kembali hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Dalam dunia modern yang serba cepat, makna Tumpek Wayang menjadi pengingat penting bahwa perjalanan spiritual manusia tidak hanya tentang pencapaian luar, tetapi juga tentang keberanian menghadapi diri sendiri dan membersihkan karma yang melekat dalam kehidupan.


Sumber :
Kompas.com – Makna dan tujuan Tumpek Wayang.

Pemerintah Kota Denpasar – Makna Hari Tumpek Wayang.

Pemerintah Kabupaten Buleleng – Upacara Tumpek Wayang sebagai penyucian diri.

Kementerian Agama Kabupaten Bangli – Kajian simbolik Tumpek Wayang.

Bali Post – Makna spiritual Tumpek Wayang dalam tradisi Bali.

Jadwal Rahinan Umat Hindu Bulan Januari 2026

On 1:28 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Umat Hindu di Bali dan berbagai daerah di Indonesia akan menjalani sejumlah hari suci (rahinan) sepanjang bulan Januari 2026. Rahinan tersebut merupakan bagian penting dalam pelaksanaan ajaran agama Hindu sebagai momentum peningkatan sraddha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Ilustrasi
Berdasarkan perhitungan Kalender Bali (Wariga), terdapat beberapa rahinan utama yang jatuh pada bulan Januari 2026, mulai dari Tumpek, Purnama, Tilem, hingga hari-hari suci lainnya yang berkaitan dengan siklus pawukon dan sasih.

Adapun jadwal rahinan umat Hindu bulan Januari 2026 adalah sebagai berikut:

  • Sabtu, 3 Januari 2026

Tumpek Krulut dan Purnama

→ Hari pemujaan terhadap seni, keindahan, dan keharmonisan.

  • Rabu, 7 Januari 2026

Buda Wage Merakih

→ Hari baik untuk memulai pekerjaan dan kegiatan usaha.

  • Jumat, 9 Januari 2026

Hari Bhatara Sri

→ Hari pemujaan Dewi Sri sebagai simbol kemakmuran dan kesuburan.

  • Selasa, 13 Januari 2026

Anggara Kasih Tambir dan Kajeng Kliwon Uwudan

→ Hari penyucian diri dan peningkatan kesadaran spiritual.

  • Sabtu, 17 Januari 2026

Hari Siwa Ratri

→ Malam perenungan diri dan pengendalian hawa nafsu melalui brata Siwa Ratri.

  • Minggu, 18 Januari 2026

Tilem

→ Hari introspeksi dan pembersihan lahir batin.

  • Selasa, 20 Januari 2026

Anggara Paing Medangkungan

→ Hari suci dalam siklus pawukon.

  • Kamis, 28 Januari 2026

Kajeng Kliwon Enyitan dan Buda Kliwon Matal

→ Hari pemujaan untuk keseimbangan antara sekala dan niskala.

Masyarakat Hindu diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan baik dalam menyambut rahinan-rahina tersebut, baik melalui persembahyangan di pura, pelaksanaan upacara yadnya, maupun pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan memahami dan melaksanakan rahinan secara tulus, diharapkan nilai-nilai dharma, keharmonisan, serta keseimbangan alam semesta (Tri Hita Karana) dapat terus terjaga.


Youtube Channel



Makna Tattwa Mamukur dan Ngider Bhuwana

On 3:19 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Bagi umat Hindu di Bali, Ngaben bukanlah akhir. Tahapan penyucian dan peneguhan terakhir atma adalah Mamukur atau Ngerorasin, yang umumnya dilaksanakan 12 hari setelah Ngaben (tergantung Desa Kala Patra).

Menurut Dosen Pendidikan Agama Hindu, Nyoman Ariyoga, M.Pd. H, Mamukur adalah ritus transisional akhir yang menyempurnakan pelepasan roh leluhur, membersihkannya dari sisa pengaruh karma wasana, agar layak dipuja sebagai Dewa Pitara.

ilustrasi

Makna Tattwa Mamukur dan Ngider Bhuwana

Mamukur wajib dilakukan. Dalam Lontar Yama Purwa Tattwa disebutkan, tanpa Mamukur, atma belum dapat berjalan menuju alam sorga. Salah satu prosesi kunci adalah gerakan Ngider Bhuwana dengan arah Purwa Daksina (mengitari dari Timur ke Selatan). Gerakan ini dimaknai sebagai:
  1. Penyelarasan: Menyelaraskan diri dan roh leluhur dengan hukum gerakan alam semesta.
  2. Jalan Naik Atma: Berfungsi sebagai sarana simbolik untuk mengarahkan roh menuju tingkat kesucian yang lebih tinggi (Pitraloka).
Beda Tujuan, Beda Putaran!
Menariknya, arah putaran ritual di Bali memiliki makna filosofis yang mendalam:
  • Dewa Yadnya (Odalan/Pura): Menggunakan arah Pradaksina (searah jarum jam) untuk pemuliaan dan penghormatan tertinggi.
  • Pitra Yadnya (Mamukur/Ngerorasin): Menggunakan Purwa Daksina (Timur ke Selatan) sebagai sarana perjalanan pemuliaan atman.
  • Bhuta Yadnya (Penetralkan Negatif): Menggunakan arah Prasawya (berlawanan jarum jam) sebagai simbol pelepasan dan penguraian energi negatif.
Dengan memahami perbedaan ini, terlihat bahwa arah putaran ritual di Bali bukanlah sekadar teknis, melainkan bahasa simbolik suci yang menentukan keberhasilan spiritual upacara.
Seberapa penting memahami makna filosofis (tattwa) di balik setiap gerakan ritual, seperti arah putaran Ngider Bhuwana, agar pelaksanaan upacara yadnya menjadi sempurna?


Youtube Channel 


Sering Ucapkan “Astungkare”, Tapi Tahu Artinya?

On 5:30 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu Bali, kata “Astungkare” sering diucapkan, baik saat berbicara, menanggapi harapan, maupun ketika mengakhiri doa. Namun, tidak semua orang benar-benar memahami makna dan kedalaman filosofis di balik kata sederhana ini.

Makna Kata “Astungkare”

Secara etimologis, kata “Astungkare” berasal dari bahasa Sanskerta:

  • Astu berarti semoga terjadi, atau biarlah demikian.
  • Kāra berarti perbuatan atau tindakan.

Sehingga Astungkare dapat dimaknai sebagai “semoga dikehendaki oleh Tuhan” atau “biarlah hal itu terjadi dengan restu Sang Hyang Widhi Wasa”.

Makna ini menunjukkan bahwa setiap keinginan, rencana, dan usaha manusia pada akhirnya diserahkan kepada kehendak Tuhan. Dalam ajaran Hindu, ini mencerminkan nilai tattwa pasrah dan sraddha (keyakinan) terhadap kekuatan ilahi yang mengatur alam semesta.

ilustrasi

Makna Filosofis dalam Kehidupan

Umat Hindu meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa izin Tuhan. Mengucapkan “Astungkare” berarti menegaskan kesadaran bahwa manusia hanyalah alat dalam kehendak ilahi.

Kata ini juga menjadi pengingat spiritual agar kita tidak terlalu sombong atas keberhasilan maupun terlalu kecewa atas kegagalan, sebab segalanya terjadi atas restu dan takdir Tuhan.

Contoh dalam percakapan:

“Besok saya ujian, Astungkare lancar.”

“Anaknya mau menikah bulan depan, Astungkare semua berjalan baik.”

Di sini, kata Astungkare berfungsi sebagai doa dan penyerahan diri, bukan sekadar kata pengharapan.

Nilai Spiritualitas

Dalam konteks ajaran Tattwa Hindu, Astungkare mengajarkan keseimbangan antara usaha (karma) dan penyerahan diri (bhakti).

Manusia wajib berusaha sebaik-baiknya, namun hasilnya tetap dikembalikan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Kesimpulan

Mengucapkan “Astungkare” bukan hanya tradisi, tetapi juga bentuk kesadaran spiritual bahwa hidup ini tidak sepenuhnya berada di tangan manusia. Kata ini mengajarkan kita untuk tetap rendah hati, percaya pada kehendak Tuhan, dan bersyukur atas setiap hasil yang diberikan.


Sumber:

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Ajaran Tattwa dan Etika Hindu Bali, 2018.

Titib, I Made. Teologi dan Filsafat Hindu, Paramita Surabaya, 2003.

Wiana, I Ketut. Makna Simbol dan Upacara Keagamaan Hindu di Bali, Paramita, 2010.


channel youtube

Bolehkah Permen atau Jajan Ada di Canang yang Sering Kita Lihat?

On 3:05 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Pertanyaan ini muncul karena dalam praktik sehari-hari umat Hindu di Bali, sering terlihat permen atau jajan pabrikan diletakkan di atas canang sari sebuah persembahan suci yang ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Secara tattwa (filsafat Hindu), canang sari merupakan simbol ketulusan bhakti dan rasa syukur umat kepada Tuhan. Unsur utama dalam canang biasanya terdiri dari bahan alami seperti janur, bunga, daun, dan porosan. Semua itu melambangkan keselarasan antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana).

Ketika ditambahkan permen atau jajan, hal ini menimbulkan pertanyaan apakah sesuai dengan nilai kesucian banten. Secara prinsip, banten seharusnya berasal dari unsur alami karena memiliki energi murni (sattwika).

Namun, permen atau jajan tidak sepenuhnya dilarang, terutama jika digunakan sebagai banten pelengkap atau dalam konteks sederhana, misalnya untuk anak-anak atau banten harian di rumah.

ilustrasi

Makna Canang dalam Tradisi Hindu Bali

Canang sari adalah salah satu bentuk banten (persembahan suci) yang menjadi simbol rasa bhakti dan terima kasih umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam canang sari, biasanya terdapat unsur utama seperti janur (kelapa muda), bunga, porosan (sirih, kapur, pinang), dan sampian.

Setiap unsur memiliki makna filosofis yang dalam, seperti:

  • Bunga putih melambangkan Dewa Iswara (Timur)
  • Bunga merah melambangkan Dewa Brahma (Selatan)
  • Bunga kuning melambangkan Dewa Mahadewa (Barat)
  • Bunga biru atau hijau melambangkan Dewa Wisnu (Utara)

Bagaimana dengan Permen atau Jajan di Canang?

Belakangan ini, kita sering melihat permen, biskuit, atau jajan pasar ikut diletakkan di atas canang atau banten. Hal ini menimbulkan pertanyaan: Apakah hal itu diperbolehkan secara tattwa (filsafat Hindu)?

Menurut beberapa pemangku dan sumber sastra agama Hindu di Bali, banten adalah simbol pengabdian tulus (bhakti marga), bukan tentang mewah atau sederhana, tetapi tentang niat dan kesucian hati.

Namun, secara tattwa (makna spiritual), unsur banten sebaiknya berasal dari alam (seperti bunga, daun, dan buah) karena:

  • Diciptakan langsung oleh Tuhan sebagai wujud panca maha bhuta (lima unsur alam),
  • Memiliki energi murni alami (sattwika).

Sedangkan permen dan jajanan pabrikan termasuk hasil olahan manusia yang sering mengandung unsur kimia atau tidak alami, sehingga kurang sesuai untuk dipersembahkan dalam banten utama seperti canang sari, pejati, atau daksina.

Namun Ada Pengecualian

Permen atau jajan boleh digunakan dalam konteks:

  • Upacara untuk anak-anak, di mana banten dibuat dengan nuansa ringan dan penuh kasih.
  • Persembahan sederhana di rumah, yang dimaksudkan lebih pada ungkap rasa syukur dengan bahan yang ada.
  • Banten tambahan (banten pelengkap), bukan banten utama seperti banten prayascita, suci, atau guru piduka.

Yang paling penting adalah kesucian niat dan kebersihan pikiran saat mempersembahkan, bukan kemewahan bahan.

Kesimpulan

Jadi, permen dan jajan boleh ditempatkan di canang dalam kondisi tertentu, selama tidak menggantikan unsur utama dan tidak mengurangi makna kesucian persembahan itu sendiri. Canang sari tetaplah simbol tulus bakti, bukan simbol kemewahan. Kesucian canang tidak diukur dari bahan, melainkan dari tulusnya hati umat yang mempersembahkan.


Sumber:

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Tuntunan Pembuatan Banten dan Makna Filosofinya, 2021.

I Wayan Sudarsana, Makna Filosofis Banten dalam Upacara Yadnya Umat Hindu Bali, Jurnal Widya Sastra, Vol. 6 No. 2 (2019).

Wawancara Pemangku Pura Desa Adat Tabanan, 2024.


Channel Youtube

Legenda Ratu Niang Sakti: Penjaga Kesucian dan Keseimbangan Alam Bali

On 11:30 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Pulau Bali dikenal dengan beragam kisah suci dan legenda spiritual yang memperkaya nilai-nilai budaya serta ajaran agama Hindu. Salah satu kisah yang sarat makna adalah legenda Ratu Niang Sakti, sosok suci yang dipercaya sebagai pelindung dan penjaga keseimbangan alam serta spiritualitas manusia.

Ilustrasi

Asal Usul Ratu Niang Sakti

Legenda Ratu Niang Sakti berasal dari daerah Bali bagian timur, terutama di kawasan Karangasem dan Bangli, yang dikenal memiliki hubungan erat dengan pura-pura tua peninggalan zaman Majapahit. Dikisahkan bahwa beliau adalah seorang wanita suci (tapini) yang memiliki kesaktian luar biasa. Ia hidup dengan penuh tapa brata, menjauh dari hawa nafsu duniawi, dan mengabdikan diri pada pemujaan kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Karena kesucian dan keteguhannya dalam menjalani kehidupan spiritual, beliau kemudian mencapai tingkat kesempurnaan dan menyatu dengan kekuatan alam. Dari sinilah muncul keyakinan masyarakat bahwa Ratu Niang Sakti adalah manifestasi energi Dewi, pelindung kesucian air dan kesuburan bumi.

Peran Spiritual dalam Kehidupan Masyarakat

Ratu Niang Sakti diyakini hadir untuk menjaga harmoni antara bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (diri manusia). Masyarakat memuja beliau dengan upacara piodalan dan banten suci sebagai ungkapan rasa terima kasih atas perlindungan dari bencana, kekeringan, serta wabah penyakit.

Dalam tradisi Bali, beliau sering disebut sebagai “Ratu Penguasa Tirta”, karena dipercaya menjaga sumber-sumber air suci yang menjadi sumber kehidupan. Tempat-tempat pemujaan kepada beliau biasanya berada di sekitar mata air, danau, atau pura di pegunungan.

Makna Filosofis

Legenda Ratu Niang Sakti mengandung pesan moral yang dalam:

  1. Kesucian hati membawa kesaktian sejati. Kekuatan tidak datang dari kekuasaan, melainkan dari kemurnian jiwa dan ketulusan dalam berbakti.
  2. Alam adalah cerminan spiritual manusia. Menjaga kelestarian alam berarti menjaga keseimbangan diri sendiri.
  3. Perempuan adalah sumber kehidupan. Dalam diri wanita tersimpan kekuatan penciptaan, perlindungan, dan keseimbangan semesta.

Upacara dan Pemujaan

Hingga kini, umat Hindu Bali masih melaksanakan upacara pemujaan Ratu Niang Sakti di beberapa pura seperti:

  1. Pura Beji, tempat memohon kesucian air.
  2. Pura Ulun Danu, sebagai simbol pemujaan kepada kekuatan dewi air.
  3. Pura Dalem dan Pura Penataran Agung, sebagai tempat penyatuan energi purusha-pradhana.

Setiap upacara dilakukan dengan penuh bhakti dan kesadaran bahwa beliau adalah simbol kekuatan ilahi yang menjaga kehidupan di bumi.

Kesimpulan

Legenda Ratu Niang Sakti tidak hanya sekadar kisah mitologis, tetapi juga menjadi panduan spiritual tentang bagaimana manusia seharusnya hidup seimbang dengan alam dan menjaga kesucian batin. Melalui pemujaan dan penghormatan terhadap beliau, masyarakat Bali terus diajak untuk memelihara harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.


Sumber:

Parisada Hindu Dharma Indonesia. “Kisah Dewi dan Dewa dalam Tradisi Bali.” Denpasar, 2020.

I Wayan Mandra, Legenda Bali: Dewi dan Dewa Pelindung Alam. Pustaka Bali, 2019.

Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Arsip Tradisi dan Kepercayaan Lokal Bali. (2022)


Channel Youtube



Awal Mula Hari Raya Galungan dan Sejarahnya

On 6:30 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Hari Raya Galungan merupakan salah satu hari suci terbesar bagi umat Hindu di Bali. Galungan dirayakan setiap 210 hari sekali (satu siklus pawukon) sebagai simbol kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan). Selain sebagai perayaan spiritual, Galungan juga mencerminkan keindahan harmoni kehidupan masyarakat Hindu Bali yang menyatu dengan alam, leluhur, dan Tuhan.

Namun di balik kemeriahan dan makna spiritualnya, Galungan memiliki sejarah panjang dan filosofis yang sangat dalam, yang berakar dari kisah perjuangan melawan kekuatan adharma dalam ajaran Hindu kuno.

Ilustrasi

Asal-usul dan Sejarah Hari Raya Galungan

Kata Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuno “Galung” yang berarti menang. Dalam konteks religius, Hari Galungan adalah simbol kemenangan kebenaran (dharma) melawan kejahatan (adharma)  sebuah pengingat bagi manusia untuk selalu menegakkan kebenaran dalam hidupnya.

Menurut lontar Sundarigama, perayaan Galungan pertama kali terjadi ketika umat manusia berada dalam masa penuh kekacauan spiritual — manusia lupa pada dharma, banyak melakukan kekerasan, dan hidup tanpa arah. Para dewa kemudian menurunkan Dewa Indra untuk memulihkan keseimbangan alam dengan menumpas kekuatan adharma. Kemenangan Dewa Indra inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari Raya Galungan.

Makna Filosofis Hari Galungan

  1. Kemenangan Dharma atas Adharma Galungan bukan sekadar pesta keagamaan, melainkan simbol perjuangan batin setiap individu dalam mengalahkan sifat-sifat negatif seperti amarah, keserakahan, dan kebencian.
  2. Turunnya Leluhur ke Dunia Pada saat Galungan, diyakini roh leluhur (pitara) turun ke dunia untuk menerima persembahan dan berkah dari keturunannya. Karena itu, umat Hindu melakukan persembahyangan di sanggah, merajan, dan pura keluarga untuk menyambut mereka.
  3. Simbol Keseimbangan Hidup Penjor  hiasan bambu yang melengkung di tepi jalan — melambangkan gunung dan kemakmuran, serta menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

Rangkaian Hari Raya Galungan

  1. Penyekeban (3 hari sebelum Galungan) – waktu untuk menahan diri dari nafsu keduniawian.
  2. Penyajahan (2 hari sebelum) – memusatkan pikiran pada kebersihan lahir dan batin.
  3. Penampahan (1 hari sebelum) – simbol perjuangan terakhir melawan sifat negatif dalam diri.
  4. Hari Galungan – puncak upacara pemujaan dan rasa syukur atas kemenangan dharma.
  5. Umanis Galungan – hari kebersamaan dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga.

Setelah sepuluh hari, umat Hindu merayakan Hari Kuningan, sebagai tanda kembalinya roh leluhur ke alam niskala setelah menerima doa dan persembahan dari keluarga di dunia.

Sejarah Galungan di Bali

Catatan tertua tentang perayaan Galungan di Bali ditemukan dalam Prasasti Blanjong (tahun 882 Masehi) pada masa pemerintahan Sri Kesari Warmadewa. Tradisi ini kemudian terus dilestarikan dan menjadi bagian dari sistem kalender pawukon Bali. Hingga kini, Galungan tetap dirayakan secara meriah di seluruh Bali dan di pura-pura Hindu di luar Bali, termasuk di Nusantara dan mancanegara.

Kesimpulan

Hari Raya Galungan bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi juga perjalanan spiritual untuk kembali ke jalan kebenaran, menjaga keseimbangan antara dunia sekala dan niskala, serta mempererat hubungan manusia dengan leluhur dan alam.

Melalui Galungan, umat Hindu diajak untuk selalu menumbuhkan kesadaran bahwa kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, tetapi kemenangan atas diri sendiri.


Sumber:

Lontar Sundarigama, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, 2019.

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Pedoman Hari Raya Galungan dan Kuningan, 2020.

I Gusti Ngurah Bagus, Makna Filosofis Galungan dan Kuningan dalam Tradisi Bali, Udayana Press, 2018.

Prasasti Blanjong, Denpasar, abad IX Masehi.

Makna dan Alasan Umat Hindu Mengadakan Persembahyangan Saat Bulan Purnama

On 11:30 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Dalam ajaran Hindu, Purnama atau bulan purnama memiliki kedudukan istimewa sebagai waktu turunnya sinar suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Dewa Chandra. Bulan penuh dianggap sebagai simbol kesempurnaan, penerangan batin, serta waktu terbaik untuk melakukan penyucian diri dan persembahyangan.

Tradisi persembahyangan pada Hari Purnama telah diwariskan turun-temurun oleh umat Hindu, baik di Bali maupun di seluruh Nusantara, sebagai bagian dari pengamalan ajaran Tattwa, Susila, dan Upacara.

ilustrasi

Makna Spiritual Bulan Purnama

  • Simbol Kesempurnaan dan Keseimbangan Alam Bulan purnama melambangkan titik keseimbangan antara gelap dan terang, antara aspek material dan spiritual. Cahaya bulan yang sempurna menandakan pencerahan rohani yang menghapus kegelapan batin.

  • Energi Kosmis dan Pembersihan Batin Pada malam purnama, energi alam diyakini berada dalam kondisi harmonis dan kuat. Melalui persembahyangan, umat Hindu menyelaraskan vibrasi dirinya dengan energi suci tersebut untuk memperkuat spiritualitas, ketenangan pikiran, dan kesehatan jiwa.
  • Waktu Turunnya Anugerah dan Pemberkatan Banyak lontar seperti Lontar Sundarigama dan Lontar Dharma Kahuripan menjelaskan bahwa malam Purnama adalah waktu Ida Sang Hyang Widhi Wasa memberikan anugerah kepada seluruh makhluk. Karena itu, umat Hindu melakukan pemujaan dan persembahan bunga, dupa, dan canang sari sebagai wujud rasa syukur.

Alasan Umat Hindu Melaksanakan Persembahyangan di Hari Purnama

  1. Menjaga Hubungan Harmonis dengan Alam (Tri Hita Karana)
    Melalui persembahyangan, umat Hindu memperkuat hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta. Purnama menjadi momentum untuk mengembalikan keseimbangan spiritual antara ketiganya.

  2. Waktu Ideal untuk Melakukan Dewa Yadnya
    Hari Purnama dianggap paling baik untuk melaksanakan upacara Dewa Yadnya, seperti persembahyangan di pura, pembersihan diri dengan air suci, atau melaksanakan upacara pembersihan benda-benda sakral.

  3. Refleksi dan Penyucian Diri
    Umat Hindu juga memanfaatkan waktu Purnama untuk introspeksi diri, mengurangi sifat-sifat negatif (asuri sampat), dan menumbuhkan sifat-sifat kebajikan (daivi sampat).

Makna Purnama dalam Kehidupan Modern

Dalam kehidupan modern, Hari Purnama dapat dimaknai sebagai waktu membangun kesadaran ekologis dan spiritual, di mana manusia berhenti sejenak dari rutinitas duniawi dan menyatu dengan energi alam semesta. Persembahyangan bukan hanya ritual, tetapi juga meditasi untuk keseimbangan batin dan harmoni sosial.


Sumber:

Lontar Sundarigama (terbitan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, 2019)

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Pedoman Hari Suci Purnama dan Tilem. 2020.

I Wayan Sujana. Makna Energi Purnama dalam Spiritualitas Hindu. Denpasar: Udayana Press, 2021.


Youtube Channel

Tradisi Omed-omedan: Ritual Penolak Bala dari Pulau Seribu Pura

On 11:30 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Pulau Bali dikenal sebagai Pulau Seribu Pura, tempat di mana tradisi, budaya, dan spiritualitas menyatu dalam kehidupan masyarakatnya. Salah satu tradisi unik yang menjadi sorotan dunia adalah Tradisi Omed-omedan, sebuah ritual sakral dan penuh kegembiraan yang dilakukan oleh masyarakat Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar Selatan.

Walaupun terlihat seperti “tarik-menarik” antar pemuda dan pemudi, sesungguhnya Omed-omedan adalah ritual tolak bala yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun.



Asal-usul Tradisi Omed-omedan

Menurut penuturan masyarakat setempat, tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman Raja Puri Oka. Dahulu, para pemuda dan pemudi berkumpul untuk melakukan tarian rakyat setelah Hari Nyepi. Dalam satu peristiwa, dua kelompok pemuda dan pemudi saling dorong hingga terjadi keributan. Anehnya, saat itu raja yang sedang sakit tiba-tiba sembuh setelah menyaksikan kejadian tersebut.

Sejak saat itulah, tradisi tersebut ditetapkan sebagai ritual tolak bala yang wajib dilakukan setiap sehari setelah Hari Nyepi (ngembak geni), dengan keyakinan bahwa bila tradisi ini tidak dilaksanakan, akan terjadi musibah di desa.

Makna Spiritual Omed-omedan

Secara harfiah, Omed-omedan berarti tarik-menarik. Namun maknanya jauh lebih dalam.

Ritual ini melambangkan penyatuan energi purusa (laki-laki) dan pradana (perempuan) sebagai simbol keseimbangan alam semesta. Tradisi ini juga menjadi media untuk menyucikan energi desa dari pengaruh negatif setelah masa penyepian.

Selain itu, Omed-omedan menjadi ajang mempererat rasa persaudaraan dan kebersamaan antar warga, terutama kalangan muda. Walaupun diwarnai canda tawa, pelaksanaannya tetap disertai doa dan upacara keagamaan oleh para pemangku pura.

Proses Pelaksanaan

  1. Upacara Pembersihan (Pecaruan) dilakukan terlebih dahulu untuk menyucikan lokasi dan para peserta.
  2. Dua barisan pemuda dan pemudi berhadapan, lalu saling tarik-menarik diiringi teriakan dan sorak sorai warga.
  3. Ketika dua peserta saling berdekatan, mereka boleh saling berpelukan atau bersentuhan pipi  melambangkan keharmonisan dan kasih sayang universal.
  4. Para pecalang mengatur agar suasana tetap tertib dan sakral.

Ritual ini tidak dimaksudkan sebagai hiburan, melainkan penggambaran energi kehidupan yang saling melengkapi.

Omed-omedan di Mata Dunia

Tradisi ini menarik perhatian wisatawan mancanegara karena unik dan penuh makna simbolik. Banyak media internasional menulis tentang “The Kissing Ritual of Bali”, namun sesungguhnya Omed-omedan bukan tentang ciuman, melainkan tentang harmoni, keseimbangan, dan tolak bala nilai-nilai yang sangat luhur dalam kepercayaan Hindu Bali.

Kesimpulan

Tradisi Omed-omedan bukan sekadar atraksi budaya, tetapi ritual sakral yang menjaga keseimbangan energi di alam dan masyarakat. Tradisi ini menjadi bukti bahwa di Bali, setiap perayaan, bahkan yang tampak sederhana, memiliki makna spiritual mendalam yang menghubungkan manusia dengan alam dan Sang Hyang Widhi.

Sumber:

Parisada Hindu Dharma Indonesia. Lontar Dresta Bali Kuna tentang Tradisi Rakyat Bali, 2021.

Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Profil Tradisi Omed-omedan Banjar Kaja Sesetan, 2023.

Wawancara Pemangku Banjar Kaja Sesetan, 2024.

Bali Post, Omed-omedan: Ritual Sakral Tolak Bala di Tengah Denpasar, 2022.


Youtube channel



Makna Segehan dan Caru sebagai Energi Penyeimbang

On 2:23 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Dalam ajaran Hindu Bali, keseimbangan antara kekuatan dharma (kebaikan) dan adharma (kekacauan) merupakan dasar terciptanya keharmonisan alam. Upacara segehan dan caru merupakan wujud nyata dari filosofi tersebut  yakni memberikan persembahan untuk menjaga keseimbangan energi di alam semesta (bhuana agung) dan di dalam diri manusia (bhuana alit).

Ilustrasi

Makna Segehan

Segehan berasal dari kata “segeh” yang berarti memberi atau mempersembahkan. Dalam praktiknya, segehan berupa nasi berwarna, bunga, dan sesari yang ditempatkan di atas daun atau wadah sederhana, lalu dihaturkan di tempat-tempat tertentu seperti halaman rumah, perempatan jalan, atau pelinggih.

Tujuan utama dari segehan adalah menetralisir kekuatan bhuta kala  energi kasar atau tidak selaras yang ada di sekitar manusia. Dengan segehan, umat Hindu berusaha mengembalikan keseimbangan antara unsur positif dan negatif, sehingga tercipta kedamaian dan ketenangan batin.

Jenis-jenis segehan pun beragam, antara lain:

  • Segehan manca warna: lima warna nasi melambangkan panca maha bhuta (unsur alam).
  • Segehan putih: simbol kesucian dan penyucian diri.
  • Segehan merah: melambangkan semangat hidup dan pengendalian hawa nafsu.
  • Segehan putih kuning: simbol pemujaan kepada Dewa Siwa dan Dewa Wisnu.

Makna Caru

Sementara itu, Caru adalah upacara penyucian dan penyelarasan energi besar yang dilakukan di tingkat rumah tangga, desa, atau pura. Kata “Caru” berarti indah atau harmonis, dan fungsinya adalah mengharmoniskan hubungan antara manusia, alam, dan para dewa (Tri Hita Karana).

Upacara Caru sering disebut juga Tawur, yang berarti persembahan kepada alam semesta. Dalam pelaksanaannya, digunakan simbol-simbol seperti:
  • Hewan kurban (dulu ayam atau bebek, kini diganti dengan simbol sayur/buah).
  • Nasi manca warna melambangkan panca dewata.
  • Dupa dan api sebagai media penghubung antara manusia dan energi gaib.
Caru dilaksanakan dalam berbagai tingkatan  dari Caru Eka Sata (rumah tangga) hingga Caru Tawur Agung (tingkat jagat raya), seperti yang dilakukan menjelang Hari Nyepi.

Filosofi Energi Penyeimbang

Segehan dan Caru memiliki makna mendalam sebagai energi penyeimbang (Rwa Bhineda) — prinsip bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki pasangan: baik dan buruk, terang dan gelap, atas dan bawah.
Dengan melaksanakan segehan dan caru, umat Hindu:
  • Mengakui keberadaan kekuatan bhuta kala tanpa menentangnya.
  • Menyatukan diri dalam harmoni antara bhuana alit dan bhuana agung.
  • Menyucikan lingkungan dan batin agar tercipta kedamaian sejati.

Kesimpulan

Melalui Segehan dan Caru, umat Hindu Bali diajarkan untuk selalu hidup selaras dengan alam. Bukan dengan melawan energi negatif, melainkan menyelaraskannya melalui kesadaran, rasa hormat, dan persembahan. Upacara ini menjadi pengingat bahwa manusia adalah bagian dari jagat raya yang harus senantiasa dijaga keseimbangannya.

Sumber:
Lontar Sundarigama dan Bhuana Kosa (Parisada Hindu Dharma Indonesia, 2021).
Makna Segehan dan Caru dalam Upacara Dewa Yadnya, oleh I Made Titib, Pustaka Larasan, 2019.
Wawancara Pemangku Pura Desa Adat Gianyar, 2023.

Youtube channel 


Waspada Hari Berek Tawukan! Saat Purnama Justru Tak Boleh Melakukan Pemujaan

On 11:30 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Hari Berek Tawukan adalah salah satu hari khusus dalam kalender Bali (penanggalan Wuku) yang memiliki makna spiritual mendalam. Kata “Berek” berarti benturan atau tabrakan, sedangkan “Tawukan” berasal dari kata tawuk, yang berarti saling bertemu atau berbenturan. Secara filosofis, Hari Berek Tawukan menggambarkan terjadinya benturan energi antara kekuatan baik (dharma) dan kekuatan buruk (adharma) di alam semesta.

Ketika Hari Berek Tawukan bertepatan dengan Purnama (bulan purnama), umat Hindu di Bali justru dianjurkan untuk tidak melakukan upacara besar atau pemujaan di pura, karena diyakini energi alam semesta sedang tidak harmonis. Biasanya, Purnama adalah waktu suci untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa, namun jika bersamaan dengan Berek Tawukan, energi negatif juga sedang kuat, sehingga upacara bisa menjadi tidak suci secara kosmis.

Makna Hari Berek Tawukan
Dalam penanggalan tradisional Bali, terdapat hari-hari tertentu yang dianggap memiliki kekuatan energi unik  salah satunya adalah Hari Berek Tawukan. Hari ini dipercaya sebagai hari ketika kekuatan bhuana agung (alam semesta) sedang mengalami guncangan atau ketidakseimbangan. Kata “Tawukan” berasal dari kata “tawuk” yang berarti benturan, menggambarkan terjadinya benturan energi antara kekuatan positif dan negatif di alam semesta.

Meskipun biasanya Hari Purnama menjadi saat yang sangat suci untuk melakukan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, namun apabila bertepatan dengan Hari Berek Tawukan, umat Hindu justru dianjurkan untuk tidak melakukan kegiatan keagamaan besar di pura atau tempat suci. Hal ini karena diyakini energi alam pada saat itu sedang tidak harmonis, sehingga kegiatan spiritual besar bisa kurang memberikan hasil yang baik.

Ilustrasi

Latar Spiritual dan Filosofis

Secara spiritual, Hari Berek Tawukan merupakan simbol dari peringatan agar umat manusia senantiasa menjaga keseimbangan diri. Ketika alam sedang “tidak seimbang”, umat diminta untuk berdiam diri, melakukan introspeksi, serta menahan diri dari kegiatan seremonial besar.

Dalam lontar Sundarigama, dijelaskan bahwa ketika dewata dan bhuta kala sedang “bertabrakan” atau saling berebut kekuasaan atas ruang waktu, manusia disarankan untuk melakukan penyucian diri dalam bentuk brata (pengendalian diri) dan tapa (meditasi ringan), bukan dengan upacara besar. Dengan begitu, manusia tidak ikut “terbentur” oleh energi tersebut.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan


Pada Hari Berek Tawukan yang jatuh bertepatan dengan Purnama, umat disarankan untuk:
  • Tidak melaksanakan upacara besar di pura.
  • Melakukan doa pribadi di rumah dengan penuh ketenangan dan kesadaran batin.
  • Membersihkan diri dan lingkungan, sebagai simbol menjaga keharmonisan bhuana alit (diri sendiri) dan bhuana agung (alam).
  • Melakukan brata penyepian singkat  mengurangi bicara, makan, dan aktivitas duniawi berlebihan.
Dengan demikian, Hari Berek Tawukan bukanlah hari larangan dalam arti negatif, melainkan momentum spiritual untuk menyelaraskan diri dengan energi alam yang sedang mengalami ketidakseimbangan.

Kesimpulan

Hari Berek Tawukan mengingatkan umat Hindu akan pentingnya kesadaran kosmis — bahwa manusia hidup dalam harmoni dengan alam. Saat energi alam sedang tidak stabil, diam dan mawas diri justru menjadi bentuk pemujaan yang tertinggi.

Sumber:
Lontar Sundarigama, terbitan Parisada Hindu Dharma Indonesia.
PHDI Bali, “Makna Hari Berek Tawukan dan Etika Spiritualnya,” 2023.
Wawancara dengan Pemangku Pura Desa Adat Batur, Bangli, 2024.


Tonton channel Youtube gaess




Purnama & Tilem: Dua Hari Suci yang Menyucikan Jiwa dan Alam Semesta

On 8:30 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Dalam ajaran Hindu di Bali, Purnama (bulan purnama) dan Tilem (bulan mati) merupakan dua momen spiritual penting yang terjadi setiap bulan. Keduanya dianggap sebagai hari suci (rerainan), saat energi alam semesta mencapai puncaknya — baik untuk pencerahan batin maupun penyucian jiwa.

Purnama dan Tilem bukan hanya fenomena astronomi, tetapi juga momen kosmis untuk harmonisasi energi alam dan spiritual manusia, yang mencerminkan hubungan antara Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (diri manusia).

Ilustrasi

Makna Purnama

Purnama terjadi ketika bulan tampak penuh dan bercahaya terang di langit malam. Dalam spiritualitas Hindu, cahaya bulan purnama melambangkan energi positif, kemurnian, dan pencerahan batin.

Pada hari ini, umat Hindu melakukan upacara Purnama dengan menghaturkan sesajen di pura, rumah, dan tempat kerja.

Tujuannya adalah untuk memohon agar sinarnya bulan purnama menerangi pikiran dan hati, menghapus kegelapan batin, serta memperkuat kebajikan (dharma).

Upacara ini sering disebut sebagai “Purnama Danu” atau “Purnama Sasih”, tergantung pada bulan pelaksanaannya. Setiap Purnama memiliki kekuatan spiritual tersendiri — misalnya, Purnama Kapat dikenal sebagai waktu terbaik untuk memohon kesejahteraan dan keseimbangan batin.

Makna Tilem

Tilem terjadi ketika bulan tidak terlihat sama sekali fase bulan mati. Secara spiritual, Tilem melambangkan masa perenungan, pelepasan, dan penyucian diri.

Dalam keyakinan Hindu Bali, energi Tilem membawa kekuatan untuk menghapus karma buruk dan menenangkan pikiran.

Pada hari ini, umat Hindu melakukan upacara Tilem Kajeng Kliwon atau Tilem Sasih, dengan doa dan meditasi untuk mengembalikan keseimbangan dalam diri dan alam.

Jika Purnama adalah saat penerimaan cahaya, maka Tilem adalah waktu pengendapan kegelapan  keduanya saling melengkapi, menciptakan harmoni kosmis antara yin dan yang, siang dan malam, terang dan gelap.

Filosofi Dualitas dan Kesucian

Purnama dan Tilem mengajarkan tentang hukum dualitas alam semesta (Rwa Bhineda) — bahwa segala sesuatu memiliki pasangan yang saling melengkapi.

Kehidupan manusia juga berjalan dalam siklus yang sama: terang dan gelap, suka dan duka, lahir dan mati.

  • Melalui ritual Purnama dan Tilem, umat Hindu diingatkan untuk selalu:
  • Menyucikan diri lahir dan batin.
  • Mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan.
  • Menyadari bahwa keseimbangan sejati datang dari keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana).

Pelaksanaan Upacara

Pada hari Purnama dan Tilem, umat biasanya melakukan:

  • Sembahyang di Pura dan rumah: memohon pencerahan dan kekuatan spiritual.
  • Matur Piuning: menghaturkan sesajen di tempat suci keluarga.
  • Tirta Yatra: berkunjung ke pura besar seperti Pura Besakih atau Pura Ulun Danu.
  • Meditasi dan Japa Mantra: untuk penyucian jiwa dan ketenangan batin.

Bagi petani, nelayan, dan pekerja, hari ini juga menjadi momen berhenti sejenak untuk bersyukur atas berkah alam dan kehidupan.

Kesimpulan

Purnama dan Tilem bukan sekadar fenomena alam, tetapi panggilan spiritual untuk kembali ke kesucian diri.

Melalui sinar Purnama dan keheningan Tilem, manusia diajak untuk mengenal dirinya, membersihkan batin, dan menyatu dengan kesadaran tertinggi.

Keduanya menjadi simbol bahwa cahaya dan kegelapan bukan musuh, melainkan dua sisi dari keseimbangan ilahi yang menyucikan jiwa dan alam semesta.


Sumber Referensi

Titib, I Made. (2003). Teologi dan Simbolisme dalam Agama Hindu di Bali.

Suamba, I B. (2010). Makna Filosofis Rerainan Purnama Tilem dalam Tradisi Hindu Bali.

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Tuntunan Hari Suci Purnama dan Tilem.

Lontar Wrespati Tattwa – Koleksi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Bhagavad Gita Bab 10 & 11 – Ajaran Kesadaran Kosmis dan Keseimbangan Alam.


Tonton channel Youtube gaess