Berita Hindu Indonesia - Dalam ajaran Hindu Bali, keseimbangan antara kekuatan dharma (kebaikan) dan adharma (kekacauan) merupakan dasar terciptanya keharmonisan alam. Upacara segehan dan caru merupakan wujud nyata dari filosofi tersebut yakni memberikan persembahan untuk menjaga keseimbangan energi di alam semesta (bhuana agung) dan di dalam diri manusia (bhuana alit).
![]() |
| Ilustrasi |
Makna Segehan
Segehan berasal dari kata “segeh” yang berarti memberi atau mempersembahkan. Dalam praktiknya, segehan berupa nasi berwarna, bunga, dan sesari yang ditempatkan di atas daun atau wadah sederhana, lalu dihaturkan di tempat-tempat tertentu seperti halaman rumah, perempatan jalan, atau pelinggih.
Tujuan utama dari segehan adalah menetralisir kekuatan bhuta kala energi kasar atau tidak selaras yang ada di sekitar manusia. Dengan segehan, umat Hindu berusaha mengembalikan keseimbangan antara unsur positif dan negatif, sehingga tercipta kedamaian dan ketenangan batin.
Jenis-jenis segehan pun beragam, antara lain:
- Segehan manca warna: lima warna nasi melambangkan panca maha bhuta (unsur alam).
- Segehan putih: simbol kesucian dan penyucian diri.
- Segehan merah: melambangkan semangat hidup dan pengendalian hawa nafsu.
- Segehan putih kuning: simbol pemujaan kepada Dewa Siwa dan Dewa Wisnu.
Makna Caru
- Hewan kurban (dulu ayam atau bebek, kini diganti dengan simbol sayur/buah).
- Nasi manca warna melambangkan panca dewata.
- Dupa dan api sebagai media penghubung antara manusia dan energi gaib.
Filosofi Energi Penyeimbang
- Mengakui keberadaan kekuatan bhuta kala tanpa menentangnya.
- Menyatukan diri dalam harmoni antara bhuana alit dan bhuana agung.
- Menyucikan lingkungan dan batin agar tercipta kedamaian sejati.

