Berita Hindu Indonesia

Berita Hindu Indonesia

Media Informasi Terkini Masyarakat Hindu Indonesia

Deskripsi-Gambar

Iklan Leo Shop

Pasang iklan disini

TWITTER

Powered by Blogger.
Jadwal Rahinan Umat Hindu Bulan Januari 2026

On 1:28 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Umat Hindu di Bali dan berbagai daerah di Indonesia akan menjalani sejumlah hari suci (rahinan) sepanjang bulan Januari 2026. Rahinan tersebut merupakan bagian penting dalam pelaksanaan ajaran agama Hindu sebagai momentum peningkatan sraddha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Ilustrasi
Berdasarkan perhitungan Kalender Bali (Wariga), terdapat beberapa rahinan utama yang jatuh pada bulan Januari 2026, mulai dari Tumpek, Purnama, Tilem, hingga hari-hari suci lainnya yang berkaitan dengan siklus pawukon dan sasih.

Adapun jadwal rahinan umat Hindu bulan Januari 2026 adalah sebagai berikut:

  • Sabtu, 3 Januari 2026

Tumpek Krulut dan Purnama

→ Hari pemujaan terhadap seni, keindahan, dan keharmonisan.

  • Rabu, 7 Januari 2026

Buda Wage Merakih

→ Hari baik untuk memulai pekerjaan dan kegiatan usaha.

  • Jumat, 9 Januari 2026

Hari Bhatara Sri

→ Hari pemujaan Dewi Sri sebagai simbol kemakmuran dan kesuburan.

  • Selasa, 13 Januari 2026

Anggara Kasih Tambir dan Kajeng Kliwon Uwudan

→ Hari penyucian diri dan peningkatan kesadaran spiritual.

  • Sabtu, 17 Januari 2026

Hari Siwa Ratri

→ Malam perenungan diri dan pengendalian hawa nafsu melalui brata Siwa Ratri.

  • Minggu, 18 Januari 2026

Tilem

→ Hari introspeksi dan pembersihan lahir batin.

  • Selasa, 20 Januari 2026

Anggara Paing Medangkungan

→ Hari suci dalam siklus pawukon.

  • Kamis, 28 Januari 2026

Kajeng Kliwon Enyitan dan Buda Kliwon Matal

→ Hari pemujaan untuk keseimbangan antara sekala dan niskala.

Masyarakat Hindu diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan baik dalam menyambut rahinan-rahina tersebut, baik melalui persembahyangan di pura, pelaksanaan upacara yadnya, maupun pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan memahami dan melaksanakan rahinan secara tulus, diharapkan nilai-nilai dharma, keharmonisan, serta keseimbangan alam semesta (Tri Hita Karana) dapat terus terjaga.


Youtube Channel



Yogasanas Dalam Susastra Hindu

On 2:30 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Yogasana dalam Susastra Hindu merujuk pada ajaran dan praktik posisi tubuh (asana) dalam konteks yoga yang berasal dari teks-teks suci dan filsafat Hindu. Asana adalah salah satu dari ashtanga yoga (delapan tahapan yoga) yang diajarkan dalam teks-teks klasik seperti Yoga Sutra Patanjali, Bhagavad Gita, dan Hatha Yoga Pradipika.

Yogasana

  1. Pengertian Yogasana
    Kata "asana" dalam bahasa Sanskerta berarti "tempat duduk" atau "posisi duduk", namun dalam konteks yoga, asana berkembang menjadi berbagai bentuk postur tubuh yang digunakan untuk mempersiapkan tubuh dan pikiran dalam mencapai samadhi (pencerahan spiritual).

  2. Asana dalam Susastra Hindu
    a. Yoga Sutra Patanjali (abad ke-2 SM)     - Merupakan teks fundamental dalam sistem yoga klasik.     - Dalam Yoga Sutra, asana didefinisikan secara singkat:        "Sthira sukham asanam"
    (Asana adalah posisi yang mantap dan nyaman)
        - Fokus utama bukan pada keragaman postur, tetapi kestabilan dan kenyamanan tubuh untuk
          Mediasi
          
    b. Bhagavad Gita (sekitar abad ke-2 SM hingga 2 M)
        - Menjelaskan pentingnya disiplin diri, pengendalian pikiran, dan keseimbangan.
        - Meskipun tidak menjabarkan asana secara teknis, Gita menekankan:

           "Seorang yogi harus duduk tegak, tidak terlalu tinggi atau rendah tempat duduknya..."
            (Bab 6)

    c. Hatha Yoga Pradipika (abad ke-15 M)
        - Salah satu teks utama dalam Hatha Yoga

        - Menjelaskan lebih dari 15 jenis asana, termasuk:
    - Padmasana (posisi teratai)
    - Siddhasana
    - Mayurasana (merak)
         - Bhujangasana (ular kobra)

       - Tujuannya adalah menyucikan tubuh dan mempersiapkan diri untuk pranayama dan
          meditasi.
  3. Fungsi Yogasanas
    • Kesehatan Fisik: Latihan Yogasanas dapat meningkatkan kekuatan, kelenturan, dan fleksibilitas tubuh. Gerakan-gerakan ini juga dapat membantu meningkatkan kesehatan sistem kardiovaskular, pencernaan, dan pernapasan. 

    • Kejiwaan dan Mental: Yogasanas juga memiliki efek positif pada kejiwaan dan mental. Latihan ini dapat membantu mengurangi stres, kecemasan, dan depresi, serta meningkatkan konsentrasi, fokus, dan kejernihan pikiran. 

    • Peningkatan Kesadaran Diri: Dengan berlatih Yogasanas, seseorang dapat lebih memahami tubuhnya sendiri, membedakan antara batas dan kemampuan fisik, serta meningkatkan kesadaran terhadap pikiran, emosi, dan energi dalam diri. 

    • Pencapaian Spiritual: Yogasanas juga dianggap sebagai alat untuk mencapai peningkatan spiritual. Dengan latihan yang teratur, seseorang dapat meningkatkan pengendalian diri, mengembangkan kesadaran, dan menyatukan diri dengan alam semesta.  4. Asana dan Jalan Menuju Moksha

    • Asana bukan sekadar latihan fisik, tetapi bagian dari perjalanan spiritual menuju moksha (pembebasan).

    • Dalam ajaran Hindu, keseimbangan tubuh dan pikiran adalah dasar untuk pencapaian pengetahuan sejati (jnana), kebaktian (bhakti), dan tindakan yang benar (karma). 5. KESIMPULAN Yogasanas, dalam susastra Hindu, merupakan suatu bagian penting dari disiplin yoga yang berfungsi untuk meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan spiritual, serta sebagai jalan menuju kesatuan dengan Brahman. Dengan berlatih Yogasanas secara teratur, seseorang dapat mencapai keseimbangan dan harmoni dalam hidup, serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. 

Panca Sembah: Makna dan Manfaat Dalam Persembahyangan Umat Hindu

On 11:47 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Panca Sembah adalah ritual sembahyang dalam agama Hindu yang terdiri dari lima tahap penghormatan yang berbeda, dengan makna mendalam dan manfaat yang luas bagi umat Hindu. Ritual ini bukan hanya sekadar praktik keagamaan, tetapi juga cerminan dari nilai-nilai spiritual dan budaya yang kuat dalam kehidupan umat Hindu, khususnya di Bali. Panca Sembah membantu umat Hindu mendekatkan diri pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, meningkatkan kesucian, dan memperkuat hubungan dengan alam dan sesama.

Panca Sembah

Makna dan Manfaat Panca Sembah

  1. Penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa
    Panca Sembah dimulai dengan sembah puja, sebagai bentuk penghormatan dan bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa. 

  2. Menciptakan Suasana Suci
    Tahap-tahap Panca Sembah, seperti sembah suci dan sembah puyung, membantu menciptakan suasana yang suci dan tenang, yang mendukung proses komunikasi dengan Tuhan. 

  3. Memperkuat Kesadaran Spiritual
    Panca Sembah mengajarkan umat Hindu untuk merenungkan makna hidup, menjaga kesucian diri, dan menghormati leluhur. 

  4. Melestarikan Tradisi dan Nilai Leluhur
    Panca Sembah merupakan bagian dari warisan budaya Hindu yang penting, yang dilestarikan dan diajarkan kepada generasi muda untuk menjaga nilai-nilai kemurnian, keharmonisan, dan rasa hormat. 

  5. Meningkatkan Keseimbangan Batin
    Melalui Panca Sembah, umat Hindu dapat mencapai keseimbangan batin dan kedamaian dalam hidup mereka, serta memperkuat hubungan mereka dengan Tuhan, alam, dan sesama. 

  6. Pengakuan Akan Keagungan Tuhan
    Panca Sembah mengajarkan umat Hindu untuk mengakui kebesaran dan keagungan Tuhan dalam segala aspek kehidupan. 

  7. Perwujudan Bakti dan Kehambaan
    Panca Sembah mencerminkan konsep bhakti (kehambaan) dan bhavana (perasaan penuh cinta) dalam setiap tindakan dan doa, serta pengakuan akan kehadiran Ilahi dalam diri sendir

Tahapan Panca Sembah

  1. Sembah Puja
    Penghormatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa, sebagai tanda pengakuan akan kebesaran-Nya.

  2. Sembah Suci
    Menjaga kemurnian diri dan lingkungan sebagai bentuk persiapan untuk berinteraksi dengan Tuhan. 

  3. Sembah Puyung
    Penghormatan yang mendalam kepada Tuhan, sebagai ungkapan rasa syukur dan bakti. 

  4. Sembah Ista Dewata
    Penghormatan kepada Dewa yang menjadi objek pemujaan pribadi, sebagai bagian dari kepercayaan individu. 

  5. Sembah Pengucapan
    Menutup ritual dengan pengucapan doa dan ucapan syukur atas segala karunia yang telah diberikan. 

Kesimpulan

Panca Sembah bukan hanya ritual formalitas, melainkan fondasi spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu. Dengan melakukannya dengan penuh penghayatan, umat diajak untuk tidak hanya menghormati Tuhan, tetapi juga menghormati diri sendiri, guru, leluhur, dan seluruh ciptaan. Panca Sembah adalah doa yang sederhana namun sarat makna, sebagai jalan pulang menuju kesadaran suci.

Purnabawa Kelahiran Kembali Dalam Pandangan Hindu

On 2:15 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Punarbhava (dari bahasa Sanskerta punar = lagi, bhava kelahiran atau eksistensi) adalah doktrin kelahiran kembali, yaitu keyakinan bahwa jiwa (Atman) setelah kematian tidak lenyap, melainkan lahir kembali ke dunia dalam bentuk baru berdasarkan hasil dari perbuatannya (karma).

Konsep ini merupakan bagian integral dari siklus hidup dalam Hindu yang disebut samsara (siklus kelahiran dan kematian).

Punarbhava

Hubungan antara Punarbhava, Karma, dan Samsara

  1. Karma (Perbuatan)
    Segala tindakan (baik maupun buruk) memiliki akibat. Karma dari kehidupan sekarang menentukan kehidupan selanjutnya.

  2. Samsara (Siklus Kelahiran)
    Rangkaian kelahiran, kematian, dan kelahiran kembali yang terus berlangsung selama jiwa belum mencapai pembebasan.

  3. Punarbhava (Kelahiran Kembali)
    Proses di mana jiwa terlahir kembali dalam bentuk baru bisa sebagai manusia, hewan, makhluk halus, bahkan makhluk surgawi  tergantung kualitas karmanya.

Tujuan Akhir Moksha (Pembebasan)

  • Tujuan tertinggi manusia menurut Hindu adalah moksha, yaitu pembebasan dari siklus punarbhava dan samsara.

  • Moksha dicapai melalui kesadaran spiritual, pengetahuan diri (jnana), ketaatan pada dharma, dan devosi kepada Tuhan.

  • Ketika mencapai moksha, Atman bersatu dengan Brahman, dan tidak lagi mengalami kelahiran kembali.

Filsafat dan Interpretasi

  1. Advaita Vedanta (Shankara)
    Menganggap dunia ini ilusi (maya). Jiwa yang menyadari dirinya sebagai Brahman tidak lagi terjebak dalam punarbhava.

  2. Vishishtadvaita (Ramanuja)
    Jiwa tetap memiliki identitas berbeda dengan Brahman, namun bergantung padanya. Moksha terjadi ketika jiwa sepenuhnya menyerahkan diri kepada Tuhan (Bhakti).

  3. Dvaita (Madhva)
    Jiwa dan Tuhan adalah entitas yang berbeda. Jiwa yang melakukan kebajikan akan lahir kembali dalam kondisi yang lebih tinggi atau mencapai surga; yang buruk akan lahir di kondisi lebih rendah.

Ajaran Kitab Suci tentang Punarbhava

  • Bhagavad Gita (2:13)
    "Sebagaimana jiwa menjelajahi masa kanak-kanak, dewasa, dan usia tua dalam tubuh ini, demikian pula ia melewati kematian dan memperoleh tubuh lain."
  • Katha Upanishad (2.2.7)
    "Sebagaimana tubuh lama ditinggalkan dan yang baru dikenakan, demikian pula jiwa meninggalkan satu tubuh dan memasuki yang lain."

Jalan untuk Menghindari Punarbhava

Dalam tradisi Hindu, ada beberapa jalan (marga) untuk mencapai moksha dan menghentikan punarbhava:
  1. Jnana Marga – Jalan pengetahuan.
  2. Bhakti Marga – Jalan pengabdian kepada Tuhan.
  3. Karma Marga – Jalan tindakan tanpa pamrih.
  4. Raja Marga – Jalan meditasi dan disiplin spiritual.

Makna Spiritual dan Etika

Konsep punarbhava mengajarkan bahwa:
  • Hidup ini adalah kesempatan berharga untuk menyucikan diri.
  • Tanggung jawab moral dan etika sangat penting karena setiap tindakan akan membawa konsekuensi di masa depan.
  • Kematian bukanlah akhir, melainkan transisi ke pengalaman baru.

Kesimpulan

Punarbhava adalah keyakinan inti dalam ajaran Hindu yang menyatakan bahwa kehidupan ini bukanlah satu-satunya eksistensi jiwa. Melalui hukum karma, jiwa akan mengalami kelahiran kembali dalam bentuk dan keadaan yang sesuai dengan tindakannya. Tujuan tertinggi dari keberadaan ini adalah mencapai moksa yaitu kebenaran dari lingkarang punarbhava dan bersatu kembali dengan Brahman. Dengan memahami punarbhava, umat Hindu diajak untuk hidup bijak, sadar bahwa setiap perbuatan akan meberi dampak dalam kehidupan ini dan kelahiran berikutnya.


Konsep Brahman (Tuhan) dalam Hindu

On 11:55 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Brahman dalam Hindu adalah konsep Tuhan Yang Maha Esa yang bersifat absolut, tanpa bentuk, dan tidak terbatas. Brahman bukanlah dewa dalam arti antropomorfik (berbentuk manusia), melainkan realitas tertinggi yang meliputi segala sesuatu yang ada di alam semesta. Brahman adalah sumber dan inti dari segala sesuatu, baik materi maupun spiritual.

Brahman (Tuhan) dalam Hindu

Sifat-sifat Brahman

  1. Nirguna Brahman
    Brahman tanpa atribut, tidak memiliki sifat-sifat tertentu, tak berwujud, tak berwarna, tak terbatas, dan melampaui pemahaman manusia.

  2. Saguna Brahman
    Brahman dengan atribut dan wujud, yang dapat dipahami dan disembah dalam bentuk dewa-dewi. Contohnya seperti Wisnu, Siwa, atau Dewi Saraswati.

  3. Sat (Eksistensi)
    Brahman adalah keberadaan yang abadi dan nyata.

  4. Chit (Kesadaran)
    Brahman adalah kesadaran murni dan pengetahuan mutlak.

  5. Ananda (Kebahagiaan)
    Brahman adalah kebahagiaan dan kedamaian sempurna.

Brahman dan Atman

Konsep Brahman sangat erat kaitannya dengan Atman, yaitu jiwa atau diri individu. Dalam banyak ajaran Hindu, terutama dalam filsafat Vedanta, Atman (diri sejati) dianggap identik dengan Brahman. Ini disebut prinsip "Tat Tvam Asi" (Bahwa Engkaulah Itu), artinya inti dari diri individu adalah sama dengan Brahman.

Brahman dalam Veda dan Upanishad

  • Dalam Veda, Brahman mulai dikenal sebagai prinsip universal dan kekuatan ilahi yang mengatur alam semesta.
  • Dalam Upanishad, terutama, konsep Brahman dikembangkan secara mendalam sebagai realitas tertinggi dan tidak berubah, melampaui dunia material yang sementara.

Kutipan dari Chandogya Upanishad
"Sarvam Khalvidam Brahma" "Semua ini sesungguhnya adalah Brahman."

Peran Brahman dalam Kosmologi Hindu

Brahman dianggap sebagai penyebab pertama dan kekuatan utama di balik penciptaan, pemeliharaan, dan kehancuran alam semesta. Dari Brahman muncul Trimurti: Brahma (Pencipta), Wisnu (Pemelihara), dan Siwa (Penghancur), yang mewakili manifestasi Brahman dalam aktivitas dunia.

Upaya Manusia untuk Mengerti Brahman

Karena Brahman bersifat transenden dan tidak dapat ditangkap oleh panca indera, manusia harus menggunakan pengetahuan spiritual (jnana) dan meditasi untuk mengalaminya secara langsung. Tujuan tertinggi dalam Hindu adalah moksha (pembebasan), yaitu menyadari kesatuan Atman dengan Brahman dan terbebas dari siklus kelahiran kembali (samsara).

Kesimpulan

Brahman dalam Hindu bukanlah Tuhan dalam arti antropomorfis (berwujud manusia), melainkan realitas tertinggi yang melampaui semua bentuk. Namun, demi menjangkau pemahaman manusia, Brahman dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk yang dapat dipuja. Hindu menghormati semua jalan menuju Tuhan, baik itu melalui bentuk (Saguna) maupun tanpa bentuk (Nirguna), dan mengajarkan bahwa semua makhluk pada akhirnya berasal dari dan akan kembali kepada Brahman.


Karma selingkuh Dalam Hindu Bali

On 3:50 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Dalam ajaran agama Hindu, termasuk yang dianut di Bali, perselingkuhan bukan hanya dianggap pelanggaran terhadap pasangan, tetapi juga pelanggaran terhadap dharma (kebenaran, hukum kosmis). Perilaku ini memiliki konsekuensi karma yang serius, baik secara spiritual maupun sosial.

Makna Selingkuh dalam Pandangan Hindu

Dalam Hindu Dharma, kesetiaan (satya) dan pengendalian diri (brahmacarya) adalah nilai utama dalam hubungan suami istri. Ketika seseorang selingkuh, ia melanggar prinsip dharma grihastha (tata laku kehidupan rumah tangga), yang mengatur tanggung jawab moral, etika, dan spiritual seorang individu dalam pernikahan.

Konsep Karma dalam Selingkuh

Karma adalah hukum sebab-akibat. Segala perbuatan baik maupun buruk akan kembali kepada pelakunya, di kehidupan sekarang maupun yang akan datang. Karma akibat selingkuh antara lain:

  1. Kehilangan keharmonisan rumah tangga
    Selingkuh merusak ikatan suci yang dibangun berdasarkan kepercayaan. Ini menciptakan penderitaan batin, pertengkaran, dan perpecahan.

  2. Mewarisi penderitaan dalam kehidupan berikutnya
    Dalam ajaran Hindu, karma buruk akibat menyakiti pasangan (secara fisik atau batin) bisa terbawa ke kelahiran berikutnya, seperti lahir dalam keadaan tidak bahagia, rumah tangga gagal, atau terus mengalami masalah hubungan.

  3. Menurunnya kualitas spiritual (adharma)
    Orang yang melanggar kesetiaan kehilangan kesucian batin, menjauh dari jalan dharma, dan lebih mudah terjerumus pada keserakahan, nafsu, dan penderitaan mental.

  4. Karma turun ke anak/keturunan (karma wasana)
    Dalam beberapa keyakinan Hindu Bali, penderitaan akibat karma buruk bisa diturunkan ke anak cucu, misalnya dalam bentuk nasib buruk, penyakit turunan, atau masalah sosial.

Penebusan Karma dan Jalan Dharma

Meskipun karma tidak bisa dihapus begitu saja, agama Hindu memberikan jalan untuk membersihkan diri, yaitu:
  • Bertobat dan mengakui kesalahan dengan tulus (prayaschitta)
  • Melakukan karma baik secara terus-menerus (karma yoga)
  • Mengikuti upacara penyucian diri seperti melukat, prayascitta, atau upacara guru piduka jika menyakiti pasangan
  • Mengendalikan hawa nafsu melalui latihan spiritual seperti meditasi, japa mantra, dan belajar sastra suci
  • Memperbaiki hubungan dengan pasangan dan keluarga, karena kehidupan rumah tangga adalah salah satu tahap penting menuju moksha (pembebasan spiritual)

Kesimpulan

Dalam Hindu, selingkuh bukan sekadar kesalahan pribadi, tapi pelanggaran spiritual yang berdampak luas secara karma. Kesetiaan adalah bentuk tertinggi dari dharma dalam rumah tangga. Siapa yang menjaga kesucian hubungan, akan diberkati kebahagiaan dan keharmonisan lahir batin.

Filosofi Ogoh-Ogoh Ratu Mas Mecaling

On 3:16 PM with No comments


Berita Hindu Indonesia - 
Ratu Gede Mas Mecaling adalah sosok mitologi yang sangat terkenal dalam kepercayaan masyarakat Bali, khususnya di kawasan Nusa Penida. Ia dikenal sebagai penguasa alam gaib di Nusa Penida dan dianggap sebagai pemimpin makhluk halus (leak) serta simbol kekuatan besar yang menakutkan dan misterius.

Walaupun sering diasosiasikan dengan kegelapan, Ratu Mas Mecaling juga dipercaya sebagai penjaga keseimbangan alam dan pelindung spiritual jika dihormati dengan benar. Karena itu, ia memiliki peran ganda: bisa menjadi ancaman bagi yang melanggar dharma, tapi juga menjadi pelindung bagi yang taat.

Filosofi dalam Bentuk Ogoh-Ogoh

Dalam perayaan Hari Raya Nyepi, umat Hindu di Bali membuat Ogoh-Ogoh boneka raksasa simbolisasi bhuta kala (unsur-unsur negatif atau kekuatan gelap). Salah satu wujud ogoh-ogoh yang paling ikonik adalah Ogoh-Ogoh Ratu Mas Mecaling. Filosofinya adalah:

  1. Simbol Kekuatan Adharma yang Harus Dinetralisir
    Ogoh-ogoh Ratu Mas Mecaling melambangkan kekuatan adharma (kejahatan, ego, amarah, kebencian) yang hidup di alam dan diri manusia. Dengan membuat wujudnya menjadi besar dan menyeramkan, masyarakat menyadari bahwa kekuatan negatif itu nyata dan bisa menghancurkan jika tidak dikendalikan.

  2. Pengingat Keseimbangan Alam
    Dalam ajaran Hindu Bali, kehidupan harus selalu seimbang antara dharma (kebaikan) dan adharma (kejahatan). Ratu Mas Mecaling tidak hanya dihormati sebagai ancaman, tapi juga sebagai bagian dari tatanan kosmis yang menjaga keseimbangan dunia.

  3. Pemurnian Diri dan Alam Menjelang Nyepi
    Prosesi ogoh-ogoh termasuk Ratu Mas Mecaling dilaksanakan sehari sebelum Nyepi (Tawur Kesanga). Ogoh-ogoh diarak keliling desa dan dibakar di akhir prosesi, sebagai simbol pengusiran unsur jahat dari lingkungan dan pemurnian diri menuju hari penyucian (Nyepi).

  4. Wujud Bhuta yang Bisa Jadi Pelindung
    Menariknya, meskipun berwujud seram, Ratu Mas Mecaling juga diyakini sebagai pelindung jika dihormati dan diberi persembahan secara benar. Ini mencerminkan ajaran Hindu bahwa tidak semua hal gelap harus dimusuhi — yang penting adalah memahami, menghormati, dan menjaga keseimbangan.

Ciri Khas Ogoh-Ogoh Ratu Mas Mecaling

  • Bertubuh besar dan berkulit hitam
  • Memiliki taring panjang dan mata melotot
  • Kadang memegang senjata atau tengkorak
  • Sering digambarkan menguasai makhluk halus atau pasukan leak

Kesimpulan

Ogoh-ogoh Ratu Mas Mecaling bukan sekadar karya seni atau pertunjukan budaya. Ia adalah simbol filosofis tentang pengendalian diri, kesadaran akan kekuatan negatif, dan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebaikan dan kejahatan dalam hidup.

Melalui ogoh-ogoh ini, masyarakat Bali diajak untuk tidak hanya melawan kekuatan luar, tetapi juga menaklukkan bhuta kala dalam diri sendiri seperti amarah, kebencian, dan keserakahan.

Apa Itu Potong Gigi Dan Apa Maknanya?

On 2:55 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Potong gigi atau dikenal sebagai Metatah, Mepandes, atau Mapandes, adalah upacara penyucian diri dalam ajaran agama Hindu, khususnya yang berkembang di Bali. Upacara ini merupakan bagian dari Catur Samskara, yaitu empat tahap upacara dalam kehidupan umat Hindu: Garbhadhana (kandungan), Jatakarma (kelahiran), Upanayana (pendidikan/pendewasaan), dan Antyeshti (kematian).

ilustrasi-Potong Gigi

Potong gigi masuk dalam tahapan Upanayana, yakni upacara pendewasaan atau peralihan dari masa remaja menuju dewasa.

Makna dan Tujuan Potong Gigi

Potong gigi memiliki makna simbolik dan spiritual yang sangat dalam. Dalam ajaran Hindu Dharma, manusia diyakini memiliki Sad Ripu, yaitu enam musuh dalam diri yang harus dikendalikan:

  1. Kama – Nafsu keinginan
  2. Krodha – Amarah
  3. Lobha – Keserakahan
  4. Moha – Kebingungan/bodoh rohani
  5. Mada – Kesombongan
  6. Matsarya – Iri hati

Dengan mengikir enam gigi atas (taring dan seri), simbolisnya adalah menumpulkan atau mengendalikan keenam sifat negatif tersebut. Tujuannya adalah:

  • Menyucikan diri secara spiritual
  • Menandai kedewasaan seseorang secara lahir dan batin
  • Mempersiapkan seseorang untuk hidup lebih bertanggung jawab, termasuk kesiapan menikah

Siapa yang Melakukan?

Upacara ini dilakukan oleh anak laki-laki dan perempuan yang telah beranjak remaja, biasanya saat usia belasan tahun atau ketika dianggap sudah cukup umur secara spiritual dan sosial. Namun, bisa juga dilakukan bersamaan dengan upacara pernikahan atau upacara kematian (bagi yang belum sempat metatah saat hidup).

Rangkaian Upacara

Upacara potong gigi dipimpin oleh seorang pendeta (sulinggih) atau pemangku, dengan diawali serangkaian ritual seperti:
  • Pembersihan diri (melukat)
  • Persembahan kepada leluhur dan dewa-dewa
  • Prosesi pengikiran gigi dengan alat khusus
  • Pemberian nasihat dan doa oleh orang tua dan pendeta
Upacara ini juga diiringi oleh upacara adat dan seni Bali seperti gamelan, tari-tarian, serta sajian sesajen yang khas.

Makna Sosial dan Budaya

Selain sebagai kewajiban keagamaan, potong gigi juga menjadi momen penting dalam kehidupan sosial keluarga Bali. Upacara ini mempererat ikatan keluarga, menunjukkan status sosial, serta melestarikan warisan budaya dan spiritual leluhur.

Kesimpulan

Potong gigi dalam ajaran Hindu bukan hanya tradisi turun-temurun, tetapi sebuah upacara sakral yang mengajarkan pengendalian diri, pendewasaan, dan penyucian jiwa. Ia adalah bentuk nyata dari ajaran Hindu tentang keseimbangan antara dharma (kebenaran), artha (kemakmuran), kama (keinginan), dan moksha (pembebasan).



Paguyuban Karangasem Gelar Anniversary ke-13 Purawanti Darma Sentul, Bogor Jawa Barat

On 11:50 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia – Paguyuban Karangasem se-Jakarta, Banten, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Pakar Jabodetabek), menggelar Anniversary ke-13 bertempat di di Purawanti Darma Sentul, Bogor Jawa Barat pada Minggu, 18 Mei 2025.

Dewan Pembina dan Ketua Umum Pakar

Peringatan hari ulang tahun ketujuh Pakar Jabodetabek tersebut, dihadiri sebanyak 520 anggota, ujar Ketua Umum Pakar IBapak Kolonel (Purn) TNI I Made Gaduh  kepada awak media massa di Jakarta.

Pakar adalah organisasi sosial yang memiliki visi dan misi untuk dapat mewujudkan peningkatan pembangunan SDM dan kegiatan sosial keagamaan dengan target sasaran, baik dalam internal anggota Pakar sendiri, maupun masyarakat di Kabupaten Karangasem, Bali. Ini merupakan salah satu wujud membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia.

seperti disampaikan ketua dewan penasehan pakar I Wayan Warka mengatakan kegiatan tersebut mewujudkan hubungan baik antara Umat Hindu Karangasem yang tinggal di rantaun  dan juga mewujudkan rasa saling kebersamaan dan kehidupan serta ikut andil dalam mendukung pemerintah karangasem.

Foto Bersama

Perayaan HUT Pakar ini dapatijadikan sebagai momentum untuk mempererat dan meningkatkan tali persaudaraan, menjaga persatuan dan kesatuan serta berkontribusi untuk membangun bangsa dan negara, Adapun saat ini Pakar telah banyak melakukan kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan dan keagamaan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu serta anak-anak sekolah yang berprestasi di Kabupaten Karangasem. Melalui Yayasan Purwa Kerthi, Pakar juga telah melakukan upaya penggalangan, dana baik dari internal anggota Pakar maupun dari kegiatan-kegiatan lainnya yang besifat resmi/sah tanpa mengikat, tutur Wayan.

Senada dengan pergerakan Pakar, maka Dalam Rangka Memperingati Hari Suci Nyepi Saka 1947, dan merayakan HUT Ke-13 Paguyuban Karangasem Sejababodetabek, Semeton Paguyuban Karangasem Jababodetabek bertekad untuk memantapkan soliditas dan kekompakan guna memperkokoh kebersamaan dan kesatuan bangsa’.

Hal tersebut merupakan langkah besar Pakar untuk meningkatkan kebersamaan dan kekompakan, khususnya internal anggota Pakar yang saling asah asih asuh dan mendukung pembangunan Kabupaten Karangasem untuk mewujudkan Karangasem yang cerdas, bersih dan bermartabat berlandaskan Tri Hita Karana dan memperkuat serta memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Acara HUT ke 13 Paguyuban Karangasem tersebut juga dihadiri Bapak Gede Pasek Suardika,.

Dalam perayaan kali ini Pakar juga menyerahkan bantuan beasiswa kepada anak-anak yang berprestasi dan kurang mampu. Ke depannya, HUT ini diharapkan tetap dapat dilaksanakan secara berkesinambungan oleh seluruh warga Karangasem perantauan yang ada di Jababodetabek, dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perayaan ulang tahun ini, kata Ketua Umum Pakar Bapak Kolonel (Purn) TNI I Made Gaduh 


Kisah Perang Puputan Bali  Perlawanan Terakhir yang Mengguncang Dunia

On 3:45 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Puputan bukan sekadar perang. Ia adalah peristiwa pengorbanan total, pertaruhan martabat, dan wujud ekstrem dari keberanian. Dalam sejarah Bali, Perang Puputan menjadi simbol kehormatan dan keteguhan rakyat Bali dalam menghadapi penjajahan, meskipun dengan nyawa sebagai taruhan.

Ilustrasi-Kisah Perang Puputan Bali

Makna Puputan
Kata puputan berasal dari bahasa Bali, yang berarti "tamat" atau "habis-habisan". Dalam konteks sejarah, puputan merujuk pada perlawanan tanpa kompromi terhadap penjajah Belanda yang dilakukan sampai titik darah penghabisan, tanpa menyerah, tanpa mundur, bahkan jika itu berarti kematian seluruh keluarga kerajaan dan rakyatnya.

Puputan Badung (1906): Api Perlawanan yang Membakar Dunia

Pada 20 September 1906, tentara kolonial Belanda mendarat di Sanur dengan kekuatan militer besar untuk menaklukkan Kerajaan Badung (sekarang Denpasar). Mereka menggunakan alasan diplomatik palsu mengklaim kerajaan tidak taat pada peraturan kolonial dan menolak membayar denda. Namun sejatinya, ini adalah ekspansi kekuasaan.

Yang mengejutkan dunia, alih-alih tunduk, Raja Badung, Anak Agung Ngurah Made Agung, justru memimpin ribuan rakyatnya laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak berpakaian putih upacara, menuju kematian.

Mereka berjalan tenang tanpa senjata, hanya membawa keris, tombak, atau benda sakral, disertai tabuhan gamelan. Saat Belanda membuka tembakan, ribuan rakyat Bali melakukan puputan, menyerbu pasukan dengan senjata seadanya, dan memilih mati terhormat daripada hidup dijajah.

Hasilnya ribuan jiwa gugur. Darah membanjiri Denpasar. Tapi dunia mulai tersadar ada bangsa kecil yang memilih mati demi kehormatan daripada menyerah pada kekuasaan asing.

Puputan Klungkung (1908): Akhir Dinasti, Awal Legenda

Tak lama berselang, giliran Kerajaan Klungkung menjadi sasaran. Belanda datang dengan ultimatum yang sama. Pada 28 April 1908, Raja Klungkung, Dewa Agung Jambe II, menyadari tidak ada jalan keluar selain puputan. Ia memimpin perlawanan terakhir bersama keluarga kerajaan dan pasukan setianya.

Di tengah dentuman meriam dan senapan Belanda, mereka bertempur mati-matian. Raja akhirnya gugur, bersama seluruh keluarganya. Klungkung jatuh, tapi semangat perlawanan rakyat Bali menjadi abadi.

Mengguncang Dunia, Menggetarkan Hati

Perang Puputan bukan hanya dikenal dalam catatan Indonesia, tapi juga menggetarkan dunia Barat. Banyak wartawan asing dan fotografer yang merekam peristiwa ini, lalu menyebarkannya ke Eropa. Dunia dibuat terpana: ada bangsa kecil yang lebih memilih bunuh diri massal daripada hidup dijajah. Salah satu kutipan terkenal dari penulis Belanda menyatakan:

“Kami mungkin menaklukkan tanah Bali, tapi kami tidak pernah bisa menaklukkan semangat mereka.”

Warisan Puputan: Keberanian dan Harga Diri Bangsa

Hari ini, monumen Puputan berdiri di Denpasar dan Klungkung sebagai pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibayar dengan pengorbanan luar biasa.

Perang Puputan Bali bukan soal kemenangan militer. Tapi tentang kehormatan, identitas, dan tekad untuk tidak tunduk pada ketidakadilan. Semangat ini hidup dalam masyarakat Bali hingga kini dalam adat, dalam seni, dan dalam jiwa mereka yang tetap menjunjung tinggi kemuliaan budaya di tengah arus zaman. 

Tujuan hidup manusia menurut Hindu Bali Berdasarkan Catur Purusa Artha

On 3:59 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Menurut ajaran Hindu, tujuan hidup manusia adalah mencapai Moksha atau pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian (samsara). Untuk mencapai Moksha, manusia harus menjalani hidup yang sesuai dengan Dharma (jalan kebenaran) dan mengatasi Karma (tindakan dan akibatnya).

ilustrasi - Catur Purusa Artha
Tujuan Hidup Utama Moksha

Moksha adalah tujuan hidup utama dalam ajaran Hindu. Moksha berarti pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian (samsara) yang terus-menerus. Ketika seseorang mencapai Moksha, mereka mencapai kesadaran spiritual yang tinggi dan kesatuan dengan Tuhan. Moksha adalah keadaan di mana jiwa individu (Atman) bersatu dengan jiwa universal (Brahman).

Empat Tujuan Hidup (Purushartha) Untuk mencapai Moksha, seseorang harus menjalani hidup yang sesuai dengan empat tujuan hidup, yaitu:
  1. Dharma (Kewajiban dan Tanggung Jawab) Dharma adalah kewajiban dan tanggung jawab yang harus dijalani oleh setiap individu. Dharma meliputi kewajiban agama, sosial, dan moral. Menjalani hidup sesuai dengan Dharma membantu seseorang mencapai kesadaran spiritual dan meningkatkan kualitas hidup.
  2. Artha (Kemakmuran dan Kekayaan): Artha adalah kemakmuran dan kekayaan yang diperoleh melalui kerja keras dan usaha yang halal. Artha digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membantu orang lain.
  3. Kama (Keinginan dan Kenikmatan) Kama adalah keinginan dan kenikmatan yang positif. Kama meliputi keinginan untuk memiliki keluarga, memiliki anak, dan menikmati kehidupan. Namun, Kama harus dijalani dengan tidak berlebihan dan tidak merugikan orang lain.
  4. Moksha (Pembebasan) Moksha adalah tujuan hidup utama yang telah disebutkan sebelumnya.
Cara Mencapai Tujuan Hidup untuk mencapai tujuan hidup seseorang harus menjalani hidup yang sesuai dengan prinsip-prinsip berikut:
  • Menjalani hidup sesuai dengan Dharma Menjalani hidup sesuai dengan kewajiban dan tanggung jawab agama, sosial, dan moral.
  • Mengembangkan kesadaran spiritual Mengembangkan kesadaran spiritual melalui meditasi, yoga, dan kegiatan spiritual lainnya.
  • Mengatasi ego dan keinginan negatif Mengatasi ego dan keinginan negatif yang dapat menghambat pencapaian tujuan hidup.
  • Mencari pengetahuan dan kebijaksanaan Mencari pengetahuan dan kebijaksanaan melalui studi kitab suci, pengalaman hidup, dan nasihat dari orang bijak.
  • Menjalani hidup dengan sederhana Menjalani hidup dengan sederhana dan tidak berlebihan, sehingga dapat menikmati kehidupan dengan lebih baik.
Kesimpulan
Selain itu, dalam Hindu Bali juga dikenal Tri Hita Karana, yaitu keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Dengan mengimplementasikan Tri Hita Karana, manusia dapat mencapai keharmonisan dan kesejahteraan dalam kehidupan. 
Makna dan Filosofi Rahina Wraspati Paing Medangsia Dalam Kepercayaan Umat Hindu Bali

On 9:40 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Rahina Wraspati Paing Medangsia adalah salah satu hari baik dalam kalender Bali yang dipercaya membawa keberuntungan dan kesuksesan. Dalam kepercayaan Hindu di Bali, setiap hari memiliki makna dan energi yang berbeda-beda.

Ilustrasi- Rahina Wraspati Paing Medangsia

Wraspati Paing Medangsia dianggap sebagai waktu yang tepat untuk melakukan aktivitas penting seperti upacara, ritual, atau memulai usaha baru yang terdiri dari:

  1. Wraspati: Merupakan hari kelima dalam siklus hari dalam seminggu menurut kalender Bali, yang terdiri dari Redite, Soma, Anggara, Buda, Wraspati, Sukra, dan Saniscara.
  2. Paing: Salah satu dari lima hari dalam siklus pancawara, yang meliputi Umanis, Paing, Pon, Wage, dan Kliwon. Paing dipercaya membawa energi positif dan kekuatan.
  3. Medangsia: Salah satu dari 15 jenis bulan dalam kalender Pawukon Bali. Setiap bulan memiliki karakteristik dan makna tersendiri.

Makna dari Rahina Wraspati Paing Medangsia dapat diartikan sebagai berikut:

  1. Wraspati Mewakili hari kelima dalam siklus hari Bali, yang diperintah oleh Dewa Guru atau Dewa Siwa, melambangkan kebijaksanaan dan pengetahuan.
  2. Paing Mewakili energi positif, kekuatan, dan keberanian.
  3. Medangsia Salah satu bulan dalam kalender Pawukon yang dipercaya membawa keberuntungan dan kesuksesan.

Dengan demikian, Rahina Wraspati Paing Medangsia dapat diartikan sebagai hari yang baik untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan:

  • Mencari pengetahuan dan kebijaksanaan
  • Meningkatkan kekuatan dan keberanian
  • Melakukan aktivitas yang membawa keberuntungan dan kesuksesan

Hari ini dianggap tepat untuk melakukan upacara, ritual, atau kegiatan lain yang bertujuan untuk meningkatkan spiritualitas, kesuksesan, dan keberuntungan.

Filosofi Rahina Wraspati Paing Medangsia dapat diartikan sebagai:

  1. Keseimbangan dan Harmoni: Kombinasi Wraspati, Paing, dan Medangsia dipercaya membawa keseimbangan dan harmoni antara energi spiritual dan material.
  2. Kebijaksanaan dan Pengetahuan: Wraspati melambangkan kebijaksanaan dan pengetahuan, mengajarkan pentingnya mencari ilmu dan memahami diri sendiri.
  3. Kekuatan dan Keberanian: Paing melambangkan kekuatan dan keberanian, mengajarkan pentingnya memiliki keberanian untuk menghadapi tantangan dan mencapai tujuan.
  4. Keberuntungan dan Kesuksesan: Medangsia dipercaya membawa keberuntungan dan kesuksesan, mengajarkan pentingnya memiliki sikap positif dan optimis dalam mencapai tujuan.

Dengan demikian, filosofi Rahina Wraspati Paing Medangsia dapat diartikan sebagai:

  • Mencari keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan
  • Mengembangkan kebijaksanaan dan pengetahuan
  • Memiliki kekuatan dan keberanian untuk menghadapi tantangan
  • Mengoptimalkan keberuntungan dan kesuksesan

Filosofi ini dapat menjadi pedoman bagi umat Hindu di Bali untuk menjalani kehidupan yang lebih seimbang, bijak, dan sukses.

Kesimpulan
Kombinasi dari ketiga elemen ini dipercaya membawa keberuntungan dan kesuksesan, sehingga banyak umat Hindu di Bali yang memilih hari ini untuk melakukan aktivitas penting seperti upacara, ritual keagamaan, memulai usaha baru, atau kegiatan lain yang dianggap memerlukan energi positif.

Setiap orang memiliki keyakinan dan tradisi yang berbeda-beda dalam menentukan hari baik untuk melakukan sesuatu, dan Rahina Wraspati Paing Medangsia adalah salah satu hari yang dianggap membawa keberuntungan dan kesuksesan dalam banyak aspek kehidupan. 


Kajeng Kliwon Merupakan Hari Keramat Dalam Kalender Hindu Bali

On 2:29 PM with No comments

Berita Hindu IndonesiaKajeng Kliwon adalah hari keramat dalam kalender Hindu Bali yang diperingati setiap 15 hari sekali. Dipercaya bahwa pada hari ini, kekuatan negatif mudah muncul dan mengganggu keseimbangan alam. Upacara Kajeng Kliwon dilakukan untuk menghormati Sanghyang Siwa dan menjaga keseimbangan alam

Ilustrasi-Kajeng Kliwon

Adapun beberapa hal yang harus dipaham dalam pelaksanan Kajeng Kliwon

  1. Kajeng Kliwon sebagai hari keramat
    Umat Hindu di Bali percaya bahwa Kajeng Kliwon adalah hari yang sakral dan dihormati.
  2. Pemujaan Sanghyang Siwa
    Kajeng Kliwon dianggap sebagai hari untuk memuja Sanghyang Siwa, yang diyakini sedang bersemedi pada hari itu.
  3. Kekuatan negativ
    Pada hari ini, diyakini bahwa kekuatan negatif dari dalam diri maupun dari luar dapat muncul dan mengganggu keseimbangan alam.
  4. Upacara Kajeng Kliwon
    Umat Hindu melakukan berbagai upacara untuk menyeimbangkan alam dan menghormati Sanghyang Siwa. Upacara ini termasuk dalam upacara Dewa Yadnya.
  5.  Perayaan setiap 15 hari sekali
    Kajeng Kliwon dirayakan setiap 15 hari sekali dan dapat dibagi menjadi Kajeng Kliwon Uwudan, Kajeng Kliwon Enyitan, dan Kajeng Kliwon Pamelastali (Watugunung Runtuh) yang datang setiap enam bulan sekali.
  6. Banten Segehan
    Pada saat Kajeng Kliwon, umat Hindu biasanya menghaturkan banten segehan sebagai sarana penetralisir kekuatan negatif, ditujukan untuk para bhuta kala agar tidak mengganggu kehidupan manusia.
  7. Tipat Dampula
    Selain banten segehan, sarana yang khas saat Kajeng Kliwon adalah tipat dampulan atau ketupat berbentuk kura-kura yang terbuat dari janur, ditujukan kepada alam atas atau bhuwana agung.
Jenis-jenis Kajeng Kliwon
  1. Kajeng Kliwon Uwudan (setelah purnama)
  2. Kajeng Kliwon Enyitan (setelah bulan mati)
  3. Kajeng Kliwon Pamelastali (Watugunung Runtuh yang datang enam bulan sekali)
Kesimpulan
Kajeng Kliwon diyakini sebagai hari yang tepat untuk memohon ampunan dan perlindungan dari Sang Hyang Widhi, sehingga umat Hindu di Bali sangat menghormati dan merayakan hari ini dengan penuh khidmat.

 

Makna Purnama Jyeshta Bagi Umat Hindu Bali

On 12:15 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Purnama adalah hari suci yang dirayakan pada saat bulan purnama (bulan penuh) dalam agama Hindu. Purnama Jyeshta adalah salah satu dari 12 Purnama dalam kalender Hindu, yang jatuh pada bulan Jyeshta (Mei-Juni). Arti Purnama Jyeshta Purnama Jyeshta dirayakan sebagai hari suci untuk memuja Dewa-Dewi dan memohon berkah serta perlindungan dari-Nya. Pada hari ini, umat Hindu melakukan berbagai ritual dan upacara keagamaan untuk memohon ampunan dan perlindungan dari Tuhan.

Ilustrasi-Purnama Jyeshta

Adapun Makna  Purnama Jyeshta memiliki makna yang mendalam dalam agama Hindu, yaitu:

  1. Pemujaan Dewa-Dewi Purnama Jyeshta adalah hari untuk memuja Dewa-Dewi dan memohon berkah serta perlindungan dari-Nya.
  2. Pembersihan Diri Pada hari Purnama Jyeshta, umat Hindu melakukan pembersihan diri dengan air untuk membersihkan badan dan jiwa.
  3. Ampunan dan Perlindungan Purnama Jyeshta adalah hari untuk memohon ampunan dan perlindungan dari Tuhan.

Konsep Ritual dan Upacara Pada hari Purnama Jyeshta, umat Hindu melakukan berbagai ritual dan upacara keagamaan, seperti:

  1. Pemujaan Umat Hindu melakukan puja dan worship kepada Dewa-Dewi untuk memohon berkah dan perlindungan.
  2. Upacara Persembahyangan Umat Hindu melakukan upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya.
  3. Pembersihan Diri Umat Hindu melakukan pembersihan diri dengan air untuk membersihkan badan dan jiwa.
  4. Keseimbangan hidup: Purnama Jiyestha mengingatkan manusia akan adanya dua sisi yang saling bertentangan dalam kehidupan, yaitu gelap dan terang, kehidupan dan kematian, baik dan buruk.

Manfaat Purnama Jyeshta Purnama Jyeshta memiliki manfaat yang besar bagi umat Hindu, yaitu:

  1. Mendapatkan Berkah Umat Hindu dapat memohon berkah dan perlindungan dari Tuhan.
  2. Pembersihan Diri Umat Hindu dapat membersihkan badan dan jiwa dengan melakukan pembersihan diri.
  3. Meningkatkan Spiritualitas Purnama Jyeshta dapat meningkatkan spiritualitas umat Hindu dengan melakukan ritual dan upacara keagamaan.

Kesimpulan
Purnama Jyeshta merupakan hari suci yang penting bagi umat Hindu untuk melakukan ritual dan upacara keagamaan, memohon ampunan dan perlindungan dari Tuhan, serta meningkatkan spiritualitas.

Tujuan Utama Pencapaian Atman/Roh Dalam Ajaran Agama Hindu

On 5:55 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Atman dalam ajaran agama Hindu adalah konsep tentang jiwa atau roh yang kekal dan tidak dapat dihancurkan. Atman adalah esensi atau substansi yang paling mendasar dari setiap makhluk hidup. Atman diyakini sebagai jiwa atau roh yang kekal dan tidak dapat dihancurkan.

Atman/roh 

Berikut penjelasan lebih detail tentang konsep Atman dalam agama Hindu:

  1. Kekal Atman tidak dapat dihancurkan dan kekal sepanjang waktu.
  2. Tidak dapat dibagi: Atman tidak dapat dibagi atau dipisahkan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
  3. Tidak dapat diubah: Atman tidak dapat diubah atau dimodifikasi dalam bentuk apapun.
  4. Sederhana Atman tidak memiliki struktur atau komposisi yang kompleks.
  5. Tidak dapat dijangkau oleh indera: Atman tidak dapat dijangkau atau dipahami melalui indera manusia.

Adapun Hubungan Atman dengan Brahman. Dalam ajaran agama Hindu, Atman diyakini memiliki hubungan yang sangat erat dengan Brahman, yaitu Tuhan atau Realitas Ultimate. Beberapa aliran dalam agama Hindu meyakini bahwa:

  1. Atman adalah bagian dari Brahman: Atman diyakini sebagai bagian dari Brahman, seperti percikan api yang berasal dari api besar.
  2. Atman identik dengan Brahman: Atman diyakini identik dengan Brahman, seperti gelombang laut yang tidak berbeda dengan laut itu sendiri.

Tujuan utama  pencapaian atman dalam ajaran agama Hindu adalah mencapai kesadaran akan Atman dan hubungan-Nya dengan Brahman. Hal ini dapat dicapai melalui berbagai praktik spiritual, seperti:

  1. Meditasi dapat membantu meningkatkan kesadaran akan Atman dan hubungan-Nya dengan Brahman.
  2. Yoga dapat membantu meningkatkan kesadaran akan Atman dan hubungan-Nya dengan Brahman melalui praktik fisik, mental, dan spiritual.
  3. Bhakti dapat membantu meningkatkan kesadaran akan Atman dan hubungan-Nya dengan Brahman melalui praktik devosi dan pengabdian.

Konsep Atman dalam Berbagai Aliran juga memiliki perbedaan dalam berbagai aliran agama Hindu, seperti:

  1. Advaita Vedanta Aliran ini meyakini bahwa Atman identik dengan Brahman dan bahwa tujuan hidup adalah mencapai kesadaran akan kesatuan ini.
  2. Dvaita Vedanta Aliran ini meyakini bahwa Atman adalah bagian dari Brahman, tetapi memiliki identitas yang berbeda
  3. Vishishtadvaita Vedanta: Aliran ini meyakini bahwa Atman adalah bagian dari Brahman, tetapi memiliki sifat dan karakteristik yang unik.

Kesimpulan
Dalam beberapa aliran filsafat Hindu, seperti Vedanta, Atman diidentifikasi dengan Brahman, menunjukkan bahwa hakikat diri sejati adalah sama dengan Tuhan. Konsep Atman ini menjadi dasar penting dalam memahami hakikat kehidupan dan tujuan spiritual dalam agama Hindu. 

Makna Canang Sari Bagi Umat Hindu Bali

On 11:41 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Canang dalam agama Hindu Bali memiliki makna sebagai persembahan yang sarat filosofi, di mana setiap komponennya memiliki simbolisme tersendiri. Canang merupakan persembahan sehari-hari yang tidak bisa dilepaskan dari praktik ibadah umat Hindu Bali.

Filosofi atau Makna Canang Sari

Ada 8 filosofi atau makna canang dalam Agama Hindu yang harus di ketahu umat Hindu Bali:

  1. Persembahan kecil yang berarti dan iklas
    Canang sering dianggap sebagai persembahan kecil, namun memiliki nilai yang sangat penting dalam ritual Hindu Bali. Keberadaan canang menunjukkan rasa syukur dan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan). 

  2. Simbol bahasa weda 
    Canang juga dianggap sebagai simbol bahasa Weda untuk memohon kekuatan kepada Sang Hyang Widhi, yaitu untuk memohon Widya (pengetahuan) untuk Bhuwana Alit (dunia mikro) dan Bhuwana Agung (dunia makro).

  3. Simbol perpaduan keindahan dan tujuan
    kata 'canang' sendiri berasal dari bahsa Jawa Kuno, "can" yang berarti indah dan 'nang' yang berarti tujuan, yang menunjukkan perpaduan antara keindahan dan tujuan dalam persembahan.

  4. Porosan sebagai hujud ketuhanan
    Porosan, yaitu unsur utama canang yang terdiri dari sirih, pinang, dan kapur, memiliki makna bahwa persembahan harus dilandasi hati yang welas asih dan tulus.
     
  5. Kekuatan Upeti, Stiti, Prelina
    Jajan, tebu, dan pisang dalam canang merupakan simbol Tedong Ongkara yang melambangkan kekuatan Upeti (pencipta), Stiti (pemelihara), dan Pralina (perusak) dalam kehidupan.
     
  6. Sampian uras sebagai roda kehidupan
    Sampian Uras (rangkaian janur) yang ditata berbentuk bundar melambangkan roda kehidupan dengan delapan karakteristik yang menyertai setiap kehidupan manusia. 

  7. Minyak wangi sebagai ketahanan jiwa
    Minyak wangi atau wewangian yang terkandung dalam canang melambangkan ketenangan jiwa dan pengendalian diri. 

  8. Kekuatan para dewa-dewi
Bunga-bunga dalam canang juga memiliki simbolisme, misalnya bunga putih di timur sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Iswara dan bunga merah di selatan sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Brahma. 

Kesimpulan
Secara keseluruhan, canang dalam agama Hindu Bali adalah persembahan yang kaya makna, simbolisasi, dan filosofi yang mendalam, yang mencerminkan rasa syukur, ketulusan, dan pemahaman tentang alam semesta dan kehidupan manusia. Canang Sari memiliki makna yang sangat dalam dan penting dalam agama Hindu, 

 

 



Patih Gaja Mada Menerapkan 8 Kepemimpinan Dalam Asta Brata

On 10:13 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Astra Brata adalah delapan sifat kepemimpinan menurut Hindu ajaran ini diberikan Sri Rama kepada Wibhisana saat menyerahkan kerajaan Alangka setelah kematian Rahwana  Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Pustaka Suci Manu Smrti IX.303 berikut ini Hendaknya raja berbuat seperti perilaku yang sama dengan dewa-dewa, Indra, Surya, Wayu, Yama, Waruna, Candra, Agni dan Prthiwi (Pudja dan Sudharta, 2002: 607). yaitu :

Patih Gajah Mada Menerapkan Asta Brata Dalam Kepemimpinanya
  1. Indra Brata : Serang pemimpin hendaknya seperti hujan yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam setiap tindakannya membawa kesejukan dan penuh kewibawaan.
  2. Yama Brata : Seorang pemimpin hendaknya meneladani sifat-sifat Dewa Yama yaitu berani menegakan keadian menurut Hukum atau Peraturan yang berlaku demi mengayomi masyarakat tanpa pandang bulu.
  3. Surya Brata : Seorang pemimpinhendaknya memiliki sifat-sifat seperti Matahari (surya) yang mampu memberikan semnagt dan kekuatan pada kehidupan yang penuh dinamika dan sebagai sumber energi dn menyinari tanpa pandang bentuk.
  4. Candra Brata : Seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti bulan yiu mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kegelapan/kebodohan dengan menampilkan wajah yang penuh kesejukan dan penuh simpati sehingga masyarakatnya merasa tentram dan hidup nyaman.
  5. Vayu Brata : Seorang pemimpin hendaknya ibarat angin (maruta), senantiasa berada ditengah-tengah masyaraatnya, memberikan kesegaran dan selalu turun kebawah untuk mengenal denyut kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.
  6. Bhumi Brata :  Seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat utamadari bumi yaitu yang teguh, menjadi landasan berpijak dan memberi segala yang dimiliki untuk kesejahteraan masyarakat.
  7. Varuna Brata : Seorang pemimpin hendaknya bersifat seperti samudra yaitu memiliki wawasan yang luas, mampu mengatasi setiap gejolak dengan baik, penuh kearifan dan kebijaksannan.
  8. Agnin Brata : Seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat mulia dari api yaitu mmitivasi dan berpartisipasi dalam pembangunan, tetap teguh dan tegak dalam prinsip dan menindak/menghanguskan yang bersalah tanpa pilih kasih.

           Seandainya hal-hal yang baik diatas bisa kita tiru dan kita terapkan didalam kehidupan kita sehari-hari dalam komunitas majemuk, dengan saling aktif bertukar informasi positive yang membangun, dengan saling bertukar visi (Vision), saling mengarahkan (direction), saling mempengaruhi/mendorong kreativitas (persuasion), saling mendukung (support), saling membangun (development), serta saling menghargai (appreciation) seperti tertuang dalam six dimension of High Performance Leadership Program dan ASTA BRATA, saya yakin kita semua bisa sama-sama mencapai tujuan bersama yaitu menuju tangga kemajuan, dan membuat hidup ini menjadi lebih bermakna, tidak hanya buat diri kita sendiri tapi juga keberadaan kita bermanfaat buat orang lain.
Tata Cara Menanam Ari-Ari Bayi Secara Hindu dengan Cara Sederhana

On 2:11 PM with No comments

 

Tata Cara Menanam Ari-Ari Bayi

Berita Hindu Indonesia -  Dalam tradisi Hindu, menanam ari-ari atau plasenta bayi merupakan salah satu upacara sakral yang melambangkan rasa hormat kepada leluhur, alam semesta, dan kekuatan spiritual yang melindungi bayi. Berikut adalah tata cara umumnya dalam agama Hindu, meskipun bisa sedikit berbeda tergantung pada budaya lokal atau adat istiadat:

1. Persiapan Ritual

  • Keluarga menyiapkan perlengkapan ritual seperti kembang, dupa, air suci, dan beberapa persembahan (misalnya bunga, kemenyan, dan beras).
  • Ari-ari ditempatkan dalam wadah khusus, biasanya berupa kendi tanah liat atau tempurung kelapa.

2. Pemilihan Lokasi Penanaman

  • Ari-ari biasanya ditanam di sekitar rumah, terutama di area yang aman dan tenang. Lokasinya sering dipilih dengan mempertimbangkan arah dan energi positif menurut ajaran vastu atau tradisi setempat.
  • Di beberapa daerah, lokasi diatur dengan memerhatikan posisi bayi dalam keluarga dan simbolik seperti arah matahari terbit.

3. Upacara Penyucian

  • Sebelum menanam, ari-ari disucikan dengan air suci (tirtha) atau air kelapa, lalu diberi bunga, kunyit, dan sesaji lainnya.
  • Terkadang, ari-ari juga dioleskan dengan minyak kelapa atau minyak wangi untuk menghormati hubungan bayi dengan alam.

4. Doa dan Persembahan

  • Setelah ari-ari disiapkan, pemimpin ritual (biasanya orang tua, sesepuh, atau pendeta) mengucapkan doa-doa khusus untuk memohon berkah, perlindungan, dan kesejahteraan bagi bayi.
  • Dupa dinyalakan, dan persembahan seperti bunga, buah, dan beras ditempatkan di sekitar lokasi penanaman.

5. Penanaman

  • Ari-ari kemudian dikubur di dalam tanah dengan hati-hati, biasanya disertai dengan tanah, batu, atau benda lain sebagai simbol kekuatan dan kestabilan.
  • Setelah menanam, ditaburkan bunga dan beras di atasnya sebagai simbol kesejahteraan.

6. Penutupan dan Berkah

  • Setelah upacara selesai, keluarga memberikan doa penutup dan berterima kasih kepada Dewa atau leluhur yang telah melindungi bayi.
  • Beberapa keluarga juga memasang tanda seperti batu atau tanaman kecil di atas lokasi tersebut sebagai simbol perlindungan dan penghormatan.

Makna Filosofis

Dalam Hindu, ari-ari dianggap sebagai "saudara kembar" atau sahabat bayi yang melindungi dan mendampingi kehidupannya sejak dalam kandungan. Menanam ari-ari berarti mengembalikan bagian tubuh yang suci ini kepada Ibu Pertiwi dengan rasa syukur. Upacara ini juga melambangkan hubungan bayi dengan alam dan leluhur, dan merupakan permohonan agar ia tumbuh menjadi pribadi yang seimbang dan diberkati.

Setiap daerah atau komunitas Hindu mungkin memiliki variasi tata cara yang berbeda, tergantung pada adat istiadat lokal.