Berita Hindu Indonesia

Berita Hindu Indonesia

Media Informasi Terkini Masyarakat Hindu Indonesia

Deskripsi-Gambar

Iklan Leo Shop

Pasang iklan disini

TWITTER

Powered by Blogger.
Vamana Awatara: Kerendahan Hati yang Menaklukkan Kesombongan

On 10:30 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Dalam ajaran Hindu, Dewa Wisnu menjelma ke dunia dalam berbagai awatara untuk menegakkan dharma. Salah satu awatara yang penuh makna simbolis adalah Vamana Awatara (sering disebut “Vawana”), yaitu penjelmaan Wisnu dalam wujud brahmana kecil (dwarf).

ilustrasi

Latar Belakang Vamana Awatara

Kisah ini berkaitan dengan raja asura yang sangat dermawan namun mulai dikuasai ambisi, yaitu Bali atau Mahabali.

Raja Bali dikenal sebagai penguasa yang baik dan suka memberi, namun kekuasaannya semakin meluas hingga menguasai tiga dunia. Hal ini membuat keseimbangan alam terganggu.

Para dewa kemudian memohon pertolongan kepada Wisnu.

Kedatangan Vamana

Wisnu menjelma sebagai seorang brahmana kecil bernama Vamana. datang kepada Raja Bali yang sedang melakukan upacara yadnya.

Dengan penuh kerendahan hati, Vamana hanya meminta:

 “Tiga langkah tanah”

Raja Bali yang dermawan langsung menyetujuinya.

Tiga Langkah Semesta

Setelah permintaan dikabulkan, Vamana berubah menjadi wujud raksasa kosmis:

  1. Langkah pertama: mencakup seluruh bumi
  2. Langkah kedua: mencakup langit dan alam semesta
  3. Langkah ketiga: tidak ada tempat tersisa

Akhirnya, Raja Bali dengan tulus mempersembahkan kepalanya sebagai tempat langkah ketiga.

Makna Filosofis Vamana Awatara

Kisah ini mengandung ajaran mendalam:

  • Kerendahan hati lebih kuat dari kekuasaan
  • Kesombongan, sekecil apa pun, harus dikendalikan
  • Pengorbanan dan ketulusan membawa kemuliaan

Raja Bali justru mendapat berkah karena ketulusannya dan tetap dihormati dalam tradisi Hindu.

Kesimpulan

Vamana Awatara mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu tampak besar. Dengan kerendahan hati dan kebijaksanaan, dharma dapat ditegakkan tanpa kekerasan.


Sumber

Bhagavata Purana Menguraikan kisah Raja Bali dan Vamana secara lengkap.

Vishnu Purana Menjelaskan awatara Wisnu termasuk Vamana.

Vamana Purana Secara khusus membahas kisah Vamana Awatara.


Varaha Awatara: Kisah Penyelamatan Bumi oleh Dewa Wisnu

On 10:00 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Dalam ajaran Hindu, dikenal konsep Dasawatar, yaitu sepuluh penjelmaan dari Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam semesta. Salah satu awatara yang sangat penting adalah Varaha Awatara, penjelmaan Wisnu dalam wujud babi hutan raksasa.

ilustrasi

Latar Belakang Munculnya Varaha Awatara

Pada zaman dahulu, terjadi kekacauan kosmis ketika raksasa bernama Hiranyaksha menculik dan menenggelamkan Bumi (Bhudevi) ke dalam lautan kosmik. Akibatnya, keseimbangan alam semesta terganggu dan kehidupan terancam punah.

Para dewa kemudian memohon pertolongan kepada Dewa Wisnu untuk menyelamatkan bumi.

Perwujudan Varaha

Menanggapi permohonan tersebut, Wisnu menjelma menjadi Varaha, seekor babi hutan raksasa yang sangat kuat. Dengan kekuatan luar biasa, Varaha menyelam ke dasar samudra kosmik untuk mencari dan mengangkat Bumi.

Pertarungan dengan Hiranyaksha

Di dasar samudra, Varaha bertemu dengan Hiranyaksha dan terjadi pertempuran dahsyat. Setelah pertarungan panjang, akhirnya Varaha berhasil mengalahkan raksasa tersebut.

Dengan taringnya, Varaha mengangkat Bumi keluar dari lautan dan mengembalikannya ke posisi semula di alam semesta.

Makna Filosofis Varaha Awatara

  1. Kisah Varaha tidak hanya sekadar cerita mitologi, tetapi mengandung makna mendalam:
  2. Simbol penyelamatan: Wisnu sebagai pelindung yang selalu menjaga keseimbangan dunia.
  3. Kemenangan dharma atas adharma: Kebaikan selalu mengalahkan kejahatan.
  4. Hubungan manusia dengan alam: Bumi harus dijaga dan dihormati sebagai sumber kehidupan.

Kesimpulan

Varaha Awatara menunjukkan bahwa dalam setiap krisis besar, kekuatan dharma akan selalu hadir untuk memulihkan keseimbangan. Kisah ini relevan hingga saat ini, terutama dalam mengingatkan manusia untuk menjaga bumi dan hidup selaras dengan alam.


Sumber Buku 

Bhagavata Purana Canto 3, menjelaskan secara rinci kisah Varaha dan penciptaan alam semesta.

Vishnu Purana Memuat kisah awatara Wisnu termasuk Varaha dalam konteks kosmologi Hindu.

Srimad Bhagavatam Salah satu teks utama yang menguraikan kisah Varaha secara naratif dan filosofis.

The Ten Avatars of Vishnu – oleh Swami Tapasyananda Buku modern yang menjelaskan Dasawatar termasuk Varaha dengan pendekatan teologis.


Kurma Awatara: Sang Kura-Kura Penyangga Alam Semesta

On 3:30 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Kurma Awatara muncul pada masa Satyayuga (Zaman Kebenaran). Jika Matsya Awatara adalah penyelamat dalam wujud ikan, Kurma adalah perwujudan kura-kura raksasa yang menjadi fondasi stabilitas saat dunia kehilangan kekuatannya.

Ilustrasi

Latar Belakang: Samudra Manthana

Kisah ini bermula ketika para Dewa (Deva) kehilangan kekuatan dan keabadian mereka akibat kutukan Resi Durvasa. Untuk mendapatkan kembali kekuatan tersebut, mereka harus mendapatkan Amrita (nektar keabadian) yang tersembunyi di dasar Samudra Ksirarnava (Samudra Susu).

Karena tugas ini terlalu berat, para Dewa bekerja sama dengan para raksasa (Asura) untuk mengaduk samudra tersebut.

Peran Penting Sri Vishnu sebagai Kurma

Untuk mengaduk samudra, mereka menggunakan:

  • Gunung Mandara sebagai tongkat pengaduk.

  • Ular Vasuki sebagai tali penarik.

Namun, saat pengadukan dimulai, Gunung Mandara yang sangat berat mulai tenggelam ke dalam dasar samudra yang berlumpur. Tanpa landasan yang kokoh, upaya tersebut akan gagal. Pada titik inilah Sri Vishnu menjelma menjadi Kurma (kura-kura raksasa) dan masuk ke dasar samudra untuk menyangga Gunung Mandara di atas tempurungnya yang sangat kuat.

"Dengan punggungnya yang luas dan keras, Kurma Awatara menahan beban Gunung Mandara, membiarkan para Dewa dan Asura terus mengaduk samudra tanpa hambatan."

Hasil dari Pengadukan Samudra

Berkat stabilitas yang diberikan oleh Kurma, berbagai harta karun muncul dari samudra, antara lain:

  1. Dewi Lakshmi: Dewi keberuntungan dan kemakmuran.
  2. Dhanvantari: Dewa pengobatan yang membawa kendi berisi Amrita.
  3. Airavata: Gajah putih suci.
  4. Halahala: Racun mematikan yang kemudian diminum oleh Dewa Shiva demi menyelamatkan dunia.

Makna Simbolis Kurma Awatara

  • Stabilitas Spiritual: Mengajarkan bahwa dalam pencarian spiritual (pengadukan pikiran/samudra), seseorang membutuhkan landasan yang kokoh dan kesabaran seperti kura-kura.
  • Pengendalian Diri: Kura-kura yang menarik anggota tubuhnya ke dalam tempurung melambangkan seorang yogi yang menarik indranya dari objek duniawi.
  • Keseimbangan: Menunjukkan bahwa kemajuan (Amrita) hanya bisa dicapai melalui keseimbangan antara kekuatan yang berlawanan (Dewa dan Asura) dengan Tuhan sebagai pusat penyangganya.

Sumber 

Kisah Kurma Awatara diabadikan dalam teks-teks berikut:

Srimad Bhagavatam (Bhagavata Purana): Skanda 8, Bab 5-11.

Vishnu Purana: Bagian 1, Bab 9.

Ramayana (Balakanda): Disebutkan saat menceritakan silsilah dan keagungan para Dewa.

Kurma Purana: Salah satu dari 18 Purana utama yang mengandung ajaran filosofis dari perspektif Kurma Awatara.


Youtube





Matsya Awatara: Penyelamat Kehidupan dan Penjaga Dharma

On 12:29 PM with No comments

Berita Hindu IndonesiaDalam kosmologi Hindu, waktu dipandang sebagai siklus yang berulang. Ketika sebuah siklus dunia (Kalpa) mendekati akhirnya dan kehancuran besar (Pralaya) mengancam seluruh makhluk hidup, Dewa Vishnu turun ke dunia untuk menjaga keberlangsungan alam semesta. Manifestasi pertama dari sepuluh awatara utama (Dashawatara) ini adalah Matsya Awatara, sang ikan raksasa.

Ilustrasi 

Asal-Usul dan Tujuan Turunnya Matsya

Matsya Awatara muncul pada masa transisi antara Satyayuga dan Tretayuga. Tujuan utamanya adalah untuk:

  1. Menyelamatkan Raja Satyavrata (Raja Manu) yang bijaksana agar dapat memimpin umat manusia di siklus berikutnya.
  2. Menjaga benih-benih kehidupan (tumbuh-tumbuhan dan hewan) dari bencana banjir bandang.
  3. Merebut kembali Kitab Suci Weda yang dicuri oleh raksasa bernama Hayagriva saat Dewa Brahma tertidur.

Kisah Pertemuan Raja Manu dan Sang Ikan

Kisah bermula ketika Raja Manu sedang melakukan ritual persembahan air di sungai. Seekor ikan kecil melompat ke tangannya dan memohon perlindungan dari ikan-ikan besar yang ingin memangsanya.

Raja Manu yang welas asih menaruh ikan itu di sebuah kendi. Namun, ikan tersebut tumbuh dengan kecepatan luar biasa. Dari kendi, ia dipindahkan ke kolam, lalu ke sungai, dan akhirnya ke samudra luas. Menyadari bahwa ini bukanlah ikan biasa, Raja Manu bersujud dan memohon sang ikan menunjukkan jati dirinya. Vishnu pun menampakkan diri dan memperingatkan Manu bahwa dalam tujuh hari, banjir besar akan menenggelamkan bumi.

Penyelamatan Selama Pralaya (Banjir Besar)

Sesuai instruksi Vishnu, Manu membangun sebuah kapal besar. Ia membawa serta tujuh resi agung (Saptarsi), benih dari segala jenis tanaman, dan pasangan dari setiap spesies hewan.

Saat banjir melanda, Matsya muncul dengan wujud ikan raksasa bertanduk. Raja Manu mengikat kapal tersebut ke tanduk sang ikan menggunakan ular suci Vasuki sebagai tali. Matsya kemudian menarik kapal tersebut melewati badai dan air bah menuju tempat yang aman di puncak Gunung Himavan. Selama perjalanan, Matsya memberikan wejangan spiritual yang kemudian dikenal sebagai Matsya Purana.

Makna Simbolis Matsya Awatara

  • Adaptasi dan Evolusi: Secara ilmiah, kehidupan dimulai dari air. Matsya sebagai awatara pertama melambangkan tahap awal evolusi kehidupan.
  • Perlindungan Dharma: Menggambarkan bahwa Tuhan selalu hadir untuk melindungi mereka yang taat pada kebenaran (Dharma) di tengah kekacauan.
  • Kelestarian Pengetahuan: Pengembalian kitab Weda melambangkan pentingnya menjaga ilmu pengetahuan suci agar tidak punah ditelan kebodohan (raksasa Hayagriva).

Sumber 

Narasi mengenai Matsya Awatara dapat ditemukan dalam berbagai kitab suci Hindu, antara lain:

Srimad Bhagavatam (Bhagavata Purana): Terutama pada Skanda 8, Bab 24 yang merinci dialog antara Vishnu dan Raja Satyavrata.

Matsya Purana: Salah satu dari 18 Mahapurana yang secara khusus membahas ajaran dan sejarah terkait awatara ini.

Mahabharata (Vana Parva): Resi Markandeya menceritakan kisah ini kepada Pandawa sebagai pengingat akan keagungan Vishnu.

Satapatha Brahmana: Salah satu teks suci kuno yang pertama kali mencatat legenda banjir besar dan ikan penyelamat.


Youtube





 Hari Melasti dan Pegiyesan Segara: Ritual Penyucian Laut dalam Tradisi Hindu Bali

On 10:49 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Upacara Melasti: Penyucian Diri Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, umat Hindu di Bali melaksanakan salah satu rangkaian upacara penting yaitu Upacara Melasti. Ritual ini biasanya dilaksanakan beberapa hari sebelum Nyepi dengan tujuan menyucikan diri, alam semesta, serta benda-benda sakral milik pura.

Dalam pelaksanaannya, umat Hindu membawa pratima, arca suci, serta berbagai simbol keagamaan dari pura menuju sumber air suci seperti pantai, danau, atau mata air. Air laut dipandang sebagai simbol Tirta Amerta atau air kehidupan yang mampu membersihkan segala kotoran lahir dan batin.

Ritual ini tidak hanya dimaknai sebagai penyucian secara fisik, tetapi juga sebagai pembersihan unsur sekala dan niskala (dunia nyata dan spiritual). Dengan demikian, umat Hindu memohon agar kehidupan menjadi harmonis serta perayaan Nyepi dapat berlangsung dengan damai dan suci.

Prosesi Melasti biasanya diiringi dengan gamelan, payung suci, serta barisan umat yang mengenakan pakaian adat Bali. Pemandangan ini menjadi salah satu tradisi spiritual yang paling sakral sekaligus indah dalam budaya Bali.


Pegiyesan Segara: Tradisi Menjaga Kesucian Laut

Selain Melasti, beberapa daerah di Bali juga mengenal tradisi yang berkaitan dengan laut, salah satunya Pegiyesan Segara. Dalam tradisi masyarakat pesisir, laut atau segara dianggap sebagai sumber kehidupan sekaligus ruang suci yang harus dijaga kesuciannya.

Pegiyesan Segara biasanya berkaitan dengan ritual penghormatan kepada penguasa laut serta ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap hasil laut. Tradisi ini memiliki tujuan menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam, terutama wilayah pesisir.

Dalam berbagai tradisi masyarakat Bali, laut dipandang sebagai tempat penyucian dan pusat kekuatan alam. Oleh karena itu, berbagai ritual seperti Melasti, Nyepi Segara, atau tradisi laut lainnya dilakukan untuk menjaga kelestarian alam sekaligus memohon keselamatan bagi masyarakat pesisir.

Makna Filosofis Tradisi Laut di Bali

Ritual Melasti maupun Pegiyesan Segara mencerminkan filosofi penting dalam kehidupan masyarakat Bali, yaitu menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Nilai ini dikenal dalam konsep Tri Hita Karana, yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.

Melalui tradisi tersebut, masyarakat Bali tidak hanya melestarikan budaya leluhur, tetapi juga menanamkan kesadaran spiritual bahwa alam harus dihormati dan dijaga sebagai bagian dari kehidupan.

Sumber:
ANTARA News – Mengenal Upacara Melasti menjelang Nyepi.
ANTARA Foto – Dokumentasi ritual Melasti di Bali.
Discover Bali Indonesia – Penjelasan tentang Melasti sebagai ritual penyucian.
Ceraken Bali Prov – Tradisi ritual laut dan Nyepi Segara.

Tumpek Wayang: Hari Menghadapi Bayangan Diri dan Karma Halus dalam Tradisi Bali

On 10:06 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Di tengah kekayaan tradisi spiritual masyarakat Bali, terdapat satu hari suci yang sarat makna refleksi batin, yaitu Tumpek Wayang. Hari raya ini diperingati setiap Saniscara Kliwon Wuku Wayang dalam kalender Bali dan memiliki makna mendalam terkait kelahiran, karma, serta perjalanan spiritual manusia.

Bagi masyarakat Bali, Tumpek Wayang bukan sekadar hari suci biasa. Hari ini dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk melakukan penyucian diri, khususnya bagi mereka yang lahir pada wuku Wayang. Menurut tradisi, kelahiran pada wuku ini diyakini memiliki kaitan dengan energi spiritual tertentu yang perlu diselaraskan melalui upacara khusus.


Tradisi Sapuh Leger: Penyucian Kelahiran Wuku Wayang

Salah satu ritual penting yang dilakukan pada hari ini adalah Sapuh Leger. Upacara ini biasanya ditujukan kepada anak-anak atau orang yang lahir pada Wuku Wayang. Dalam kepercayaan masyarakat Bali, ritual ini bertujuan membersihkan pengaruh negatif yang dipercaya dapat mengikuti kelahiran tersebut.

Upacara Sapuh Leger sering kali melibatkan pertunjukan wayang kulit yang sarat simbol spiritual. Pertunjukan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana ritual untuk menetralkan energi negatif.

Tokoh yang sering dikaitkan dalam kisah ritual ini adalah Bhatara Kala, sosok mitologis yang dipercaya memiliki keterkaitan dengan kelahiran pada Wuku Wayang. Dalam cerita pewayangan, Bhatara Kala digambarkan sebagai kekuatan alam yang harus diselaraskan melalui ritual agar manusia dapat hidup selaras dengan hukum karma.

Wayang sebagai Simbol Bayangan Diri

Pada hari Tumpek Wayang, seni Wayang Kulit juga mendapat penghormatan khusus. Wayang tidak hanya dipandang sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai simbol filosofi kehidupan.

Bayangan wayang yang dipantulkan di layar melambangkan sisi dalam diri manusia bagian yang sering tersembunyi, seperti ego, keinginan, dan karma masa lalu. Melalui simbol tersebut, Tumpek Wayang mengajak manusia untuk berani melihat dan memahami “bayangan dirinya sendiri”.

Refleksi ini sejalan dengan ajaran dalam Hindu Dharma yang menekankan keseimbangan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Momentum Introspeksi Spiritual

Lebih dari sekadar ritual tradisional, Tumpek Wayang menjadi momentum bagi umat Hindu di Bali untuk melakukan introspeksi diri. Hari ini mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki bayangan batin yang harus dipahami, bukan dihindari.

Melalui doa, persembahan, dan ritual penyucian, masyarakat Bali berupaya menata kembali hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Dalam dunia modern yang serba cepat, makna Tumpek Wayang menjadi pengingat penting bahwa perjalanan spiritual manusia tidak hanya tentang pencapaian luar, tetapi juga tentang keberanian menghadapi diri sendiri dan membersihkan karma yang melekat dalam kehidupan.


Sumber :
Kompas.com – Makna dan tujuan Tumpek Wayang.

Pemerintah Kota Denpasar – Makna Hari Tumpek Wayang.

Pemerintah Kabupaten Buleleng – Upacara Tumpek Wayang sebagai penyucian diri.

Kementerian Agama Kabupaten Bangli – Kajian simbolik Tumpek Wayang.

Bali Post – Makna spiritual Tumpek Wayang dalam tradisi Bali.

Artha Dijalan Dharma Menurut Dasar Kitab Suci Hindu

On 3:01 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Tujuan Hidup dalam Hindu, dikenal dengan Catur Purusha Artha, yaitu: Dharma (kebenaran dan kewajiban), Artha (kekayaan dan kesejahteraan), Kama (kenikmatan dan cinta), serta Moksha (pembebasan rohani). Keempatnya menjadi panduan dalam menjalani kehidupan yang seimbang antara jasmani dan rohani. Artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai Artha sebagai salah satu aspek penting dalam Catur Purusha Artha.

Artha Dijalan Dharma

Pengertian Artha

Secara harfiah, Artha berarti “kekayaan”, namun dalam konteks filsafat Hindu, Artha memiliki makna yang lebih luas: yaitu segala sesuatu yang diperlukan untuk menopang kehidupan yang layak, termasuk harta benda, jabatan, pendidikan, dan segala bentuk sumber daya yang mendukung tercapainya tujuan hidup. Artha bukan hanya soal materi, tetapi juga mencakup keamanan, stabilitas, dan kesejahteraan hidup.

Artha adalah landasan material yang penting agar seseorang dapat melaksanakan Dharma dan menikmati Kama dengan bijak, serta pada akhirnya mencapai Moksha. Namun demikian, pencapaian Artha harus senantiasa diarahkan oleh prinsip Dharma.

Cara Mencari Artha yang Sesuai dengan Dharma

Dalam tradisi Hindu, pencarian Artha tidak boleh sembarangan. Tidak semua cara memperoleh kekayaan dibenarkan. Jalan yang benar dalam mencari Artha harus berdasarkan pada Dharma, yakni aturan moral dan etika yang dijunjung tinggi. Berikut adalah beberapa prinsip dalam mencari Artha yang sesuai dengan Dharma:

  1. Jujur dan Bertanggung Jawab
    Usaha untuk memperoleh kekayaan harus dilakukan dengan kejujuran dan kerja keras. Segala bentuk penipuan, korupsi, dan ketidakadilan adalah penyimpangan dari Dharma.

  2. Sesuai dengan Swadharma (Kewajiban Pribadi)
    Setiap individu memiliki tugas dan peran yang berbeda sesuai dengan profesi, bakat, dan kedudukannya dalam masyarakat. Mencari Artha harus disesuaikan dengan Swadharma masing-masing.

  3. Menghindari Keserakahan
    Keinginan untuk memperoleh Artha harus dibatasi agar tidak menimbulkan ketamakan. Tujuan utama bukanlah menumpuk kekayaan, melainkan mencukupi kebutuhan hidup secara layak dan wajar.

  4. Tidak Mengorbankan Dharma dan Kemanusiaan
    Mencari kekayaan tidak boleh sampai menyakiti sesama makhluk hidup, merusak lingkungan, atau merendahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Menggunakan Artha Secara Bijaksana

Setelah Artha diperoleh dengan cara yang benar, selanjutnya adalah menggunakan dan mengelolanya dengan bijak. Kekayaan yang diperoleh bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga harus menjadi sarana untuk membangun kesejahteraan bersama. Cara menggunakan Artha yang baik antara lain:

  1. Memenuhi Kebutuhan Hidup Secara Wajar
    Artha seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, dan keamanan keluarga.

  2. Berderma dan Melakukan Dana Punia
    Sebagian Artha hendaknya digunakan untuk membantu sesama, baik melalui kegiatan sosial, keagamaan, maupun kebajikan lainnya. Memberi dengan tulus adalah bentuk nyata dari Dharma.

  3. Berinvestasi pada Hal yang Berguna dan Berkelanjutan
    Gunakan kekayaan untuk mendukung pendidikan, pelestarian budaya, pengembangan usaha yang etis, dan perlindungan lingkungan.

  4. Tidak Menjadi Budak Artha
    Artha harus menjadi alat, bukan tujuan akhir. Orang yang terikat secara berlebihan pada kekayaan akan sulit mencapai Moksha. Karena itu, penting untuk tetap menjaga jarak batin terhadap harta benda.

Dasar Kitab Suci Hindu

  • Manusmriti 4.11:
    "Artha dan Kama hendaknya selalu dijalankan sesuai dengan Dharma."
  • Mahabharata:
    "Dharma adalah akar dari Artha dan Kama. Bila Dharma dilanggar, Artha menjadi sumber penderitaan."
  • Bhagavad Gita 3.19:
    "Dengan menjalankan kewajiban tanpa pamrih, seseorang akan mencapai kesempurnaan."

Kesimpulan

Jadi Artha memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Ia adalah pilar penyangga kehidupan yang memungkinkan seseorang menjalankan Dharma, menikmati Kama secara bertanggung jawab, dan akhirnya mencapai Moksha. Namun kekayaan dan kesejahteraan sejati hanya dapat dicapai bila pencapaian dan penggunaannya dilandasi oleh nilai-nilai Dharma. Dengan demikian, Artha tidak menjadi sumber penderitaan, tetapi justru menjadi jalan untuk hidup yang bermakna dan seimbang.


Sumber : GS_Suardika

Karma selingkuh Dalam Hindu Bali

On 3:50 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Dalam ajaran agama Hindu, termasuk yang dianut di Bali, perselingkuhan bukan hanya dianggap pelanggaran terhadap pasangan, tetapi juga pelanggaran terhadap dharma (kebenaran, hukum kosmis). Perilaku ini memiliki konsekuensi karma yang serius, baik secara spiritual maupun sosial.

Makna Selingkuh dalam Pandangan Hindu

Dalam Hindu Dharma, kesetiaan (satya) dan pengendalian diri (brahmacarya) adalah nilai utama dalam hubungan suami istri. Ketika seseorang selingkuh, ia melanggar prinsip dharma grihastha (tata laku kehidupan rumah tangga), yang mengatur tanggung jawab moral, etika, dan spiritual seorang individu dalam pernikahan.

Konsep Karma dalam Selingkuh

Karma adalah hukum sebab-akibat. Segala perbuatan baik maupun buruk akan kembali kepada pelakunya, di kehidupan sekarang maupun yang akan datang. Karma akibat selingkuh antara lain:

  1. Kehilangan keharmonisan rumah tangga
    Selingkuh merusak ikatan suci yang dibangun berdasarkan kepercayaan. Ini menciptakan penderitaan batin, pertengkaran, dan perpecahan.

  2. Mewarisi penderitaan dalam kehidupan berikutnya
    Dalam ajaran Hindu, karma buruk akibat menyakiti pasangan (secara fisik atau batin) bisa terbawa ke kelahiran berikutnya, seperti lahir dalam keadaan tidak bahagia, rumah tangga gagal, atau terus mengalami masalah hubungan.

  3. Menurunnya kualitas spiritual (adharma)
    Orang yang melanggar kesetiaan kehilangan kesucian batin, menjauh dari jalan dharma, dan lebih mudah terjerumus pada keserakahan, nafsu, dan penderitaan mental.

  4. Karma turun ke anak/keturunan (karma wasana)
    Dalam beberapa keyakinan Hindu Bali, penderitaan akibat karma buruk bisa diturunkan ke anak cucu, misalnya dalam bentuk nasib buruk, penyakit turunan, atau masalah sosial.

Penebusan Karma dan Jalan Dharma

Meskipun karma tidak bisa dihapus begitu saja, agama Hindu memberikan jalan untuk membersihkan diri, yaitu:
  • Bertobat dan mengakui kesalahan dengan tulus (prayaschitta)
  • Melakukan karma baik secara terus-menerus (karma yoga)
  • Mengikuti upacara penyucian diri seperti melukat, prayascitta, atau upacara guru piduka jika menyakiti pasangan
  • Mengendalikan hawa nafsu melalui latihan spiritual seperti meditasi, japa mantra, dan belajar sastra suci
  • Memperbaiki hubungan dengan pasangan dan keluarga, karena kehidupan rumah tangga adalah salah satu tahap penting menuju moksha (pembebasan spiritual)

Kesimpulan

Dalam Hindu, selingkuh bukan sekadar kesalahan pribadi, tapi pelanggaran spiritual yang berdampak luas secara karma. Kesetiaan adalah bentuk tertinggi dari dharma dalam rumah tangga. Siapa yang menjaga kesucian hubungan, akan diberkati kebahagiaan dan keharmonisan lahir batin.

Filosofi Ogoh-Ogoh Ratu Mas Mecaling

On 3:16 PM with No comments


Berita Hindu Indonesia - 
Ratu Gede Mas Mecaling adalah sosok mitologi yang sangat terkenal dalam kepercayaan masyarakat Bali, khususnya di kawasan Nusa Penida. Ia dikenal sebagai penguasa alam gaib di Nusa Penida dan dianggap sebagai pemimpin makhluk halus (leak) serta simbol kekuatan besar yang menakutkan dan misterius.

Walaupun sering diasosiasikan dengan kegelapan, Ratu Mas Mecaling juga dipercaya sebagai penjaga keseimbangan alam dan pelindung spiritual jika dihormati dengan benar. Karena itu, ia memiliki peran ganda: bisa menjadi ancaman bagi yang melanggar dharma, tapi juga menjadi pelindung bagi yang taat.

Filosofi dalam Bentuk Ogoh-Ogoh

Dalam perayaan Hari Raya Nyepi, umat Hindu di Bali membuat Ogoh-Ogoh boneka raksasa simbolisasi bhuta kala (unsur-unsur negatif atau kekuatan gelap). Salah satu wujud ogoh-ogoh yang paling ikonik adalah Ogoh-Ogoh Ratu Mas Mecaling. Filosofinya adalah:

  1. Simbol Kekuatan Adharma yang Harus Dinetralisir
    Ogoh-ogoh Ratu Mas Mecaling melambangkan kekuatan adharma (kejahatan, ego, amarah, kebencian) yang hidup di alam dan diri manusia. Dengan membuat wujudnya menjadi besar dan menyeramkan, masyarakat menyadari bahwa kekuatan negatif itu nyata dan bisa menghancurkan jika tidak dikendalikan.

  2. Pengingat Keseimbangan Alam
    Dalam ajaran Hindu Bali, kehidupan harus selalu seimbang antara dharma (kebaikan) dan adharma (kejahatan). Ratu Mas Mecaling tidak hanya dihormati sebagai ancaman, tapi juga sebagai bagian dari tatanan kosmis yang menjaga keseimbangan dunia.

  3. Pemurnian Diri dan Alam Menjelang Nyepi
    Prosesi ogoh-ogoh termasuk Ratu Mas Mecaling dilaksanakan sehari sebelum Nyepi (Tawur Kesanga). Ogoh-ogoh diarak keliling desa dan dibakar di akhir prosesi, sebagai simbol pengusiran unsur jahat dari lingkungan dan pemurnian diri menuju hari penyucian (Nyepi).

  4. Wujud Bhuta yang Bisa Jadi Pelindung
    Menariknya, meskipun berwujud seram, Ratu Mas Mecaling juga diyakini sebagai pelindung jika dihormati dan diberi persembahan secara benar. Ini mencerminkan ajaran Hindu bahwa tidak semua hal gelap harus dimusuhi — yang penting adalah memahami, menghormati, dan menjaga keseimbangan.

Ciri Khas Ogoh-Ogoh Ratu Mas Mecaling

  • Bertubuh besar dan berkulit hitam
  • Memiliki taring panjang dan mata melotot
  • Kadang memegang senjata atau tengkorak
  • Sering digambarkan menguasai makhluk halus atau pasukan leak

Kesimpulan

Ogoh-ogoh Ratu Mas Mecaling bukan sekadar karya seni atau pertunjukan budaya. Ia adalah simbol filosofis tentang pengendalian diri, kesadaran akan kekuatan negatif, dan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebaikan dan kejahatan dalam hidup.

Melalui ogoh-ogoh ini, masyarakat Bali diajak untuk tidak hanya melawan kekuatan luar, tetapi juga menaklukkan bhuta kala dalam diri sendiri seperti amarah, kebencian, dan keserakahan.

Apa Itu Potong Gigi Dan Apa Maknanya?

On 2:55 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Potong gigi atau dikenal sebagai Metatah, Mepandes, atau Mapandes, adalah upacara penyucian diri dalam ajaran agama Hindu, khususnya yang berkembang di Bali. Upacara ini merupakan bagian dari Catur Samskara, yaitu empat tahap upacara dalam kehidupan umat Hindu: Garbhadhana (kandungan), Jatakarma (kelahiran), Upanayana (pendidikan/pendewasaan), dan Antyeshti (kematian).

ilustrasi-Potong Gigi

Potong gigi masuk dalam tahapan Upanayana, yakni upacara pendewasaan atau peralihan dari masa remaja menuju dewasa.

Makna dan Tujuan Potong Gigi

Potong gigi memiliki makna simbolik dan spiritual yang sangat dalam. Dalam ajaran Hindu Dharma, manusia diyakini memiliki Sad Ripu, yaitu enam musuh dalam diri yang harus dikendalikan:

  1. Kama – Nafsu keinginan
  2. Krodha – Amarah
  3. Lobha – Keserakahan
  4. Moha – Kebingungan/bodoh rohani
  5. Mada – Kesombongan
  6. Matsarya – Iri hati

Dengan mengikir enam gigi atas (taring dan seri), simbolisnya adalah menumpulkan atau mengendalikan keenam sifat negatif tersebut. Tujuannya adalah:

  • Menyucikan diri secara spiritual
  • Menandai kedewasaan seseorang secara lahir dan batin
  • Mempersiapkan seseorang untuk hidup lebih bertanggung jawab, termasuk kesiapan menikah

Siapa yang Melakukan?

Upacara ini dilakukan oleh anak laki-laki dan perempuan yang telah beranjak remaja, biasanya saat usia belasan tahun atau ketika dianggap sudah cukup umur secara spiritual dan sosial. Namun, bisa juga dilakukan bersamaan dengan upacara pernikahan atau upacara kematian (bagi yang belum sempat metatah saat hidup).

Rangkaian Upacara

Upacara potong gigi dipimpin oleh seorang pendeta (sulinggih) atau pemangku, dengan diawali serangkaian ritual seperti:
  • Pembersihan diri (melukat)
  • Persembahan kepada leluhur dan dewa-dewa
  • Prosesi pengikiran gigi dengan alat khusus
  • Pemberian nasihat dan doa oleh orang tua dan pendeta
Upacara ini juga diiringi oleh upacara adat dan seni Bali seperti gamelan, tari-tarian, serta sajian sesajen yang khas.

Makna Sosial dan Budaya

Selain sebagai kewajiban keagamaan, potong gigi juga menjadi momen penting dalam kehidupan sosial keluarga Bali. Upacara ini mempererat ikatan keluarga, menunjukkan status sosial, serta melestarikan warisan budaya dan spiritual leluhur.

Kesimpulan

Potong gigi dalam ajaran Hindu bukan hanya tradisi turun-temurun, tetapi sebuah upacara sakral yang mengajarkan pengendalian diri, pendewasaan, dan penyucian jiwa. Ia adalah bentuk nyata dari ajaran Hindu tentang keseimbangan antara dharma (kebenaran), artha (kemakmuran), kama (keinginan), dan moksha (pembebasan).



Paguyuban Karangasem Gelar Anniversary ke-13 Purawanti Darma Sentul, Bogor Jawa Barat

On 11:50 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia – Paguyuban Karangasem se-Jakarta, Banten, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Pakar Jabodetabek), menggelar Anniversary ke-13 bertempat di di Purawanti Darma Sentul, Bogor Jawa Barat pada Minggu, 18 Mei 2025.

Dewan Pembina dan Ketua Umum Pakar

Peringatan hari ulang tahun ketujuh Pakar Jabodetabek tersebut, dihadiri sebanyak 520 anggota, ujar Ketua Umum Pakar IBapak Kolonel (Purn) TNI I Made Gaduh  kepada awak media massa di Jakarta.

Pakar adalah organisasi sosial yang memiliki visi dan misi untuk dapat mewujudkan peningkatan pembangunan SDM dan kegiatan sosial keagamaan dengan target sasaran, baik dalam internal anggota Pakar sendiri, maupun masyarakat di Kabupaten Karangasem, Bali. Ini merupakan salah satu wujud membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia.

seperti disampaikan ketua dewan penasehan pakar I Wayan Warka mengatakan kegiatan tersebut mewujudkan hubungan baik antara Umat Hindu Karangasem yang tinggal di rantaun  dan juga mewujudkan rasa saling kebersamaan dan kehidupan serta ikut andil dalam mendukung pemerintah karangasem.

Foto Bersama

Perayaan HUT Pakar ini dapatijadikan sebagai momentum untuk mempererat dan meningkatkan tali persaudaraan, menjaga persatuan dan kesatuan serta berkontribusi untuk membangun bangsa dan negara, Adapun saat ini Pakar telah banyak melakukan kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan dan keagamaan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu serta anak-anak sekolah yang berprestasi di Kabupaten Karangasem. Melalui Yayasan Purwa Kerthi, Pakar juga telah melakukan upaya penggalangan, dana baik dari internal anggota Pakar maupun dari kegiatan-kegiatan lainnya yang besifat resmi/sah tanpa mengikat, tutur Wayan.

Senada dengan pergerakan Pakar, maka Dalam Rangka Memperingati Hari Suci Nyepi Saka 1947, dan merayakan HUT Ke-13 Paguyuban Karangasem Sejababodetabek, Semeton Paguyuban Karangasem Jababodetabek bertekad untuk memantapkan soliditas dan kekompakan guna memperkokoh kebersamaan dan kesatuan bangsa’.

Hal tersebut merupakan langkah besar Pakar untuk meningkatkan kebersamaan dan kekompakan, khususnya internal anggota Pakar yang saling asah asih asuh dan mendukung pembangunan Kabupaten Karangasem untuk mewujudkan Karangasem yang cerdas, bersih dan bermartabat berlandaskan Tri Hita Karana dan memperkuat serta memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Acara HUT ke 13 Paguyuban Karangasem tersebut juga dihadiri Bapak Gede Pasek Suardika,.

Dalam perayaan kali ini Pakar juga menyerahkan bantuan beasiswa kepada anak-anak yang berprestasi dan kurang mampu. Ke depannya, HUT ini diharapkan tetap dapat dilaksanakan secara berkesinambungan oleh seluruh warga Karangasem perantauan yang ada di Jababodetabek, dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perayaan ulang tahun ini, kata Ketua Umum Pakar Bapak Kolonel (Purn) TNI I Made Gaduh 


Pecalang Tetap Menjadi Simbol Harmoni Antara Tradisi Di Tengah Arus Modernitas dan Globalisasi

On 8:42 PM with No comments

Berita Hindu Indonesia Pecalang adalah satu unsur unik dalam sistem keamanan tradisional Bali yang tetap eksis hingga kini. Mereka merupakan petugas keamanan adat yang bertugas menjaga ketertiban dan kelancaran berbagai kegiatan di lingkungan desa adat. Di tengah derasnya arus modernitas dan globalisasi, pecalang tetap menjadi simbol harmoni antara tradisi dan perkembangan zaman.

  

ilustrasi-Pecalangbali 

Di tengah gemerlap pariwisata Bali yang memukau dunia, ada sosok-sosok berseragam kain kotak hitam-putih dengan ikat kepala yang khas. Mereka berdiri tenang namun tegas di perempatan jalan, di pintu masuk pura, atau di tengah keramaian upacara adat. Mereka adalah Pecalang penjaga tradisi yang tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjadi simbol kearifan lokal yang terus hidup di tengah modernitas.

Pecalang bukan aparat negara. Mereka tidak digaji pemerintah, tidak bersenjata, dan tidak mengenakan seragam ala militer. Namun kehadiran mereka begitu dihormati oleh masyarakat Bali. Mereka adalah bagian dari sistem adat yang diwariskan turun-temurun, dibentuk dan disahkan oleh desa adat atau desa pakraman. Mereka bekerja bukan karena perintah undang-undang, melainkan karena panggilan budaya dan rasa tanggung jawab terhadap harmoni desa.

Kekuatan Pecalang terletak pada kedekatan mereka dengan masyarakat. Mereka bukan orang luarmereka adalah tetangga, saudara, dan kerabat. Karena itulah mereka mengenal betul wilayah tugasnya, memahami kebiasaan warganya, dan tahu bagaimana menjaga keamanan dengan pendekatan yang damai dan humanis. Pecalang mampu menyelesaikan masalah tanpa konflik, karena mereka menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan dialog.

Namun bukan hanya soal keamanan. Pecalang juga menjadi penjaga peradaban Bali. Dalam setiap upacara adat dan keagamaan, mereka menjadi pengatur lalu lintas, pengawal prosesi, dan penjaga kesakralan. Mereka hadir dengan wibawa, namun tetap bersahaja. Dalam pandangan wisatawan, Pecalang adalah cermin keunikan Bali tempat di mana modernitas tidak menggerus tradisi, tetapi justru berdampingan dengannya.

Potensi Pecalang sangat besar. Mereka bisa menjadi mitra strategis pemerintah dalam berbagai urusan sosial, mulai dari pengamanan event besar hingga membantu dalam penanganan bencana. Mereka juga bisa dilibatkan dalam upaya pelestarian budaya, pendidikan karakter berbasis lokal, bahkan dalam pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan.

  1. Peran Pecalang dalam Masyarakat Bali
    Pecalang tidak hanya bertugas saat upacara keagamaan atau adat saja, tetapi juga berperan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Mereka mengatur lalu lintas saat hari raya seperti Nyepi atau Galungan, menjaga ketertiban saat upacara ngaben, hingga membantu dalam penanganan bencana atau kegiatan masyarakat lainnya.

    Meskipun mereka tidak dibekali senjata layaknya aparat keamanan formal, pecalang sangat dihormati karena peran mereka berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal dan spiritualitas. Mereka bertindak berdasarkan keputusan bersama desa adat (banjar) dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab moral dan sosial.

  2. Menjaga Keseimbangan di Tengah Modernitas
    Modernitas membawa perubahan besar di Bali, terutama dengan berkembangnya pariwisata, arus budaya luar, dan teknologi digital. Di tengah perubahan tersebut, pecalang berperan sebagai penjaga nilai-nilai lokal agar tidak tergerus oleh modernisasi yang tidak terarah.

  • Beberapa bentuk adaptasi yang dilakukan pecalang antara lain:
  • Koordinasi dengan aparat formal seperti polisi dan TNI dalam pengamanan event besar. 
  • Penggunaan teknologi seperti komunikasi via ponsel atau radio untuk koordinasi yang lebih cepat. 
  • Pendidikan dan pelatihan bagi pecalang muda agar memahami tugas dalam konteks kekinian.

Namun, yang paling penting, mereka tetap menjunjung tinggi filosofi Tri Hita Karana keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bali.

     3. Simbol Harmoni

Keberadaan pecalang di era modern menjadi simbol bahwa tradisi dan modernitas tidak harus saling menyingkirkan, melainkan bisa saling melengkapi. Pecalang menunjukkan bahwa kearifan lokal bisa menjadi benteng kuat dalam menjaga identitas budaya di tengah globalisasi. 

Pecalang adalah bukti hidup bahwa masyarakat adat Bali mampu berdiri teguh dengan jati dirinya, sembari tetap terbuka terhadap perkembangan zaman. Mereka adalah penjaga harmoni Bali—harmoni yang menjadi napas pulau ini, dan yang membuat Bali tetap menjadi pulau yang penuh pesona, bukan hanya karena alamnya, tetapi karena budayanya yang hidup.



Sumber : portalmediabal 


Ratu Gede Mecaling Dalem Nusa Penida

On 10:48 AM with No comments

Berita Hindu Indonesia - Nusa Penida sebenarnya berasal dari kata, nusa yang artinya pulau, sedangkan kata penida berasal dari kata Pandita, atau pendeta atau brahmana utama. Sebenarnya pandita yang dimaksud adalah Hyang Pasupati atau Bhatara Siwa sebagai raja pandita seluruh jagat.


Bhatara Siwa diyakini turun menuju wilayah tersebut pada tahun saka 50, dan berstana di Gunung Mundhi, disertai permaisuri beliau Dewi Uma. Beliau kemudian menjelma menjadi manusia sakti tanpa tanding, tahu akan segala macam ilmu sastra dan mahir dalam segala macam kepintaran. Singkat katanya beliau menjadi seorang pendeta besar bernama Dukuh Jumpungan. Inilah awal dimana pulau pendeta atau Nusa Pandita yang lama kelamaan menjadi Nusa Penida.

Sedangkan istri dari Dukuh Jumpungan yang merupakan penjelmaan Dewi Uma bernama Ida Bhatari Ni Puri. Pada tahun saka 90, Bhatari Ni Puri melahirkan putra perkasa bernama I Merja. Setelah dewasa, I Merja sama saktinya dengan ibu dan ayahnya. Sama-sama memiliki kedigjayaan yang begitu besar dan gemar akan tapa. Ketika dewasa I Merja menikah dengan seorang gadis dari Loka bernama Ni Luna yang turun ke dunia pada tahun saka 97.

Ni Luna juga senang akan tapa brata. Tempat dimana beliau melakukan yoga kini disebut sebagai Pura Batu Banglas. Dari pernikahan mereka, maka lahirlah seorang putra yang sakti bernama I Renggan. Beliau lahir pada tahun saka 150 dan beliau menikah dengan Ni Merahim yang lahir pada tahun saka 160.

I Renggan yang amat sakti gemar akan tapa memiliki perahu anugrah dari Dukuh Jumpungan. Dengan perahu itulah I Renggan menabrak pulau Nusa hingga terbelah menjadi dua bagian. Yang besar bernama Nusa Gede dan yang kecil bernama Nusa Cenik. Nah sekarang beliau ingin menguji perahu (p.9) dan saktinya kepada rakyat Bali, maka berlayarlah I Renggan Padangbai dan di sana beliau banyak membuat ketakutan rakyat Bali.

Anak buah I Renggan banyak menteror masyarakat di sana dan membawa wabah berupa hama dan banyak menyerang tanaman. Hingga berlarilah masyarakat Bali menuju tempat junjungan mereka, yakni Gunung Agung. Ida Bhatara Hyang Tohlangkir tak berkenan dengan kejadian ini. Kemudian beliau melumpuhkan penyakit yang dibawa oleh I Renggan.

I Renggan yang menikah dengan Ni Merahim memiliki dua orang anak, yang putra bernama I Gede Mecaling dan perempuan bernama Ni Tole, lahir pada tahun saka 180. I Gede Mecaling menikah Sang Ayu Mas Rajeg Bhumi.

Pada tahun 250 saka, Gede Mecaling melakukan tapa di Peed dan pengastawan Ida ditujukan kepada Bhatara Siwa.

Karena saking keras tapa dan brata yang dilakukan oleh Gede Mecaling, maka Bhatara Siwa berkenan memberikan anugerah berupa kesaktian Kanda Sanga. Seketika itu juga Gede Mecaling berubah wujud menjadi sangat menyeramkan. Taringnya panjang dan badannya besar sekali. Suaranya menggetarkan jagat raya, dan oleh sebab itulah kemudian Ida Bhatara Indra turun dari Loka untuk mengatasi ketakutan yang dibuat oleh GedeMecaling.

Bhatara Indra memotong taring dari Gede Mecaling dan membuat jagat tentram kembali. Setelah itu berhasil dilakukan, kemudian I Gede Mecaling kembali melakukan tapa hebat memuja Bhatara Rudra. Dengan ketekunan yang dimiliki oleh Gede Mecaling, maka Ida Bhatara Rudra menjadi asih dan memberikan anugerah kepada I Gede Mecaling berupa lima macam sakti yakni: Taksu kesaktian, taksu pengeger, taksu balian, taksu penolak grubug dan taksu pengadakan mrana.

I Gede Mecaling memimpin semua wong samar dan bebutan-bebutan yang ada di bumi. I Gede Mecaling juga memberikan wewenang sebagai penguasa samudra. Karena menguasai samudra sering juga disebut Ratu Gede Samudra. Gelar dari I Gede Mecaling yang deiberikan oleh Ida Betari Durga Dewi yaitu Papak Poleng dan permaisurinya Sang Ayu Mas Rajeg Bumi diberi gelar Papak Selem. I Gede Ratu Mecaling moksa di Ped dan istrinya moksa di Bias Muntig. Keduanya sekarang sebagai penguasa bumi Nusa Penida dan dapat wewenang sebagai penguasa kematian. Maka bagi umat yang ingin umurnya panjang, sehat, selamat dan lain-lain memohonlah kepada beliau I Gede Mecaling yang akhirnya bergelar Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling. Akan tetapi karena sering ke Bali dan bertemu dengan Ida Bhatari Ratu Niang Sakti, akhirnya Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped juda menjadi Pengabih Ida Bhatari Ratu Niang Sakti

Dalem Sawang menyampaikan pastu yang berbunyi: "Barang siapa yang ingin menyusung Durga Dewi pengastawanya ke dalem Nusa sepatutnya menggunakan kayu perahu sebagai prelingga sarwa mecaling, karena kayu perahu berasal dari pengendrana Ida Bhatara Siwa (Dukuh Jumpungan), maka sidi, sakti, perkasalah dia".

. Ratu Gede Mecaling distanakan dalam Pura Ratu Gede dan diberi nama suci Ida Bhatara Ratu Hyang Agung Ratu Gede Mecaling. Seluruh sakti yang berupa lima macam taksu tadi adalah hal-hal yang menjadi gegambelan Ida Bhatara. Jadi tidaklah mengherankan jika banyak tapakan, balian, jero dalang, topeng, dan penekun kewisesan melakukan tirakat untuk menyenangkan hati Ratu Gede Mecaling agar menerima berkat yang mereka inginkan.

Tidak ada satupun balian yang kalah, tidak ada satu penekun ilmu kewisesan yang kasor jika sudah mendapatkan anugerah dari Ida Bhatara Gede Mecaling. Semuanya akan siddhimandhi, siddhimantra dan siddhi ngucap. Pelinggih beliau adalah ada di Pura Ratu Gede dengan ciri yang berbeda dari pura-pura lain yang terdapat di wilayah Peed. Seluruh busana pura atau wastra pura berwarna poleng. Dari candi bentar, apit lawang, hingga pelinggih utama, semuanya poleng. Itulah cirinya Pura Ratu Gede Mecaling.

Menurut mitologi, hujan di wilayah Klungkung dan sekitarnya adalah ada di bawah penguasaan Ratu Gede Mecaling. Jadi kepada tukang terang dan pawang hujan, jika ingin sukses berkecimpung pada profsesinya, maka jangan abaikan pemujaan kepada Ratu Gede Mecaling Dalem Nusa.

Sumber : Gues Wick Bagus
Mengapa Kita Memeluk Agama?

On 1:59 PM with No comments


Berita Hindu Indonesa - KARENA AGAMA MEMBERIKAN TUNTUNAN HIDUP DAMAI SEJAHTERA, BAHAGIA (JAGADHITA) DAN LEPAS DARI KETERIKATAN KELAHIRAN (MOKSA)

Belakangan ini medsos khususnya digrup yg berbau Hindu diramaikan dgn pro kontra tentang ajaran HK . Mengapa sampai diributkan ? Karena adanya kekhawatiran budaya Bali akan punah oleh budaya india yg dibawa HK. Sudah menjadi hukum kodrat bahwa segala sesuatu bisa bertahan hidup bila bisa menyesuaikan diri dgn keadaan jaman. Contoh dinosaurus punah ribuan tahun yg lalu karena tidak bisa menyesuaikan diri dgn petuBahan iklim saat itu. Demikian juga adat istiadat dan budaya bisa bertahan disebabkan ada masyarakat pendukungnya karena sesuai dgn kebutuhan hidupnya saat ini.


Mengapa banyak orang mengikuti sekte pemujaan tertentu seperti Hare Krisnha, Sai Baba, Brahma Kumari dll ?
Karena mereka menganggap dgn sistem pemujaan yg mereka anut akan lebih cepat tercapai tujuan seperti yg diuraikan diatas yaitu kedamaian, kesejahteraan, kebahagiaan dan kelepasan serta sesuai tuntutan kebutuhan hidupnya saat ini.

Sekarang yg menjadi pertanyaan sudahkah kita umat Hindu di Bali yg beradat istiadat dan berbudaya Bali mampu mengadakan perubahan sehingga sesuai dgn kebutuhan jaman sehingga umat merasa nyaman damai, sejahtera, dan bahagia ? Bagaimana dgn kasus2 adat, beban ayahan yg menjerat sudahkah dicarikan solusi oleh para tokoh kita yg punya kekuasaan untuk itu sehingga tidak tergilas oleh jaman. Kita tidak cukup untuk menyalahkan mereka tanpa mau melakukan perubahan dan perbaikan yg memungkinkan kita tetap hidup dan bertahan dalam hidup yg penuh persaingan disemua sektor. Biasanya manusia sudah kodratnya akan mengikuti apa yg dapat memudahkan hidupnya.

Adat istiadat dan budaya Bali cendrung rumit, tertutup dan aneh.
Rumit : pelasanaan ritualnya 95 % orang tidak mengerti dan tidak mampu membuat sarananya sehingga ritual kebanyakan hasil membeli bukan hasil pelaksanaan sendiri.
Tertutup : kalau ada masyarakat luar mau masuk Hindu sulit diterima dikomunitas orang Bali mau dimasukkan klan /dadia mana

Aneh : ada pola pikir aneh yg menjadi warisan masyarakat Bali, contoh ada orang luar mau masuk Hindu dan ingin menjadi anggota salah satu dadia ternyata tidak bisa diterima kendalanya nanti masalah sembah kesembah. Tapi kalau ada orang mengambil istri orang luar Bali tidak masalah langsung diajak tidak ada masalah. Apa,bedanya orang yg dipakai istri dgn orang yg mau masuk Hindu, sama 2 orang luar Bali.

Ini menjadi kendala berkembangnya Hindu khususnya di Bali . Sy pribadi sudah merubah sistem itu di lingkungan dadia sehingga mau masuk silshkan asal memenhi syarat dan ikut aturan dadia. Kita juga sudah,menyederhanakan ritual tidak seperti dulu. Apa yg bisa dibuat oleh krama itulah yg dipersembahkan

Kalau kita dibali berhasil mengadakan perubahan yg lebih baik maka kita tak perlu khawatir terhadap eksistensi adat istiadat dan budaya Bali bisa berkembang dgn baik,

Sumber : Igede Trawi

Mengapa Masegeh Saat Kajeng Kliwon?

On 1:50 PM with No comments

Berita Hindu IndonesiaKajeng Kliwon, hari pertemuan tri wara “kajeng” dengan Pancawara “kliwon”. Datangnya setiap 15 hari sekali. Kajeng Kliwon adalah hari payogan Sang Hyang Durga Dewi / Bhatari Durga diiringi oleh para bala – bala, rencang - rencang beliau yakni “sarwa buta kala”. Inilah yang sebabnya mengapa pada Kajeng Kliwon aura magisnya sangat kental. Beliau Hyang Durga Dewi sebagai sumber dari segala kesaktian dan kekuatan magis.


Pada hari Kajeng Kliwon, “sang gama tirtha” (umat sedharma) melaksanakan prakerti menghaturkan canang wangi – wangian, pengayatan ditujukan kehadapan Hyang Durga Dewi. Sedangkan di natar sanggah, natar pekarangan dan di lebuh, dihaturkan “segehan” tetabuhan arak berem, ditujukan kepada Sang Tiga Bhucari (Bhuta Bucari, Kala Bucari, Durga Bucari), Sang Adi Kala / Sang Bhuta Raja, dan para bala-balanya yang merupakan para pengiring Hyang Durga Dewi.

Pada hari Kajeng Kliwon, “sang gama tirtha” ngastawa serta menghaturkan sembah bakti kehadapan Hyang Durga Dewi memohon kerahayuan.

Apabila tak pernah menghaturkan segehan, maka Sang Tiga Bhucari akan meminta ijin kepada Hyang Durga Dewi untuk “ngrebeda” mengganggu para penghuni rumah. Mereka menciptakan “gering” (penyakit), mengundang desti, teluh, menyuruh kekuatan hitam dan mahluk gaib seperti tonye, memedi, dll memasuki pekarangan rumah. Sang Bhuta Tiga juga akan menggelar pemunah / pengalah yang menyebabkan situasi rumah menjadi “cemer” tidak suci, muram, tidak nyaman, yang menyebabkan para Betara dan Leluhur tak berkenan lagi “mehyang” di pekarangan itu, lalu kembali ke kayangan. Rumah dan pekarangan menjadi tak terberkati, suwung mangmung. Penghuni rumah menjadi tak nyaman, pikiran kalut, sering sakit, sering mengalami hal aneh, mudah marah, sering salah lihat, sering salah dengar yang menyebabkan salah sangka, salah paham, yang kemudian menjadi sumber dari perselisihan dan pertengkaran.

Upacara Adat Suku Tengger Probolinggo Jawa Timur

On 8:08 AM with No comments


Upacara Suku Tengger

Berita Hindu Indonesia - 
Bak Pengawal yang Setia, Suku Tengger yang tinggal di Kawasan Bromo-Tengger memiliki peranan penting dalam menjaga keluhuran adat dan kesucian kawasan Bromo-Tengger-Semeru. Suku Tengger merupakan sebutan bagi Suku Asli yang mendiami Tengger (dikenal sebagai tanah hila-hila / suci) sejak zaman kerajaan Majapahit, para penghuninya dianggap sebagai abdi di bidang keagamaan.

Mereka hidup sederhana dengan mengandalkan hasil pertanian dan perkebunan, dan memiliki tingkat pertumbuhan penduduk yang rendah. Yang membedakan mereka, dengan suku Jawapada umumnya, misalkan bahasa daerah yang mereka gunakan sehari hari adalah bahasa Jawa Kuno. Sampai saat ini mayoritas Suku Tenggermasih menganut agama Hindu Jawa. Adat istiadat dan budaya para leluhur suku Tenggersangat dipegang teguh hingga kini. Hal ini Tercermin dari masih lestarinya berbagai macam upacara/ritus keagamaan asli dariHindu Tengger.

Upacara adat suku Tengger terdiri dari
(1).Upacara adat yang berhubungan dengankehidupan bermasyarakat suku Tengger, seperti : Hari Raya Karo, Yadnya Kasada dan Unan-Unan,
(2). Upacara adat yang berhubungan dengan siklus kehidupan seseorang, seperti:kelahiran (upacara sayut, cuplak puser, tugel kuncung), menikah (upacara walagara),kematian (entas-entas dll).
(3) Upacara adat yang berhubungan dengansiklus pertanian, mendirikan rumah, dangejala alam seperti leliwet dan barikan. Upacara Yadnya Kasada merupakan ritual tahunan yang dilaksanakan pada malam ke-14 Bulan Kasada. Upacara Kasada diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasansendratari Rara Anteng – Jaka Seger di panggung terbuka Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Sumber :
#slokaweda #hindu #hindunusantara #hindubali #sloka #weda #infobali

@hindu_dharma @bimashindulpg @ukmhinduunila @unhidenpasar @puskorhindunesia @ppkmhdi @pckmhdipalu @pckmhdidenpasar @kmhdijatim @kmhdundip @kmh.telkomuniversity @kmhdunram @kmhdipalembang @kmhipo @kmhdisumsel @kmh_itb @kmhdi.jabar @kmhdiyogyakarta @kmhdipb @kmhb_unj @kmhbstan @kmhdfkugm @kmhd.sampoernauniversity @kmhdisurabaya @pc_kmhdibanjarmasin @kmhdi_bandarlampung @kmhd.isiyk @pc.kmhdi.karangasem @dpnperadahindonesia @peradah_kepri @peradah_sulsel @madewirayasa
PURA MANDALA GIRI SEMERU KABUPATEN LUMAJANG

On 4:03 PM with No comments

Pura Lumajang

Berita Hindu Indonesia - Komunitas agama Hindu ini memiliki tempat ibadah yang bernama Pura Mandara Giri Semeru, yang juga dijadikan sebagai objek wisata religi di Kabupaten Lumajang. Selain masyarakat Hindu di Senduro, pura ini juga sering dikunjungi masyarakat Hindu dari luar daerah Jawa Timur, termasuk dari Bali, terlebih pada saat hari-hari besar keagamaan atau juga pada saat upacara Piodalan (ulang tahun pura) yang diadakan tiap tahun sekitar bulan Juli. Pada upacara ini akan tampak masyarakat Hindu dari berbagai daerah yang memenuhi kawasan pura untuk berdoa dan menampilkan berbagai macam kesenian, termasuk kesenian Bali.

Terletak di sebelah timur kaki Gunung Semeru, di balik berdirinya pura ini ternyata terdapat sebuah cerita yang menarik. Awal pendirian Pura Mandara Giri Semeru di Kecamatan Senduro berkaitan dengan upacara Nuur Tirta, yaitu upacara memohon atau pengambilan air suci ke Patirtaan Watu Kelosot di kaki Gunung Semeru oleh umat Hindu dari Bali. Upacara Nuur Tirta ini merupakan bagian dari proses upacara Agung Karya Ekadasa Rudra di Pura Agung Besakih, yaitu pura yang berlokasi di kaki Gunung Agung di Bali. Pada upacara ini air suci harus dibawa oleh umat Hindu dari kaki Gunung Semeru hingga ke Pura Agung Besakih. Upacara ini awalnya dilakukan pada bulan Maret tahun 1963, yang kemudian dilaksanakan lagi pada tahun 1979. 

Dengan adanya upacara yang diadakan secara berkala tersebut, yang melibatkan umat Hindu baik dari Bali maupun umat Hindu asli sekitar kawasan Gunung Semeru, maka diputuskan untuk mendirikan tempat suci di kawasan yang dalam sejarah dinyatakan sebagai kawasan suci semasa Jawa Kuno ini. Meski awalnya permohonan pendirian pura sempat ditolak Pemerintah karena lokasinya berada di sekitar permukiman masyarakat non-Hindu, namun pada akhirnya terbukti bahwa tampak jelas adanya kerukunan antar umat beragama di daerah sekitar pura ini.

Sumber :
#slokaweda #hindu #hindunusantara #hindubali #sloka #weda #infobali
@jokowi @hindu_dharma @bimashindulpg @ukmhinduunila @unhidenpasar @puskorhindunesia @ppkmhdi @pckmhdipalu @pckmhdidenpasar @kmhdijatim @kmhdundip @kmh.telkomuniversity @kmhdunram @kmhdipalembang @kmhipo @kmhdisumsel @kmh_itb @kmhdi.jabar @kmhdiyogyakarta @kmhd
Proses Penciptaan Alam Semesta Menurut Agama Hindu

On 2:39 PM with No comments

proses pencitaan alam semesta

Pendahuluan
Alam semesta, dalam Hindu disebut dengan Bhuwana agung. Bhuwana  agung juga disebut dengan istilah “makrokosmos, jagat raya, alam besar, brahmanda”. Semua gugusan matahari, bintang, planet, bumi, bulan dan yang menjadi isi alam semesta ini disebut bhuwana agung.
Pada saat ini sering muncul berbagai pertanyaan mengenai alam smesta. Sebenarnya alam semesta ini apa? bagaimana awal dari alam semesta ini? dan siapa yag menciptakan?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering muncul di berbagai kalangan. Dan sejauh ini para ilmuwan sudah melakukan penelitian-penelitian secara mendetail.dari penelitian-penelitian tersebut memunculkan berbagai teori-teori tentang alam semesta/kosmologi. Dan  seiring dengan berjalannya waktu, teori-teori tersebut banyak yang digugurkan para ilmuwan lainnya. Namun dari teori-teori yang sudah ada masih belum bisa diketahui mana yang lebih jelas atau benar.
Penelitian-penelitian tersebut sudah terjadi sejak sebelum masehi hingga sekarang, namun apabila dikaitkan dengan keadaan saat ini masih belum ada teori yang menjelaskan secara pasti. Oleh sebab itu saya akan memaparkan sedikit pengetahuan yang saya ketahui tentang definisi alam semesta menurut ajaran Hindu dan konsep harmoni alam semesta.
Pembahasan
Konsep Harmoni Alam Semesta
a.  Tri Hita Karana
Tri Hita Karana berasal dari kata “Tri” yang berarti tiga, “Hita” yang berarti kebahagiaan dan “Karana” yang berarti penyebab. Dengan demikian Tri Hita Karana berarti “Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan”.
Konsep kosmologi Tri Hita Karana merupakan falsafah hidup tangguh. Falsafah tersebut memiliki konsep yang dapat melestarikan keanekaragaman budaya dan lingkungan di tengah hantaman globalisasi dan homogenisasi. Pada dasarnya hakikat ajaran tri hita karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Ketiga hubungan itu meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan Tuhan yang saling terkait satu sama lain. Setiap hubungan memiliki pedoman hidup menghargai sesama aspek sekelilingnya. Prinsip pelaksanaannya harus seimbang, selaras antara satu dan lainnya. Apabila keseimbangan tercapai, manusia akan hidup dengan menghindari dari pada segala tindakan buruk. Hidupnya akan seimbang, tentram, dan damai.
Hakikat mendasar Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara Manusia dengan Tuhan nya, Manusia dengan alam lingkungannya, dan Manusia dengan sesamanya. Dengan menerapkan falsafah tersebut diharapkan dapat menggantikan pandangan hidup modern yang lebih mengedepankan individualisme dan materialisme. Membudayakan Tri Hita Karana akan dapat memupus pandangan yang mendorong konsumerisme, pertikaian dan gejolak.
b. Manusia dengan Alam Lingkungan
Manusia hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Manusia memperoleh bahan keperluan hidup dari lingkungannya. Manusia dengan demikian sangat tergantung kepada lingkungannya. Oleh karena itu manusia harus selalu memperhatikan situasi dan kondisi lingkungannya. Lingkungan harus selalu dijaga dan dipelihara serta tidak dirusak. Lingkungan harus selalu bersih dan rapi. Lingkungan tidak boleh dikotori atau dirusak. Hutan tidak boleh ditebang semuanya, binatang-binatang tidak boleh diburu seenaknya, karena dapat menganggu keseimbangan alam. Lingkungan justu harus dijaga kerapiannya, keserasiannya dan kelestariannya. Lingkungan yang ditata dengan rapi dan bersih akan menciptakan keindahan. Keindahan lingkungan dapat menimbulkan rasa tenang dan tentram dalam diri manusia.
Kesimpulan

Pokok ajaran Tri Hita karana dalam bagian manusia dengan alam/ lingkungan karena manusia hidup dalam lingkungan dan proses penciptaan alam semester disebut dengan dengan Bhuwana agung. Bhuwana  agung juga disebut dengan istilah “makrokosmos, jagat raya, alam besar, brahmanda”. Semua gugusan matahari, bintang, planet, bumi, bulan dan yang menjadi isi alam semesta ini disebut bhuwana agung.