Berita Hindu Indonesia

Media Informasi Terkini Masyarakat Hindu Indonesia

Deskripsi-Gambar

Iklan Leo Shop

Pasang iklan disini

TWITTER

Powered by Blogger.

Waspada Hari Berek Tawukan! Saat Purnama Justru Tak Boleh Melakukan Pemujaan

On 11:30 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Hari Berek Tawukan adalah salah satu hari khusus dalam kalender Bali (penanggalan Wuku) yang memiliki makna spiritual mendalam. Kata “Berek” berarti benturan atau tabrakan, sedangkan “Tawukan” berasal dari kata tawuk, yang berarti saling bertemu atau berbenturan. Secara filosofis, Hari Berek Tawukan menggambarkan terjadinya benturan energi antara kekuatan baik (dharma) dan kekuatan buruk (adharma) di alam semesta.

Ketika Hari Berek Tawukan bertepatan dengan Purnama (bulan purnama), umat Hindu di Bali justru dianjurkan untuk tidak melakukan upacara besar atau pemujaan di pura, karena diyakini energi alam semesta sedang tidak harmonis. Biasanya, Purnama adalah waktu suci untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa, namun jika bersamaan dengan Berek Tawukan, energi negatif juga sedang kuat, sehingga upacara bisa menjadi tidak suci secara kosmis.

Makna Hari Berek Tawukan
Dalam penanggalan tradisional Bali, terdapat hari-hari tertentu yang dianggap memiliki kekuatan energi unik  salah satunya adalah Hari Berek Tawukan. Hari ini dipercaya sebagai hari ketika kekuatan bhuana agung (alam semesta) sedang mengalami guncangan atau ketidakseimbangan. Kata “Tawukan” berasal dari kata “tawuk” yang berarti benturan, menggambarkan terjadinya benturan energi antara kekuatan positif dan negatif di alam semesta.

Meskipun biasanya Hari Purnama menjadi saat yang sangat suci untuk melakukan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, namun apabila bertepatan dengan Hari Berek Tawukan, umat Hindu justru dianjurkan untuk tidak melakukan kegiatan keagamaan besar di pura atau tempat suci. Hal ini karena diyakini energi alam pada saat itu sedang tidak harmonis, sehingga kegiatan spiritual besar bisa kurang memberikan hasil yang baik.

Ilustrasi

Latar Spiritual dan Filosofis

Secara spiritual, Hari Berek Tawukan merupakan simbol dari peringatan agar umat manusia senantiasa menjaga keseimbangan diri. Ketika alam sedang “tidak seimbang”, umat diminta untuk berdiam diri, melakukan introspeksi, serta menahan diri dari kegiatan seremonial besar.

Dalam lontar Sundarigama, dijelaskan bahwa ketika dewata dan bhuta kala sedang “bertabrakan” atau saling berebut kekuasaan atas ruang waktu, manusia disarankan untuk melakukan penyucian diri dalam bentuk brata (pengendalian diri) dan tapa (meditasi ringan), bukan dengan upacara besar. Dengan begitu, manusia tidak ikut “terbentur” oleh energi tersebut.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan


Pada Hari Berek Tawukan yang jatuh bertepatan dengan Purnama, umat disarankan untuk:
  • Tidak melaksanakan upacara besar di pura.
  • Melakukan doa pribadi di rumah dengan penuh ketenangan dan kesadaran batin.
  • Membersihkan diri dan lingkungan, sebagai simbol menjaga keharmonisan bhuana alit (diri sendiri) dan bhuana agung (alam).
  • Melakukan brata penyepian singkat  mengurangi bicara, makan, dan aktivitas duniawi berlebihan.
Dengan demikian, Hari Berek Tawukan bukanlah hari larangan dalam arti negatif, melainkan momentum spiritual untuk menyelaraskan diri dengan energi alam yang sedang mengalami ketidakseimbangan.

Kesimpulan

Hari Berek Tawukan mengingatkan umat Hindu akan pentingnya kesadaran kosmis — bahwa manusia hidup dalam harmoni dengan alam. Saat energi alam sedang tidak stabil, diam dan mawas diri justru menjadi bentuk pemujaan yang tertinggi.

Sumber:
Lontar Sundarigama, terbitan Parisada Hindu Dharma Indonesia.
PHDI Bali, “Makna Hari Berek Tawukan dan Etika Spiritualnya,” 2023.
Wawancara dengan Pemangku Pura Desa Adat Batur, Bangli, 2024.


Tonton channel Youtube gaess




Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Comments
0 Comments