Berita Hindu Indonesia - Bagi umat Hindu di Bali, Ngaben bukanlah akhir. Tahapan penyucian dan peneguhan terakhir atma adalah Mamukur atau Ngerorasin, yang umumnya dilaksanakan 12 hari setelah Ngaben (tergantung Desa Kala Patra).
Menurut Dosen Pendidikan Agama Hindu, Nyoman Ariyoga, M.Pd. H, Mamukur adalah ritus transisional akhir yang menyempurnakan pelepasan roh leluhur, membersihkannya dari sisa pengaruh karma wasana, agar layak dipuja sebagai Dewa Pitara.
![]() |
| ilustrasi |
Makna Tattwa Mamukur dan Ngider Bhuwana
Mamukur wajib dilakukan. Dalam Lontar Yama Purwa Tattwa disebutkan, tanpa Mamukur, atma belum dapat berjalan menuju alam sorga. Salah satu prosesi kunci adalah gerakan Ngider Bhuwana dengan arah Purwa Daksina (mengitari dari Timur ke Selatan). Gerakan ini dimaknai sebagai:
- Penyelarasan: Menyelaraskan diri dan roh leluhur dengan hukum gerakan alam semesta.
- Jalan Naik Atma: Berfungsi sebagai sarana simbolik untuk mengarahkan roh menuju tingkat kesucian yang lebih tinggi (Pitraloka).
Beda Tujuan, Beda Putaran!
Menariknya, arah putaran ritual di Bali memiliki makna filosofis yang mendalam:
- Dewa Yadnya (Odalan/Pura): Menggunakan arah Pradaksina (searah jarum jam) untuk pemuliaan dan penghormatan tertinggi.
- Pitra Yadnya (Mamukur/Ngerorasin): Menggunakan Purwa Daksina (Timur ke Selatan) sebagai sarana perjalanan pemuliaan atman.
- Bhuta Yadnya (Penetralkan Negatif): Menggunakan arah Prasawya (berlawanan jarum jam) sebagai simbol pelepasan dan penguraian energi negatif.
Dengan memahami perbedaan ini, terlihat bahwa arah putaran ritual di Bali bukanlah sekadar teknis, melainkan bahasa simbolik suci yang menentukan keberhasilan spiritual upacara.
Seberapa penting memahami makna filosofis (tattwa) di balik setiap gerakan ritual, seperti arah putaran Ngider Bhuwana, agar pelaksanaan upacara yadnya menjadi sempurna?
Youtube Channel

