Berita Hindu Indonesia

Berita Hindu Indonesia

Media Informasi Terkini Masyarakat Hindu Indonesia

Deskripsi-Gambar

Iklan Leo Shop

Pasang iklan disini

TWITTER

Powered by Blogger.
Jadwal Rahinan Umat Hindu Bulan Januari 2026

On 1:28 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Umat Hindu di Bali dan berbagai daerah di Indonesia akan menjalani sejumlah hari suci (rahinan) sepanjang bulan Januari 2026. Rahinan tersebut merupakan bagian penting dalam pelaksanaan ajaran agama Hindu sebagai momentum peningkatan sraddha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Ilustrasi
Berdasarkan perhitungan Kalender Bali (Wariga), terdapat beberapa rahinan utama yang jatuh pada bulan Januari 2026, mulai dari Tumpek, Purnama, Tilem, hingga hari-hari suci lainnya yang berkaitan dengan siklus pawukon dan sasih.

Adapun jadwal rahinan umat Hindu bulan Januari 2026 adalah sebagai berikut:

  • Sabtu, 3 Januari 2026

Tumpek Krulut dan Purnama

→ Hari pemujaan terhadap seni, keindahan, dan keharmonisan.

  • Rabu, 7 Januari 2026

Buda Wage Merakih

→ Hari baik untuk memulai pekerjaan dan kegiatan usaha.

  • Jumat, 9 Januari 2026

Hari Bhatara Sri

→ Hari pemujaan Dewi Sri sebagai simbol kemakmuran dan kesuburan.

  • Selasa, 13 Januari 2026

Anggara Kasih Tambir dan Kajeng Kliwon Uwudan

→ Hari penyucian diri dan peningkatan kesadaran spiritual.

  • Sabtu, 17 Januari 2026

Hari Siwa Ratri

→ Malam perenungan diri dan pengendalian hawa nafsu melalui brata Siwa Ratri.

  • Minggu, 18 Januari 2026

Tilem

→ Hari introspeksi dan pembersihan lahir batin.

  • Selasa, 20 Januari 2026

Anggara Paing Medangkungan

→ Hari suci dalam siklus pawukon.

  • Kamis, 28 Januari 2026

Kajeng Kliwon Enyitan dan Buda Kliwon Matal

→ Hari pemujaan untuk keseimbangan antara sekala dan niskala.

Masyarakat Hindu diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan baik dalam menyambut rahinan-rahina tersebut, baik melalui persembahyangan di pura, pelaksanaan upacara yadnya, maupun pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan memahami dan melaksanakan rahinan secara tulus, diharapkan nilai-nilai dharma, keharmonisan, serta keseimbangan alam semesta (Tri Hita Karana) dapat terus terjaga.


Youtube Channel



Makna Tattwa Mamukur dan Ngider Bhuwana

On 3:19 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Bagi umat Hindu di Bali, Ngaben bukanlah akhir. Tahapan penyucian dan peneguhan terakhir atma adalah Mamukur atau Ngerorasin, yang umumnya dilaksanakan 12 hari setelah Ngaben (tergantung Desa Kala Patra).

Menurut Dosen Pendidikan Agama Hindu, Nyoman Ariyoga, M.Pd. H, Mamukur adalah ritus transisional akhir yang menyempurnakan pelepasan roh leluhur, membersihkannya dari sisa pengaruh karma wasana, agar layak dipuja sebagai Dewa Pitara.

ilustrasi

Makna Tattwa Mamukur dan Ngider Bhuwana

Mamukur wajib dilakukan. Dalam Lontar Yama Purwa Tattwa disebutkan, tanpa Mamukur, atma belum dapat berjalan menuju alam sorga. Salah satu prosesi kunci adalah gerakan Ngider Bhuwana dengan arah Purwa Daksina (mengitari dari Timur ke Selatan). Gerakan ini dimaknai sebagai:
  1. Penyelarasan: Menyelaraskan diri dan roh leluhur dengan hukum gerakan alam semesta.
  2. Jalan Naik Atma: Berfungsi sebagai sarana simbolik untuk mengarahkan roh menuju tingkat kesucian yang lebih tinggi (Pitraloka).
Beda Tujuan, Beda Putaran!
Menariknya, arah putaran ritual di Bali memiliki makna filosofis yang mendalam:
  • Dewa Yadnya (Odalan/Pura): Menggunakan arah Pradaksina (searah jarum jam) untuk pemuliaan dan penghormatan tertinggi.
  • Pitra Yadnya (Mamukur/Ngerorasin): Menggunakan Purwa Daksina (Timur ke Selatan) sebagai sarana perjalanan pemuliaan atman.
  • Bhuta Yadnya (Penetralkan Negatif): Menggunakan arah Prasawya (berlawanan jarum jam) sebagai simbol pelepasan dan penguraian energi negatif.
Dengan memahami perbedaan ini, terlihat bahwa arah putaran ritual di Bali bukanlah sekadar teknis, melainkan bahasa simbolik suci yang menentukan keberhasilan spiritual upacara.
Seberapa penting memahami makna filosofis (tattwa) di balik setiap gerakan ritual, seperti arah putaran Ngider Bhuwana, agar pelaksanaan upacara yadnya menjadi sempurna?


Youtube Channel 


Sering Ucapkan “Astungkare”, Tapi Tahu Artinya?

On 5:30 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu Bali, kata “Astungkare” sering diucapkan, baik saat berbicara, menanggapi harapan, maupun ketika mengakhiri doa. Namun, tidak semua orang benar-benar memahami makna dan kedalaman filosofis di balik kata sederhana ini.

Makna Kata “Astungkare”

Secara etimologis, kata “Astungkare” berasal dari bahasa Sanskerta:

  • Astu berarti semoga terjadi, atau biarlah demikian.
  • Kāra berarti perbuatan atau tindakan.

Sehingga Astungkare dapat dimaknai sebagai “semoga dikehendaki oleh Tuhan” atau “biarlah hal itu terjadi dengan restu Sang Hyang Widhi Wasa”.

Makna ini menunjukkan bahwa setiap keinginan, rencana, dan usaha manusia pada akhirnya diserahkan kepada kehendak Tuhan. Dalam ajaran Hindu, ini mencerminkan nilai tattwa pasrah dan sraddha (keyakinan) terhadap kekuatan ilahi yang mengatur alam semesta.

ilustrasi

Makna Filosofis dalam Kehidupan

Umat Hindu meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa izin Tuhan. Mengucapkan “Astungkare” berarti menegaskan kesadaran bahwa manusia hanyalah alat dalam kehendak ilahi.

Kata ini juga menjadi pengingat spiritual agar kita tidak terlalu sombong atas keberhasilan maupun terlalu kecewa atas kegagalan, sebab segalanya terjadi atas restu dan takdir Tuhan.

Contoh dalam percakapan:

“Besok saya ujian, Astungkare lancar.”

“Anaknya mau menikah bulan depan, Astungkare semua berjalan baik.”

Di sini, kata Astungkare berfungsi sebagai doa dan penyerahan diri, bukan sekadar kata pengharapan.

Nilai Spiritualitas

Dalam konteks ajaran Tattwa Hindu, Astungkare mengajarkan keseimbangan antara usaha (karma) dan penyerahan diri (bhakti).

Manusia wajib berusaha sebaik-baiknya, namun hasilnya tetap dikembalikan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Kesimpulan

Mengucapkan “Astungkare” bukan hanya tradisi, tetapi juga bentuk kesadaran spiritual bahwa hidup ini tidak sepenuhnya berada di tangan manusia. Kata ini mengajarkan kita untuk tetap rendah hati, percaya pada kehendak Tuhan, dan bersyukur atas setiap hasil yang diberikan.


Sumber:

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Ajaran Tattwa dan Etika Hindu Bali, 2018.

Titib, I Made. Teologi dan Filsafat Hindu, Paramita Surabaya, 2003.

Wiana, I Ketut. Makna Simbol dan Upacara Keagamaan Hindu di Bali, Paramita, 2010.


channel youtube

Bolehkah Permen atau Jajan Ada di Canang yang Sering Kita Lihat?

On 3:05 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Pertanyaan ini muncul karena dalam praktik sehari-hari umat Hindu di Bali, sering terlihat permen atau jajan pabrikan diletakkan di atas canang sari sebuah persembahan suci yang ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Secara tattwa (filsafat Hindu), canang sari merupakan simbol ketulusan bhakti dan rasa syukur umat kepada Tuhan. Unsur utama dalam canang biasanya terdiri dari bahan alami seperti janur, bunga, daun, dan porosan. Semua itu melambangkan keselarasan antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana).

Ketika ditambahkan permen atau jajan, hal ini menimbulkan pertanyaan apakah sesuai dengan nilai kesucian banten. Secara prinsip, banten seharusnya berasal dari unsur alami karena memiliki energi murni (sattwika).

Namun, permen atau jajan tidak sepenuhnya dilarang, terutama jika digunakan sebagai banten pelengkap atau dalam konteks sederhana, misalnya untuk anak-anak atau banten harian di rumah.

ilustrasi

Makna Canang dalam Tradisi Hindu Bali

Canang sari adalah salah satu bentuk banten (persembahan suci) yang menjadi simbol rasa bhakti dan terima kasih umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam canang sari, biasanya terdapat unsur utama seperti janur (kelapa muda), bunga, porosan (sirih, kapur, pinang), dan sampian.

Setiap unsur memiliki makna filosofis yang dalam, seperti:

  • Bunga putih melambangkan Dewa Iswara (Timur)
  • Bunga merah melambangkan Dewa Brahma (Selatan)
  • Bunga kuning melambangkan Dewa Mahadewa (Barat)
  • Bunga biru atau hijau melambangkan Dewa Wisnu (Utara)

Bagaimana dengan Permen atau Jajan di Canang?

Belakangan ini, kita sering melihat permen, biskuit, atau jajan pasar ikut diletakkan di atas canang atau banten. Hal ini menimbulkan pertanyaan: Apakah hal itu diperbolehkan secara tattwa (filsafat Hindu)?

Menurut beberapa pemangku dan sumber sastra agama Hindu di Bali, banten adalah simbol pengabdian tulus (bhakti marga), bukan tentang mewah atau sederhana, tetapi tentang niat dan kesucian hati.

Namun, secara tattwa (makna spiritual), unsur banten sebaiknya berasal dari alam (seperti bunga, daun, dan buah) karena:

  • Diciptakan langsung oleh Tuhan sebagai wujud panca maha bhuta (lima unsur alam),
  • Memiliki energi murni alami (sattwika).

Sedangkan permen dan jajanan pabrikan termasuk hasil olahan manusia yang sering mengandung unsur kimia atau tidak alami, sehingga kurang sesuai untuk dipersembahkan dalam banten utama seperti canang sari, pejati, atau daksina.

Namun Ada Pengecualian

Permen atau jajan boleh digunakan dalam konteks:

  • Upacara untuk anak-anak, di mana banten dibuat dengan nuansa ringan dan penuh kasih.
  • Persembahan sederhana di rumah, yang dimaksudkan lebih pada ungkap rasa syukur dengan bahan yang ada.
  • Banten tambahan (banten pelengkap), bukan banten utama seperti banten prayascita, suci, atau guru piduka.

Yang paling penting adalah kesucian niat dan kebersihan pikiran saat mempersembahkan, bukan kemewahan bahan.

Kesimpulan

Jadi, permen dan jajan boleh ditempatkan di canang dalam kondisi tertentu, selama tidak menggantikan unsur utama dan tidak mengurangi makna kesucian persembahan itu sendiri. Canang sari tetaplah simbol tulus bakti, bukan simbol kemewahan. Kesucian canang tidak diukur dari bahan, melainkan dari tulusnya hati umat yang mempersembahkan.


Sumber:

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Tuntunan Pembuatan Banten dan Makna Filosofinya, 2021.

I Wayan Sudarsana, Makna Filosofis Banten dalam Upacara Yadnya Umat Hindu Bali, Jurnal Widya Sastra, Vol. 6 No. 2 (2019).

Wawancara Pemangku Pura Desa Adat Tabanan, 2024.


Channel Youtube

Legenda Ratu Niang Sakti: Penjaga Kesucian dan Keseimbangan Alam Bali

On 11:30 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Pulau Bali dikenal dengan beragam kisah suci dan legenda spiritual yang memperkaya nilai-nilai budaya serta ajaran agama Hindu. Salah satu kisah yang sarat makna adalah legenda Ratu Niang Sakti, sosok suci yang dipercaya sebagai pelindung dan penjaga keseimbangan alam serta spiritualitas manusia.

Ilustrasi

Asal Usul Ratu Niang Sakti

Legenda Ratu Niang Sakti berasal dari daerah Bali bagian timur, terutama di kawasan Karangasem dan Bangli, yang dikenal memiliki hubungan erat dengan pura-pura tua peninggalan zaman Majapahit. Dikisahkan bahwa beliau adalah seorang wanita suci (tapini) yang memiliki kesaktian luar biasa. Ia hidup dengan penuh tapa brata, menjauh dari hawa nafsu duniawi, dan mengabdikan diri pada pemujaan kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Karena kesucian dan keteguhannya dalam menjalani kehidupan spiritual, beliau kemudian mencapai tingkat kesempurnaan dan menyatu dengan kekuatan alam. Dari sinilah muncul keyakinan masyarakat bahwa Ratu Niang Sakti adalah manifestasi energi Dewi, pelindung kesucian air dan kesuburan bumi.

Peran Spiritual dalam Kehidupan Masyarakat

Ratu Niang Sakti diyakini hadir untuk menjaga harmoni antara bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (diri manusia). Masyarakat memuja beliau dengan upacara piodalan dan banten suci sebagai ungkapan rasa terima kasih atas perlindungan dari bencana, kekeringan, serta wabah penyakit.

Dalam tradisi Bali, beliau sering disebut sebagai “Ratu Penguasa Tirta”, karena dipercaya menjaga sumber-sumber air suci yang menjadi sumber kehidupan. Tempat-tempat pemujaan kepada beliau biasanya berada di sekitar mata air, danau, atau pura di pegunungan.

Makna Filosofis

Legenda Ratu Niang Sakti mengandung pesan moral yang dalam:

  1. Kesucian hati membawa kesaktian sejati. Kekuatan tidak datang dari kekuasaan, melainkan dari kemurnian jiwa dan ketulusan dalam berbakti.
  2. Alam adalah cerminan spiritual manusia. Menjaga kelestarian alam berarti menjaga keseimbangan diri sendiri.
  3. Perempuan adalah sumber kehidupan. Dalam diri wanita tersimpan kekuatan penciptaan, perlindungan, dan keseimbangan semesta.

Upacara dan Pemujaan

Hingga kini, umat Hindu Bali masih melaksanakan upacara pemujaan Ratu Niang Sakti di beberapa pura seperti:

  1. Pura Beji, tempat memohon kesucian air.
  2. Pura Ulun Danu, sebagai simbol pemujaan kepada kekuatan dewi air.
  3. Pura Dalem dan Pura Penataran Agung, sebagai tempat penyatuan energi purusha-pradhana.

Setiap upacara dilakukan dengan penuh bhakti dan kesadaran bahwa beliau adalah simbol kekuatan ilahi yang menjaga kehidupan di bumi.

Kesimpulan

Legenda Ratu Niang Sakti tidak hanya sekadar kisah mitologis, tetapi juga menjadi panduan spiritual tentang bagaimana manusia seharusnya hidup seimbang dengan alam dan menjaga kesucian batin. Melalui pemujaan dan penghormatan terhadap beliau, masyarakat Bali terus diajak untuk memelihara harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.


Sumber:

Parisada Hindu Dharma Indonesia. “Kisah Dewi dan Dewa dalam Tradisi Bali.” Denpasar, 2020.

I Wayan Mandra, Legenda Bali: Dewi dan Dewa Pelindung Alam. Pustaka Bali, 2019.

Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Arsip Tradisi dan Kepercayaan Lokal Bali. (2022)


Channel Youtube



Awal Mula Hari Raya Galungan dan Sejarahnya

On 6:30 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Hari Raya Galungan merupakan salah satu hari suci terbesar bagi umat Hindu di Bali. Galungan dirayakan setiap 210 hari sekali (satu siklus pawukon) sebagai simbol kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan). Selain sebagai perayaan spiritual, Galungan juga mencerminkan keindahan harmoni kehidupan masyarakat Hindu Bali yang menyatu dengan alam, leluhur, dan Tuhan.

Namun di balik kemeriahan dan makna spiritualnya, Galungan memiliki sejarah panjang dan filosofis yang sangat dalam, yang berakar dari kisah perjuangan melawan kekuatan adharma dalam ajaran Hindu kuno.

Ilustrasi

Asal-usul dan Sejarah Hari Raya Galungan

Kata Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuno “Galung” yang berarti menang. Dalam konteks religius, Hari Galungan adalah simbol kemenangan kebenaran (dharma) melawan kejahatan (adharma)  sebuah pengingat bagi manusia untuk selalu menegakkan kebenaran dalam hidupnya.

Menurut lontar Sundarigama, perayaan Galungan pertama kali terjadi ketika umat manusia berada dalam masa penuh kekacauan spiritual — manusia lupa pada dharma, banyak melakukan kekerasan, dan hidup tanpa arah. Para dewa kemudian menurunkan Dewa Indra untuk memulihkan keseimbangan alam dengan menumpas kekuatan adharma. Kemenangan Dewa Indra inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari Raya Galungan.

Makna Filosofis Hari Galungan

  1. Kemenangan Dharma atas Adharma Galungan bukan sekadar pesta keagamaan, melainkan simbol perjuangan batin setiap individu dalam mengalahkan sifat-sifat negatif seperti amarah, keserakahan, dan kebencian.
  2. Turunnya Leluhur ke Dunia Pada saat Galungan, diyakini roh leluhur (pitara) turun ke dunia untuk menerima persembahan dan berkah dari keturunannya. Karena itu, umat Hindu melakukan persembahyangan di sanggah, merajan, dan pura keluarga untuk menyambut mereka.
  3. Simbol Keseimbangan Hidup Penjor  hiasan bambu yang melengkung di tepi jalan — melambangkan gunung dan kemakmuran, serta menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

Rangkaian Hari Raya Galungan

  1. Penyekeban (3 hari sebelum Galungan) – waktu untuk menahan diri dari nafsu keduniawian.
  2. Penyajahan (2 hari sebelum) – memusatkan pikiran pada kebersihan lahir dan batin.
  3. Penampahan (1 hari sebelum) – simbol perjuangan terakhir melawan sifat negatif dalam diri.
  4. Hari Galungan – puncak upacara pemujaan dan rasa syukur atas kemenangan dharma.
  5. Umanis Galungan – hari kebersamaan dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga.

Setelah sepuluh hari, umat Hindu merayakan Hari Kuningan, sebagai tanda kembalinya roh leluhur ke alam niskala setelah menerima doa dan persembahan dari keluarga di dunia.

Sejarah Galungan di Bali

Catatan tertua tentang perayaan Galungan di Bali ditemukan dalam Prasasti Blanjong (tahun 882 Masehi) pada masa pemerintahan Sri Kesari Warmadewa. Tradisi ini kemudian terus dilestarikan dan menjadi bagian dari sistem kalender pawukon Bali. Hingga kini, Galungan tetap dirayakan secara meriah di seluruh Bali dan di pura-pura Hindu di luar Bali, termasuk di Nusantara dan mancanegara.

Kesimpulan

Hari Raya Galungan bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi juga perjalanan spiritual untuk kembali ke jalan kebenaran, menjaga keseimbangan antara dunia sekala dan niskala, serta mempererat hubungan manusia dengan leluhur dan alam.

Melalui Galungan, umat Hindu diajak untuk selalu menumbuhkan kesadaran bahwa kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, tetapi kemenangan atas diri sendiri.


Sumber:

Lontar Sundarigama, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, 2019.

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Pedoman Hari Raya Galungan dan Kuningan, 2020.

I Gusti Ngurah Bagus, Makna Filosofis Galungan dan Kuningan dalam Tradisi Bali, Udayana Press, 2018.

Prasasti Blanjong, Denpasar, abad IX Masehi.

Makna dan Alasan Umat Hindu Mengadakan Persembahyangan Saat Bulan Purnama

On 11:30 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Dalam ajaran Hindu, Purnama atau bulan purnama memiliki kedudukan istimewa sebagai waktu turunnya sinar suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Dewa Chandra. Bulan penuh dianggap sebagai simbol kesempurnaan, penerangan batin, serta waktu terbaik untuk melakukan penyucian diri dan persembahyangan.

Tradisi persembahyangan pada Hari Purnama telah diwariskan turun-temurun oleh umat Hindu, baik di Bali maupun di seluruh Nusantara, sebagai bagian dari pengamalan ajaran Tattwa, Susila, dan Upacara.

ilustrasi

Makna Spiritual Bulan Purnama

  • Simbol Kesempurnaan dan Keseimbangan Alam Bulan purnama melambangkan titik keseimbangan antara gelap dan terang, antara aspek material dan spiritual. Cahaya bulan yang sempurna menandakan pencerahan rohani yang menghapus kegelapan batin.

  • Energi Kosmis dan Pembersihan Batin Pada malam purnama, energi alam diyakini berada dalam kondisi harmonis dan kuat. Melalui persembahyangan, umat Hindu menyelaraskan vibrasi dirinya dengan energi suci tersebut untuk memperkuat spiritualitas, ketenangan pikiran, dan kesehatan jiwa.
  • Waktu Turunnya Anugerah dan Pemberkatan Banyak lontar seperti Lontar Sundarigama dan Lontar Dharma Kahuripan menjelaskan bahwa malam Purnama adalah waktu Ida Sang Hyang Widhi Wasa memberikan anugerah kepada seluruh makhluk. Karena itu, umat Hindu melakukan pemujaan dan persembahan bunga, dupa, dan canang sari sebagai wujud rasa syukur.

Alasan Umat Hindu Melaksanakan Persembahyangan di Hari Purnama

  1. Menjaga Hubungan Harmonis dengan Alam (Tri Hita Karana)
    Melalui persembahyangan, umat Hindu memperkuat hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta. Purnama menjadi momentum untuk mengembalikan keseimbangan spiritual antara ketiganya.

  2. Waktu Ideal untuk Melakukan Dewa Yadnya
    Hari Purnama dianggap paling baik untuk melaksanakan upacara Dewa Yadnya, seperti persembahyangan di pura, pembersihan diri dengan air suci, atau melaksanakan upacara pembersihan benda-benda sakral.

  3. Refleksi dan Penyucian Diri
    Umat Hindu juga memanfaatkan waktu Purnama untuk introspeksi diri, mengurangi sifat-sifat negatif (asuri sampat), dan menumbuhkan sifat-sifat kebajikan (daivi sampat).

Makna Purnama dalam Kehidupan Modern

Dalam kehidupan modern, Hari Purnama dapat dimaknai sebagai waktu membangun kesadaran ekologis dan spiritual, di mana manusia berhenti sejenak dari rutinitas duniawi dan menyatu dengan energi alam semesta. Persembahyangan bukan hanya ritual, tetapi juga meditasi untuk keseimbangan batin dan harmoni sosial.


Sumber:

Lontar Sundarigama (terbitan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, 2019)

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Pedoman Hari Suci Purnama dan Tilem. 2020.

I Wayan Sujana. Makna Energi Purnama dalam Spiritualitas Hindu. Denpasar: Udayana Press, 2021.


Youtube Channel