Berita Hindu Indonesia

Media Informasi Terkini Masyarakat Hindu Indonesia

Deskripsi-Gambar

Iklan Leo Shop

Pasang iklan disini

TWITTER

Powered by Blogger.

Makna Segehan dan Caru sebagai Energi Penyeimbang

On 2:23 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Dalam ajaran Hindu Bali, keseimbangan antara kekuatan dharma (kebaikan) dan adharma (kekacauan) merupakan dasar terciptanya keharmonisan alam. Upacara segehan dan caru merupakan wujud nyata dari filosofi tersebut  yakni memberikan persembahan untuk menjaga keseimbangan energi di alam semesta (bhuana agung) dan di dalam diri manusia (bhuana alit).

Ilustrasi

Makna Segehan

Segehan berasal dari kata “segeh” yang berarti memberi atau mempersembahkan. Dalam praktiknya, segehan berupa nasi berwarna, bunga, dan sesari yang ditempatkan di atas daun atau wadah sederhana, lalu dihaturkan di tempat-tempat tertentu seperti halaman rumah, perempatan jalan, atau pelinggih.

Tujuan utama dari segehan adalah menetralisir kekuatan bhuta kala  energi kasar atau tidak selaras yang ada di sekitar manusia. Dengan segehan, umat Hindu berusaha mengembalikan keseimbangan antara unsur positif dan negatif, sehingga tercipta kedamaian dan ketenangan batin.

Jenis-jenis segehan pun beragam, antara lain:

  • Segehan manca warna: lima warna nasi melambangkan panca maha bhuta (unsur alam).
  • Segehan putih: simbol kesucian dan penyucian diri.
  • Segehan merah: melambangkan semangat hidup dan pengendalian hawa nafsu.
  • Segehan putih kuning: simbol pemujaan kepada Dewa Siwa dan Dewa Wisnu.

Makna Caru

Sementara itu, Caru adalah upacara penyucian dan penyelarasan energi besar yang dilakukan di tingkat rumah tangga, desa, atau pura. Kata “Caru” berarti indah atau harmonis, dan fungsinya adalah mengharmoniskan hubungan antara manusia, alam, dan para dewa (Tri Hita Karana).

Upacara Caru sering disebut juga Tawur, yang berarti persembahan kepada alam semesta. Dalam pelaksanaannya, digunakan simbol-simbol seperti:
  • Hewan kurban (dulu ayam atau bebek, kini diganti dengan simbol sayur/buah).
  • Nasi manca warna melambangkan panca dewata.
  • Dupa dan api sebagai media penghubung antara manusia dan energi gaib.
Caru dilaksanakan dalam berbagai tingkatan  dari Caru Eka Sata (rumah tangga) hingga Caru Tawur Agung (tingkat jagat raya), seperti yang dilakukan menjelang Hari Nyepi.

Filosofi Energi Penyeimbang

Segehan dan Caru memiliki makna mendalam sebagai energi penyeimbang (Rwa Bhineda) — prinsip bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki pasangan: baik dan buruk, terang dan gelap, atas dan bawah.
Dengan melaksanakan segehan dan caru, umat Hindu:
  • Mengakui keberadaan kekuatan bhuta kala tanpa menentangnya.
  • Menyatukan diri dalam harmoni antara bhuana alit dan bhuana agung.
  • Menyucikan lingkungan dan batin agar tercipta kedamaian sejati.

Kesimpulan

Melalui Segehan dan Caru, umat Hindu Bali diajarkan untuk selalu hidup selaras dengan alam. Bukan dengan melawan energi negatif, melainkan menyelaraskannya melalui kesadaran, rasa hormat, dan persembahan. Upacara ini menjadi pengingat bahwa manusia adalah bagian dari jagat raya yang harus senantiasa dijaga keseimbangannya.

Sumber:
Lontar Sundarigama dan Bhuana Kosa (Parisada Hindu Dharma Indonesia, 2021).
Makna Segehan dan Caru dalam Upacara Dewa Yadnya, oleh I Made Titib, Pustaka Larasan, 2019.
Wawancara Pemangku Pura Desa Adat Gianyar, 2023.

Youtube channel 


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Comments
0 Comments